Jelang Pemilu Sela AS, Pakar Sebut Kenaikan Bitcoin US$ 100.000 Sulit Tercapai Tahun Ini
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Menjelang pemilu sela Amerika Serikat (AS) pada Selasa (3/11/2026), Financial Expert Ajaib Panji Yudha menilai arah Bitcoin dalam jangka pendek lebih ditentukan oleh kebijakan moneter The Fed ketimbang hasil Pemilu. Dengan pasar kini bersiap menghadapi kenaikan suku bunga pada Desember, Bitcoin diperkirakan bergerak terbatas hingga penghujung 2026.
“Dalam jangka pendek, kebijakan moneter The Fed jauh lebih dominan dibanding pemilu. Pasar kini justru bersiap menghadapi pengetatan di akhir tahun, kondisi yang secara historis kurang bersahabat bagi aset berisiko seperti Bitcoin,” ujar Panji dalam keterangan yang diterima, Senin (2/11/2026).
Adapun The Fed menahan suku bunga di 3,75–4,00% pada akhir Oktober. Namun, Panji mencatat keputusan tersebut tidak bulat. Ada anggota FOMC yang memilih berbeda dan menginginkan kenaikan suku bunga, sinyal bahwa arah kebijakan mulai condong hawkish. Pasar pun mulai mengantisipasi skenario tersebut. Berdasarkan CME FedWatch, probabilitas kenaikan suku bunga 25 basis poin ke 4,00–4,25% pada FOMC 9 Desember mencapai 69,8%, sementara peluang suku bunga ditahan hanya 30,2%. Untuk FOMC 27 Januari 2027, pasar memperkirakan suku bunga bertahan di 4,00–4,25% dengan probabilitas 59,4%.
Menurut Panji, dampaknya sudah terlihat pada arus dana institusi. ETF spot Bitcoin mencatat net outflow US$ 515 juta sepanjang Oktober, berbalik dari inflow US$ 2,65 miliar pada September. Ini menjadi outflow bulanan pertama sejak Juni.
“Total aset kelolaan ETF turun ke US$ 98,14 miliar, kembali di bawah US$ 100 miliar untuk pertama kalinya sejak Agustus. Bitcoin sendiri menutup Oktober dengan koreksi 7,32%,” jelasnya.
Baca Juga
Insiden Binance Picu Tekanan Pasar Kripto, Harga Bitcoin Terkoreksi 7,25% pada Oktober
Berbeda dengan kebijakan The Fed, Panji menilai pengaruh Pemilu sela lebih bersifat sentimen jangka pendek. Ia sependapat dengan Grayscale bahwa hasil pemilu hanya berdampak di pinggiran terhadap pasar kripto.
“Dukungan terhadap kripto kini bersifat lintas partai, terlihat dari pengesahan GENIUS Act secara bipartisan. Selain itu, AS hanya menyumbang sekitar 15–20% aktivitas kripto global,” kata Panji.
Jika Partai Demokrat menguasai Kongres sesuai proyeksi pasar prediksi, risiko utamanya adalah melambatnya pembahasan regulasi struktur pasar kripto, bukan perubahan arah industri. Yang perlu diwaspadai justru lonjakan volatilitas pekan ini. Pemilu pada Selasa (3/11/2026) berdekatan dengan rilis data Non-Farm Payrolls pada Jumat (6/11/2026), yang akan menjadi salah satu penentu apakah The Fed benar-benar menaikkan suku bunga pada Desember.
Menanggapi ekspektasi reli Bitcoin setelah pemilu, Panji meluruskan bahwa data historis tidak menunjukkan reli langsung pasca Pemilu sela. Kinerja Bitcoin pada November di tahun midterm justru beragam, dan tahun midterm secara keseluruhan cenderung merah. Dua dari tiga tahun midterm tersebut bahkan membentuk titik dasar pasar bearish, yakni pada Desember 2018 dan November 2022.
“Reli yang sesungguhnya terjadi dalam 12 bulan setelah midterm, di mana BTC selalu ditutup positif. Pola ini sejalan dengan pasar saham AS yang secara historis menguat setelah pemilu sela, seiring hilangnya ketidakpastian politik,” jelas Panji.
Namun, ia mengingatkan bahwa pola tersebut juga bertepatan dengan siklus empat tahunan Bitcoin, sehingga tidak murni efek pemilu. Tahun ini pola awalnya kembali terlihat, dengan BTC masih turun 10,41% secara year to date. Karena itu, peluang pola historis terulang tetap ada, tetapi dalam horizon menengah hingga 2027.
Dari sisi musiman, November memang tercatat sebagai bulan kuat dengan rata-rata return +34,95%. Namun, angka tersebut terdistorsi lonjakan ekstrem 453,6% pada 2013, sehingga median return November sebesar +10,26% dinilai lebih representatif. Panji juga mencatat Oktober, yang secara historis rata-ratanya +24,11%, gagal memenuhi polanya tahun ini.
Panji menilai target US$ 100.000 pada pertengahan November hingga akhir Desember kurang realistis. Dari harga penutupan Oktober di US$ 77.434, BTC membutuhkan kenaikan sekitar 29%. Jika menggunakan median return historis November (+10,26%) dan Desember (+2,10%), proyeksi harga akhir tahun berada di kisaran US$ 87.000.
Baca Juga
Suku Bunga The Fed Bertahan, Prospek Bitcoin Masih Dibayangi Ketidakpastian
Secara struktur harga, BTC juga masih harus melewati dua lapisan resistance:
● US$ 81.500, estimasi rata-rata harga beli investor ETF. Selama BTC di bawah level ini, banyak investor institusi dalam posisi rugi, sehingga berpotensi muncul aksi jual di titik impas saat harga kembali ke sana.
● US$ 85.870, resistance kuat yang berulang kali menahan reli BTC selama dua bulan terakhir. Area ini berdekatan dengan level US$ 87.000, tempat mayoritas investor yang membeli dalam dua tahun terakhir masuk, sehingga tekanan jual di sekitarnya cenderung besar.
“Skenario dasar kami, BTC bergerak dalam rentang US$ 76.000 sebagai support dinamis MA-100 harian hingga resistance dinamis MA-100 mingguan di sekitar US$ 90.000 sampai akhir tahun. Jika mampu breakout di atas US$ 85.870, target tertinggi yang realistis berada di kisaran US$ 90.000,” papar Panji.
Menurutnya, skenario menuju US$ 100.000 baru terbuka jika ada katalis kuat, seperti meredanya ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed pada Desember dan kembalinya arus masuk ETF secara konsisten. Sebaliknya, jika support US$ 76.000 ditembus, risiko koreksi lanjutan terbuka lebih lebar.
