Bakrie Plantations (UNSP) Cetak Penjualan Rp2,2 Triliun, Balikkan Ekuitas dari Negatif Jadi Positif
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk (UNSP) mencetak penjualan Rp2,2 triliun hingga kuartal III-2026, naik 19% dari kuartal III-2025 (year on year/yoy). Kenaikan penjualan diikuti lonjakan ekuitas sebesar 153% menjadi Rp2,77 triliun dari posisi negatif Rp5,27 triliun.
Pada periode tersebut, UNSP membukukan peningkatan laba kotor sebesar 4% menjadi Rp598 miliar. Namun, laba operasi perseroan turun 10% menjadi Rp281 miliar. UNSP juga mencatatkan penurunan laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (EBITDA) sebesar 3% menjadi Rp419 miliar.
Menurut Direktur Utama UNSP, Bayu Irianto, sekitar 97% penjualan UNSP ditopang komoditas sawit dengan nilai Rp2,16 triliun, sisanya dari komoditas karet Rp58 miliar. Perseroan juga berhasil memangkas rugi bersih sebesar 32% menjadi Rp43 miliar hingga kuartal III-2026, dibanding rugi bersih Rp63 miliar pada periode sama tahun silam.
“Perkembangan ini menjadi bagian dari upaya perseroan dalam memperbaiki kinerja keuangan serta memperkuat fundamental bisnis secara bertahap,” kata Bayu dalam keterangan resmi, Senin (2/11/2026).
Baca Juga
Bayu mengungkapkan, UNSP menargetkan penjualan sekitar Rp 3 triliun dan keuntungan bersih untuk tahun buku 2026. Pencapaian target itu didukung optimalisasi pengolahan tandan buat segar (TBS) dari kebun sendiri serta pembelian TBS dari kebun plasma dan pihak ketiga guna menunjang produksi dan penjualan produk sawit.
Penguatan Struktur Permodalan
Direktur & Investor Relations UNSP, Andi W Setianto menambahkan, selain peningkatan produktivitas, UNSP memperkuat struktur permodalan melalui konversi utang menjadi saham melalui penambahan modal tanpa hak memesan efek terlebih dahulu (PMTHMETD) serta revaluasi aset tanah dan tanaman produktif.
“Konversi utang mengurangi kewajiban, sekaligus memperkuat struktur permodalan. Sedangkan revaluasi aset memperbarui nilai tercatat aset agar mencerminkan nilai wajar dan meningkatkan ekuitas melalui surplus revaluasi,” ujar dia.
Andi Setianto menjelaskan, total aset UNSP pada 30 September 2026 melejit 115% menjadi Rp 7,48 triliun dari Rp 3,48 triliun pada akhir 2025. Peningkatan itu revaluasi aset tanah dan tanaman produktif sebesar Rp 3,74 triliun.
Pada periode yang sama, kata dia, total liabilitas perseroan menyusut 46% menjadi Rp4,71 triliun dari sebelumnya Rp8,75 triliun, terutama ditopang konversi utang ke saham senilai Rp4,35 triliun.
Sejalan dengan itu, menurut Andi, ekuitas UNSP membaik sebesar Rp8,04 triliun atau 153% ke Rp2,77 triliun dari posisi negatif Rp5,27 triliun. Konversi utang dan revaluasi aset menjadi bagian upaya memperkuat struktur permodalan sebagai landasan mendukung keberlanjutan usaha dan pelaksanaan strategi bisnis jangka panjang.
Andi Setianto mengemukakan, UNSP terus berupaya mengoptimalkan produktivitas aset kebun melalui program peremajaan dan penggunaan bibit unggul. Strategi ini diarahkan untuk meningkatkan hasil produksi ton minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) per hektare serta mengoptimalkan pemanfaatan lahan yang telah dimiliki untuk memperkuat daya saing dan profitabilitas perseroan secara berkelanjutan.
“Optimalisasi produktivitas pabrik juga dilakukan melalui pembelian buah sawit dari petani yang tidak memiliki pabrik sekaligus membantu kesejahteraan mereka,” tutur dia.
Dia menegaskan, UNSP mengikuti protokol ISPO (Indonesian Sustainable Palm Oil) yang menjunjung tinggi prinsip ramah lingkungan dan keberlanjutan, di antaranya kebijakan zeroburning (tanpa membakar) dalam melakukan kegiatan perkebunan.
“Keberlanjutan di sawit mencakup banyak aspek people andplanet, seperti menyejahterakan petani sesuai Sustainable Development Goals no-poverty, zero-waste sesuai circular economy, nodeforestation, dan reduksi emisi gas rumah kaca untuk climate change,” papar dia.
Bibit Unggul Lebih Produktif
Bayu Irianto mengatakan, UNSP juga telah melakukan inovasi melalui pengembangan bibit unggul yang menghasilkan produksi buah sawit lebih banyak dengan luasan lahan kebun yang sama.
“Saat ini produktivitas sawit nasional hanya sekitar 3 ton CPO per hektare per tahun. Bibit unggul potensi produktivitas bisa meningkat setelah program peremajaan (replanting),” ujar dia.
Bayu menuturkan, bibit unggul UNSP bisa menghasilkan 10 ton CPO per hektare per tahun, dengan produksi 40 ton buah sawit per hektare per tahun dan ekstraksi CPO sekitar 25% sesuai hasil lapangan bibit unggul perseroan yang sudah disertifikasi.
Baca Juga
Pemegang Saham Bakrie Plantations (UNSP) Setujui Tiga Agenda RUPST, Apa Saja?
“Dengan bibit unggul, luas lahan kebun tidak perlu bertambah, menghasilkan produksi CPO berlipat ganda yang meningkatkan lagi produksi biodiesel untuk ketahanan energi nasional,” tandas dia.
Bayu menekankan, bibit unggul dan program peremajaan sawit rakyat merupakan kunci kesejahteraan petani dan produktivitas sawit yang berkelanjutan. Strategi peningkatan produktivitas berkelanjutan yang sedang dijalankan perseroan akan lebih banyak lagi dirasakan dampak positifnya dalam jangka menengah dan panjang.
“Melanjuti fokus peningkatan produktivitas kebun dan pabrik, kami akan lanjutkan dengan langkah konkret peningkatan produktivitas aset lainnya dan perbaikan struktur permodalan,” ucap dia.
Bayu Irianto optimistis dalam jangka menengah dan panjang, UNSP akan kembali bangkit menemukan momentum yang terbaik menjadi salah satu perusahaan perkebunan yang memiliki fundamental bisnis yang kuat.
