Saham Berjangka AS Menguat Jelang Pemilu Sela, Dow Futures Lompat 100 Poin
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id – Kontrak berjangka saham Amerika Serikat (AS) menguat pada perdagangan Minggu (1/11/2026) waktu AS. Investor bersiap menghadapi pekan yang padat dengan rilis laporan keuangan perusahaan, data ketenagakerjaan, serta pemilihan paruh waktu AS yang berpotensi memengaruhi sentimen pasar.
Kontrak berjangka S&P 500 naik 0,3%, sedangkan Nasdaq-100 menguat 0,4%. Sementara itu, kontrak berjangka Dow Jones Industrial Average bertambah 116 poin atau 0,2%.
Baca Juga
Penguatan tersebut terjadi setelah ketiga indeks utama Wall Street mencatat penurunan mingguan akibat tekanan jual pada saham teknologi. Investor semakin selektif terhadap perusahaan yang terkait dengan pengembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), terutama di tengah meningkatnya perhatian terhadap besarnya belanja modal untuk teknologi tersebut.
Sepanjang pekan sebelumnya, indeks S&P 500 dan Dow Jones masing-masing turun kurang dari 1%. Sementara itu, Nasdaq Composite melemah 2%.
Tekanan terhadap saham teknologi muncul setelah sejumlah perusahaan besar memberikan proyeksi belanja modal yang lebih rendah daripada ekspektasi pasar atau tidak meningkatkan panduan belanja mereka.
Alphabet dan Microsoft melaporkan proyeksi belanja modal yang lebih rendah daripada perkiraan investor. Amazon juga mempertahankan panduan belanja modal setahun penuh, sehingga memunculkan pertanyaan mengenai kecepatan ekspansi investasi infrastruktur AI.
Padahal, pekan sebelumnya sempat dimulai dengan sentimen positif setelah Anthropic secara terbuka mengajukan dokumen penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO). Perkembangan tersebut sempat mendorong saham-saham terkait AI.
Namun, optimisme itu tidak bertahan lama. Investor kembali melepas saham teknologi seiring meningkatnya kekhawatiran mengenai prospek pengeluaran AI dan kemampuan perusahaan menghasilkan keuntungan dari investasi besar yang telah dilakukan.
Warren Pies dari 3Fourteen Research menilai tekanan terhadap saham AI belum menunjukkan kerusakan mendasar pada prospek bisnis sektor tersebut.
“Saya tidak melihat ada sesuatu yang secara fundamental rusak dalam perdagangan saham AI,” kata Pies dalam program CNBC Closing Bell Overtime, Jumat (30/10/2026).
Menurut dia, persoalan teknikal pasar menjadi isu yang berbeda dari fundamental bisnis AI. Ia juga menyoroti peningkatan estimasi laba ke depan serta dokumen pengajuan IPO Anthropic sebagai faktor yang masih memberikan alasan bagi investor untuk bersikap optimistis.
Lirik Sektor Defensif
Tekanan saham teknologi turut membebani kinerja indeks utama sepanjang Oktober. Nasdaq dan S&P 500 sama-sama membukukan penurunan bulanan di tengah kekhawatiran mengenai belanja AI.
Baca Juga
Wall Street Ambruk Dipicu Kejatuhan Saham AI dan Lonjakan Harga Minyak, Nasdaq Anjlok 2,6%
Nasdaq mencatat penurunan bulanan terdalam sejak Maret 2025. Sebaliknya, Dow Jones justru naik hampir 2%, didukung peralihan investasi ke sektor-sektor defensif, termasuk layanan kesehatan.
Perbedaan kinerja tersebut menunjukkan bahwa investor tidak sepenuhnya meninggalkan pasar saham, tetapi mulai mengalihkan sebagian portofolio ke sektor yang dinilai lebih tahan terhadap ketidakpastian.
Mike Dickson, kepala riset dan strategi kuantitatif Horizon, mengatakan investor masih melihat peluang imbal hasil yang menarik pada saham-saham di luar sektor teknologi.
Menurut dia, meningkatnya risiko terkait AI tidak serta-merta membuat investor harus keluar dari pasar saham. Sebaliknya, diversifikasi ke sektor lain dapat menjadi strategi untuk menghadapi perubahan sentimen.
Dickson juga menilai kekhawatiran mengenai hasil pemilihan paruh waktu AS perlu dicermati secara proporsional. Secara historis, pasar saham cenderung tetap bertahan terlepas dari partai mana yang menguasai Kongres, meskipun perubahan kebijakan tetap dapat memengaruhi sektor tertentu.
Pemilu dan Data Tenaga Kerja Jadi Perhatian
Pemilihan paruh waktu AS dijadwalkan berlangsung Selasa (3/11/2026). Partai Demokrat diperkirakan berpeluang merebut kendali Dewan Perwakilan Rakyat, sedangkan persaingan untuk menguasai Senat masih belum pasti.
Baca Juga
Hasil pemilu dapat memengaruhi arah kebijakan pemerintah, termasuk perpajakan, belanja publik, regulasi, dan kebijakan ekonomi yang berpotensi berdampak terhadap perusahaan serta investor.
Selain perkembangan politik, pelaku pasar juga menantikan laporan ketenagakerjaan AS untuk Oktober yang dijadwalkan dirilis Jumat (6/11/2026).
Ekonom yang disurvei Dow Jones memperkirakan jumlah tenaga kerja nonpertanian atau nonfarm payrolls bertambah 55.000 pekerjaan selama Oktober. Angka tersebut akan menjadi salah satu indikator penting untuk menilai kekuatan pasar tenaga kerja dan prospek perekonomian AS.
Data ketenagakerjaan juga dapat memengaruhi ekspektasi investor terhadap arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed). Jika pertumbuhan pekerjaan lebih lemah atau lebih kuat daripada perkiraan, pasar dapat menyesuaikan proyeksi mengenai kondisi ekonomi dan kebijakan moneter.
Tunggu Laporan Keuangan Perusahaan Besar
Di tengah perhatian terhadap pemilu dan data ekonomi, musim laporan keuangan perusahaan masih menjadi penggerak utama pasar.
Apple, salah satu anggota kelompok saham teknologi berkapitalisasi besar yang dikenal sebagai Magnificent Seven, dijadwalkan mengumumkan hasil keuangannya setelah penutupan perdagangan Senin (2/11/2026).
Sementara itu, McDonald's dan Qualcomm juga dijadwalkan merilis laporan keuangan pada pekan ini.
Investor akan mencermati pendapatan, prospek bisnis, serta panduan belanja modal perusahaan untuk menilai apakah valuasi saham saat ini masih sejalan dengan potensi pertumbuhan laba.
Bagi pasar saham AS, kombinasi laporan keuangan, data ketenagakerjaan, dan hasil pemilu akan menjadi ujian penting bagi arah pergerakan indeks pada awal November.
Kontrak berjangka yang menguat pada awal pekan memberikan indikasi bahwa sebagian investor masih bersedia mengambil risiko. Namun, keberlanjutan penguatan tersebut akan sangat bergantung pada kemampuan perusahaan mempertahankan pertumbuhan laba, ketahanan ekonomi AS, dan perkembangan ekspektasi suku bunga.
Di tengah volatilitas saham teknologi, peralihan dana ke sektor defensif juga menunjukkan bahwa investor semakin mengutamakan keseimbangan portofolio. Pekan ini, pasar tidak hanya akan menilai seberapa besar pertumbuhan yang dapat dihasilkan perusahaan, tetapi juga seberapa kuat fundamental bisnis mereka menghadapi ketidakpastian ekonomi dan politik.
