IHSG Makin Terpuruk Jatuh ke 4.963, Analis Sebut Tren Penurunan Belum Selesai
JAKARTA investortrust.id – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) ditutup anjlok pada perdagangan sesi I, Selasa (3/11/2026). IHSG melemah 133,77 poin atau 2,62% ke level 4.963,06. Penurunan sejalan dengan kejatuhan seluruh sektor saham, khususnya big cap.
Analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana mengatakan, pelemahan IHSG masih sejalan dengan proyeksi teknikal yang menunjukkan tren penurunan atau downtrend belum berakhir. “Pelemahan IHSG ini masih sejalan, dimana kami memperkirakan downtrend IHSG belum selesai dan rawan melanjutkan koreksinya,” ujar Herditya kepada investortrust.id Selasa, (3/11/2026).
Selain tekanan teknikal, Herditya menilai pergerakan IHSG juga dibayangi pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Rupiah berada di level Rp18.157 per dolar AS. Di saat bersamaan, imbal hasil (yield) obligasi pemerintah Indonesia tenor 10 tahun meningkat ke level 7,7%.
Baca Juga
IHSG Sesi I Ditutup Anjlok Signifikan 2,62% ke Bawah 5.000, Saham Big Bank Berguguran
Sementara itu, Senior Technical Analyst PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia Muhammad Nafan Aji mengatakan, pelaku pasar tengah mencermati sejumlah sentimen global dan domestik yang berpotensi memengaruhi pergerakan IHSG. Dari eksternal, salah satu perhatian pasar tertuju pada pemilihan paruh waktu Amerika Serikat (US midterm elections) pada 3 November 2026.
“Dari sisi global, para pelaku pasar akan menyoroti US midterm elections pada 3 November 2026 karena menjadi katalis penting yang berpotensi meningkatkan volatilitas pasar global,” kata Nafan saat dihubungi investortrust.id
Menurutnya, hasil pemilu akan menentukan konfigurasi kekuatan politik di Kongres dan memengaruhi arah kebijakan pemerintahan Donald Trump, terutama terkait regulasi industri teknologi, pembangunan infrastruktur pusat data, kebijakan fiskal, serta sektor pertahanan dan kesehatan.
Apabila Partai Demokrat berhasil menguasai DPR maupun Senat, terdapat potensi peningkatan pengawasan terhadap perusahaan teknologi dan investasi pusat data. Hal tersebut dapat memunculkan ketidakpastian baru bagi saham-saham berbasis kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Baca Juga
PMI Manufaktur Tertinggi dalam 31 Bulan, Menperin: Industri RI Bergerak ke Arah Lebih Baik
Sebaliknya, apabila Partai Republik mampu mempertahankan kendali Kongres, kesinambungan kebijakan pemerintahan Trump relatif lebih terjaga.
Kendati demikian, Nafan mengingatkan bahwa dampak pemilu perlu dilihat secara proporsional. Faktor fundamental ekonomi dan kinerja korporasi tetap menjadi penentu utama arah pasar dalam jangka menengah hingga panjang.
Di sisi komoditas, penurunan harga minyak mentah Brent yang sempat melemah sekitar 7,6% ke level US$104,81 per barel turut memberikan sentimen positif bagi pasar saham karena meredakan sebagian kekhawatiran terhadap tekanan inflasi energi.
Baca Juga
Data Center Cikarang Full Booked! NeutraDC Siapkan Ekspansi Besar-besaran
Penurunan tersebut dipicu munculnya harapan penyelesaian diplomatik konflik AS-Israel dengan Iran yang berpotensi mengurangi risiko gangguan pasokan minyak global. “Apabila harga energi terus terkendali, tekanan inflasi dapat berkurang sehingga memberikan ruang lebih besar bagi stabilitas kebijakan moneter,” ujarnya.
Namun, perkembangan geopolitik masih perlu diperhatikan karena eskalasi konflik berpotensi kembali meningkatkan harga energi dan memicu volatilitas pasar keuangan internasional.
Terlebih, ucap Nafan, apabila Partai Republik mampu mempertahankan kendali Kongres, hal tersebut berpotensi mendukung kebijakan politik luar negeri Trump yang keras terhadap Iran, termasuk ancaman militer, pengiriman armada tempur AS ke kawasan, serta pernyataan kesiapan mengontrol dan memberlakukan blokade ketat di Selat Hormuz.
Domestik Bebani IHSG
Dari dalam negeri, Nafan menyebut sejumlah sentimen yang perlu dicermati investor, mulai dari perkembangan reformasi pasar modal, aksi jual investor asing, stabilitas nilai tukar rupiah, hingga penantian evaluasi MSCI berikutnya pada 11 November 2026. “Tekanan terhadap IHSG masih cukup besar karena konsistensi net sell asing secara harian,” kata dia.
Baca Juga
Rupiah Bergerak Menguat ke Posisi Rp 18.149 per Dolar AS pada Selasa
Selain itu, pelemahan rupiah yang berada di kisaran Rp18.156 per dolar AS turut menjadi tantangan karena dapat meningkatkan persepsi risiko investasi di pasar domestik. Meski demikian, sejumlah indikator fundamental ekonomi Indonesia masih menunjukkan kondisi solid. Inflasi Oktober tercatat melandai ke level 3,23% secara tahunan (year-on-year/YoY).
Neraca perdagangan Indonesia juga mencatat surplus sebesar US$3,36 miliar pada September 2026. Sementara itu, aktivitas manufaktur masih berada di zona ekspansif, tercermin dari Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Oktober yang meningkat menjadi 54,0 dari sebelumnya 52,4.
