Harga Bitcoin Rebound ke US$ 80.000-an, Kekhawatiran Peretasan Binance Mereda
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Harga Bitcoin kembali menembus ke atas level US$80.000 pada perdagangan Rabu (4/11/2026) malam waktu Asia, seiring meredanya kekhawatiran investor terhadap dampak peretasan Binance. Sentimen pasar membaik setelah bursa kripto tersebut mengumumkan bahwa 98% dana yang terdampak telah berhasil dipulihkan. Harga BTC pada Kamis (5/11/2026) pukul 07.11 WIB juga masih bertahan dia atas level psikologis tersebut, tepatnya naik 4,14% dalam sehari ke US$ 80.585.
Binance menyatakan proses pemulihan sisa 2% dana akan membutuhkan waktu lebih lama karena aset kripto tersebut memiliki likuiditas yang relatif rendah. Meski demikian, perusahaan tetap berkomitmen mengganti seluruh dana yang dicuri dalam insiden peretasan tersebut.
Meredanya kekhawatiran terhadap potensi penarikan dana massal (bank run) juga didukung oleh langkah Binance yang menyatakan akan menanggung seluruh kerugian. Selain itu, penerbit stablecoin membekukan hampir US$3 miliar dalam bentuk USDC dan USDT terkait insiden tersebut.
Dari sisi likuiditas, Binance dilaporkan mengelola aset sekitar US$129 miliar. Nilai dana yang dicuri dalam peretasan tersebut hanya mencakup sebagian kecil dari total aset yang dikelola. Kondisi ini meredakan kekhawatiran terhadap potensi penurunan nilai aset nasabah (haircut) maupun risiko insolvensi.
Baca Juga
Jelang Pemilu Sela AS, Pakar Sebut Kenaikan Bitcoin US$ 100.000 Sulit Tercapai Tahun Ini
Data DeFiLlama menunjukkan arus keluar bersih dana dari Binance dalam 24 jam turun menjadi US$3,3 miliar, setelah sebelumnya mencapai puncak US$7 miliar. Penurunan tersebut terjadi setelah Binance kembali membuka layanan penarikan untuk sejumlah aset kripto.
Namun, tekanan terhadap pasar Bitcoin belum sepenuhnya hilang. Sejak 30 Oktober, ETF Bitcoin spot mencatatkan arus dana keluar (outflow) sekitar US$1 miliar. Perkembangan volume perdagangan di Binance dan bursa global lainnya serta arus dana ETF akan menjadi indikator untuk mengukur respons investor terhadap insiden keamanan tersebut.
Dari sisi teknikal, Bitcoin masih bergerak dalam rentang harga yang dipengaruhi persaingan likuiditas beli dan jual.
Salah satu pendiri sekaligus CEO Hyblock, Shubh Varma, mengatakan data on-chain dan order book menunjukkan permintaan beli Bitcoin terkonsentrasi pada kisaran US$74.000 hingga US$76.000 di Binance, Coinbase, dan Hyperliquid.
Menurut dia, jumlah pesanan beli yang berada 2% hingga 5% di bawah harga pasar saat ini mencapai sekitar 2,5 kali lipat dibandingkan pesanan jual.
Bitcoin juga mampu mempertahankan kisaran US$76.100 hingga US$76.300 dalam dua kali pengujian ulang (retest) sejak insiden peretasan Binance.
Varma menambahkan, aktivitas pembelian di pasar spot dalam enam jam terakhir lebih tinggi dibandingkan aktivitas pedagang di pasar berjangka (futures). Kondisi tersebut mengindikasikan sebagian pelaku pasar memanfaatkan penurunan harga untuk melakukan akumulasi.
Dia juga mencatat area US$76.000 menjadi zona dengan konsentrasi likuidasi posisi long berleverage terbesar. Dengan demikian, level tersebut masih menjadi area dukungan penting bagi pergerakan Bitcoin.
Baca Juga
Insiden Binance Picu Tekanan Pasar Kripto, Harga Bitcoin Terkoreksi 7,25% pada Oktober
Ke depan, perhatian pelaku pasar kripto juga tertuju pada arah kebijakan moneter bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve (The Fed), terutama menjelang keputusan suku bunga pada Desember.Selain kebijakan suku bunga, perkembangan politik Amerika Serikat, rencana penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) Anthropic, serta dinamika geopolitik turut menjadi faktor yang berpotensi memengaruhi pasar keuangan global.
Pelaku pasar juga mencermati perkembangan konflik Iran dan dampaknya terhadap harga minyak, emas, obligasi, indeks dolar AS (DXY), serta inflasi. Berbagai faktor tersebut akan memengaruhi ekspektasi investor terhadap kebijakan moneter dan aset berisiko, termasuk Bitcoin, hingga akhir tahun.
