Bisnis Limbah TBS (TOBA) Melejit 41%, Investasi Rp 7,77 Triliun dari BlackRock Jadi Katalis
JAKARTA, investortrust.id – PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA) mencatatkan pertumbuhan pesat pada bisnis pengelolaan limbah yang ditunjukkan kenaikan pendapatan sebanyak 41% menjadi US$ 157,3 juta sepanjang sembilan bulan pertama 2026, dibandingkan periode sama tahun sebelumnya US$ 111,9 juta.
Pertumbuhan bisnis pengelolaan limbah ini semakin memperkuat prospek transformasi bisnis TOBA. Terlebih, perseroan berpeluang memperoleh investasi hingga Rp 7,77 triliun dari HPS Investment Partners, perusahaan investasi yang merupakan bagian dari BlackRock, untuk mendukung ekspansi bisnis pengelolaan limbah di Asia.
Baca Juga
BlackRock Masuk ke Bisnis Pengelolaan Limbah TBS Energi (TOBA), Siapkan Investasi S$555 Juta
Bisnis pengelolaan limbah TOBA juga mencatatkan adjusted EBITDA sebesar US$ 29,9 juta selama Januari–September 2026. Dari sisi operasional, volume limbah yang dikelola mencapai 755.990 ton, Cora Environment menjadi kontributor terbesar sebanyak 743.600 ton.
Melalui sejumlah anak usahanya di Indonesia dan Singapura, TOBA telah melayani sekitar 470.000 rumah tangga dan pelanggan usaha. Layanan yang diberikan mencakup pengumpulan, pengangkutan, pengolahan, hingga pemanfaatan kembali berbagai jenis limbah.
Motor Pertumbuhan
Pertumbuhan bisnis pengelolaan limbah TOBA terutama ditopang Cora Environment, platform pengelolaan limbah terintegrasi milik perseroan yang berbasis di Singapura. Selain Cora, TOBA mengandalkan Asia Medical Enviro Services (AMES) yang menguasai sekitar 45% pasar pengelolaan limbah medis di Singapura. Sementara itu, Arah Environmental telah memperluas jangkauan operasional di 15 provinsi di Indonesia dengan lebih dari 5.000 pelanggan.
TOBA juga mengembangkan bisnis daur ulang melalui keterlibatan Cora dalam program Beverage Container Return Scheme (BCRS) di Singapura. Melalui fasilitas pemulihan material di Tuas, Cora telah memproses lebih dari 30 juta kemasan minuman sejak Agustus hingga akhir September 2026.
Baca Juga
IHSG Bergerak ke Bawah 5.000 Usai HSC Dikeluarkan, Seluruh Sektor Saham Melemah
Bisnis pengelolaan limbah bersama kendaraan listrik menjadi dua penopang utama transformasi TOBA. Sepanjang sembilan bulan pertama 2026, kedua segmen tersebut berkontribusi sebesar 66% terhadap pendapatan konsolidasian dan 71% terhadap adjusted EBITDA perseroan.
Analis BRI Danareksa Sekuritas Andhika Audrey menilai bahwa, pertumbuhan pendapatan bisnis pengelolaan limbah TOBA mencerminkan permintaan terhadap layanan pengelolaan limbah terintegrasi. Skala operasional yang telah terbentuk juga menjadi modal bagi perseroan untuk memperluas jaringan layanan dan meningkatkan kapasitas pengolahan.
"Bisnis pengelolaan limbah memiliki karakteristik yang menarik karena kebutuhan terhadap layanannya cenderung berulang. Perusahaan yang telah memiliki jaringan operasional, basis pelanggan, serta kemampuan pengolahan limbah yang terintegrasi mempunyai modal penting untuk memperluas bisnisnya," ujarnya.
Baca Juga
Rugi Bersih TBS Energi (TOBA) Turun, Bisnis Limbah dan Kendaraan Listrik Jadi Penopang
Prospek ekspansi bisnis pengelolaan limbah TOBA semakin terbuka setelah perseroan mengumumkan rencana investasi dari HPS Investment Partners pada Oktober 2026. Perusahaan investasi yang merupakan bagian dari BlackRock tersebut berencana menanamkan modal hingga Sin$ 555 juta atau setara Rp 7,77 triliun, dengan asumsi kurs Rp 14.000 per dolar Singapura.
Investasi tersebut direncanakan masuk melalui bisnis pengelolaan limbah TOBA di bawah SBT Holdings (SBTH). Pendanaan akan dilakukan secara bertahap melalui penerbitan saham preferen dan instrumen investasi lainnya.
