Saham UNTR Dibayangi Risiko MSCI, Begini Target Harga Barunya
JAKARTA, investortrust.id – Prospek pemulihan operasional PT United Tractors Tbk (UNTR) pada 2026 masih terbuka, ditopang peningkatan volume pekerjaan kontraktor pertambangan dan membaiknya bisnis emas. Namun, tekanan biaya operasional serta persaingan industri yang ketat berpotensi membatasi pertumbuhan laba emiten tersebut.
Kondisi itu mendorong BRI Danareksa Sekuritas tetap mempertahankan rekomendasi beli saham UNTR, meski target harga dipangkas menjadi Rp 27.700 dari sebelumnya Rp 30.600. Pada perdagangan Rabu (4/11/2026), saham UNTR ditutup melemah Rp 175 atau 0,76% ke level Rp 23.000.
Sebaliknya dalam riset yang dirilis Rabu (4/11/2026), BRI Danareksa Sekuritas merevisi naik estimasi laba UNTR untuk 2026 sebanyak 4,1%. Revisi tersebut sejalan dengan peningkatan proyeksi volume pekerjaan PT Pamapersada Nusantara (PAMA). Namun, prospek laba untuk tahun-tahun berikutnya justru mengalami penyesuaian. BRI Danareksa Sekuritas memangkas estimasi laba UNTR masing-masing sebesar 9,3% untuk 2027 dan 18,1% untuk 2028.
Baca Juga
United Tractors (UNTR) Raup Laba Rp 7,9 Triliun hingga Kuartal III-2026
Pemulihan kinerja kontraktor pertambangan PAMA menjadi salah satu katalis positif bagi UNTR. Prospek bisnis tersebut turut didukung peningkatan revisi Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) batu bara nasional dari 600 juta ton menjadi 700 juta ton.
Sejalan dengan perubahan tersebut, UNTR menaikkan panduan pengupasan lapisan tanah penutup atau overburden removal (OB) PAMA pada 2026 menjadi 1.025 juta bank cubic meter (bcm), dari sebelumnya 950 juta bcm. Target produksi batu bara juga meningkat menjadi 146 juta ton dari 135 juta ton.
BRI Danareksa Sekuritas memperkirakan volume pengupasan lapisan tanah penutup PAMA pada 2026 mencapai 1.056 juta bcm atau meningkat 9,6% dibandingkan proyeksi sebelumnya. Sementara itu, pertumbuhan bisnis dalam dua tahun mendatang diperkirakan terutama berasal dari pelanggan eksisting.
Baca Juga
United Tractors (UNTR) Bagikan Dividen Interim Kedua Rp 430 per Saham, Intip Jadwalnya
Meski demikian, pemulihan bisnis batu bara UNTR masih menghadapi kendala logistik. Kendati kuota produksi batu bara PT Tuah Turangga Agung (TTA) meningkat menjadi 12,4 juta ton, manajemen tetap mempertahankan panduan penjualan 2026 sebesar 10 juta ton.
Keputusan tersebut mempertimbangkan kondisi permukaan air sungai yang rendah dan berlangsung lebih lama dari perkiraan sehingga menghambat pengiriman batu bara. Sebaliknya BRI Danareksa Sekuritas memangkas proyeksi penjualan batu bara UNTR pada 2026 sebesar 20% menjadi 10,2 juta ton. Namun, penjualan diperkirakan kembali meningkat menjadi 12,7 juta ton pada 2027 apabila kondisi logistik membaik.
Selain kontraktor pertambangan dan batu bara, bisnis alat berat juga menjadi perhatian investor. Manajemen UNTR mempertahankan panduan penjualan alat berat Komatsu pada 2026 sebanyak 4.000 unit, sesuai dengan perkiraan BRI Danareksa Sekuritas. Namun, persaingan di pasar alat berat masih tergolong ketat sehingga berpotensi membatasi pertumbuhan bisnis perseroan.
Di sisi lain, bisnis emas mulai menunjukkan pemulihan setelah operasional tambang Martabe kembali berjalan pada Mei 2026. Perbaikan tersebut tercermin dari peningkatan penjualan emas pada kuartal III 2026. Manajemen memperkirakan izin pembukaan fasilitas penampungan tailing dapat diperoleh pada November 2026. Sementara itu, pembangunan fasilitas filtrasi masih berlangsung.
BRI Danareksa Sekuritas memproyeksikan penjualan emas UNTR mencapai 85.000 ons pada 2026. Volume tersebut diperkirakan meningkat menjadi 155.000 ons pada 2027 dan 212.000 ons pada 2028.
Risiko MSCI Membayangi
Di tengah prospek pemulihan operasional, BRI Danareksa Sekuritas justru menurunkan asumsi margin kotor UNTR untuk 2027 dan 2028 menjadi 21%. Sebelumnya, asumsi margin kotor masing-masing berada di level 23% dan 24%. Penyesuaian tersebut mencerminkan potensi kenaikan biaya bahan bakar serta persaingan yang semakin ketat di bisnis kontraktor pertambangan dan alat berat.
Baca Juga
Transparansi Diperketat, BEI dan KSEI Ungkap Afiliasi Pemegang Saham Emiten di Atas 1%
Tak hanya dari sisi fundamental, saham UNTR juga menghadapi risiko dari evaluasi indeks MSCI pada 11 November 2026. Kapitalisasi pasar saham beredar bebas (free float market capitalization) UNTR telah turun menjadi sekitar US$ 1,5 miliar. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan risiko saham UNTR dikeluarkan dari MSCI Standard Index.
BRI Danareksa Sekuritas juga menyoroti sejumlah risiko lain, antara lain pemulihan penjualan batu bara yang lebih lemah dari perkiraan serta peningkatan produksi emas yang berjalan lebih lambat. Hal ini mendorong BRI Danareksa Sekuritas memangkas turun target harga saham UNTR menjadi Rp 27.700 dengan rekomendasi tetap dipertahankan beli.
Pemulihan volume pekerjaan PAMA dan peningkatan penjualan emas menjadi penopang prospek perseroan. Sedangkan tekanan margin, kendala logistik, persaingan industri, serta risiko evaluasi MSCI masih perlu dicermati investor.
