TBS Energi (TOBA) Jadi Sorotan! Saham Melonjak, Analis Ungkap Arti Pendanaan BlackRock
JAKARTA, investortrust.id – Rencana investasi BlackRock melalui HPS Investment Partners hingga Rp7,77 triliun pada bisnis pengelolaan limbah PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA) menambah daftar akses pendanaan global yang dimiliki perseroan. Analis pasar modal Alvin Timothy Murthi menilai kemampuan TOBA menghimpun modal dari berbagai sumber mencerminkan daya tarik prospek bisnisnya, sekaligus memberikan fleksibilitas dalam mengelola biaya modal, likuiditas, dan kebutuhan investasi.
Adapun pagi ini, saham TOBA telah menguat sebanyak Rp 70 (20,96%) menjadi Rp 404. Rentang pergerakan intraday sesi I di Bursa Efek Indonesia (BEI) rentang Rp 338-340.
Menurut Alvin, kemampuan TOBA mengakses pendanaan dari berbagai sumber, mulai dari kredit sindikasi perbankan internasional, penerbitan obligasi, hingga investasi ekuitas dari investor global, mencerminkan kepercayaan terhadap prospek bisnis dan strategi transformasi perusahaan.
“Tidak semua perusahaan memiliki akses pendanaan yang luas, mulai dari kredit sindikasi perbankan internasional, pasar obligasi, hingga investasi ekuitas dari investor global. Hal ini menunjukkan bahwa TBS memiliki rekam jejak dan prospek bisnis yang mampu menarik perhatian berbagai kelompok penyedia modal,” ujar Alvin.
Baca Juga
BlackRock Masuk ke Bisnis Pengelolaan Limbah TBS Energi (TOBA), Siapkan Investasi S$555 Juta
Berdasarkan siaran pers TOBA, rencana investasi dana dan akun kelolaan HPS Investment Partners tersebut akan dilakukan secara bertahap melalui penerbitan saham preferen baru SBTH Asia Holdings Pte. Ltd. (SBTH) serta instrumen lainnya. Transaksi ini masih memerlukan persetujuan pemegang saham melalui Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB).
Alvin menilai, diversifikasi sumber pendanaan memberikan fleksibilitas bagi TOBA untuk menyesuaikan struktur pembiayaan dengan kebutuhan masing-masing lini bisnis. Hal ini dinilai relevan seiring langkah perseroan mengembangkan portofolio pengelolaan limbah, energi terbarukan, dan kendaraan listrik sebagai sumber pertumbuhan baru di luar batu bara.
“Dengan pilihan instrumen yang semakin beragam, perusahaan dapat mengoptimalkan kombinasi utang dan ekuitas sesuai kebutuhan investasinya. Strategi ini memberikan ruang untuk mengelola biaya modal, risiko likuiditas, serta jatuh tempo kewajiban keuangan secara lebih terukur,” katanya.
Baca Juga
Timah Lagi Panas, Saham Timah (TINS) Siap Bikin Investor Ketiban Cuan Jumbo?
Menurut Alvin, rencana investasi HPS pada bisnis pengelolaan limbah juga berpotensi mengurangi kebutuhan pendanaan internal TOBA untuk ekspansi di sektor tersebut. Dengan demikian, perseroan berpeluang memiliki fleksibilitas lebih besar untuk mengembangkan lini bisnis berkelanjutan lainnya.
Meski demikian, kemampuan memperoleh pendanaan perlu diimbangi dengan pengelolaan struktur modal dan disiplin investasi agar memberikan manfaat optimal bagi perusahaan.
“Dukungan pembiayaan dari berbagai sumber menjadi modal penting bagi TBS untuk mempercepat transformasi bisnis. Jika dikelola secara efektif dan menghasilkan pertumbuhan arus kas yang berkelanjutan, fleksibilitas pendanaan ini berpotensi memperkuat ketahanan keuangan sekaligus meningkatkan nilai perusahaan dalam jangka panjang,” ujar Alvin.
TOBA Akses Pendanaan Global
Selain rencana investasi HPS yang merupakan bagian dari BlackRock, TOBA sebelumnya memperoleh fasilitas pinjaman sindikasi dari sejumlah bank internasional senilai maksimal SGD385 juta atau sekitar Rp5,32 triliun pada Juni 2026.
Fasilitas tersebut dipimpin DBS Bank dengan keterlibatan Bangkok Bank, Bank of China, Maybank, RHB Bank, Societe Generale, dan Natixis. Pembiayaan itu terdiri atas pinjaman berjangka (term loan) hingga Sin$ 345 juta dan fasilitas kredit bergulir (revolving loan) hingga Sin$ 40 juta. Dana tersebut diperuntukkan antara lain untuk pembiayaan kembali pinjaman sebelumnya, kebutuhan modal kerja, dan belanja modal anak usaha TOBA.
Baca Juga
Sempat Ambruk ke Bawah 5.200, IHSG Mendadak Berbalik Menguat ke 5.344
Di pasar modal, perseroan juga telah menyelesaikan penerbitan Obligasi Berkelanjutan I dengan nilai total Rp800 miliar dalam tiga tahap sepanjang Juli 2025 hingga Mei 2026. TOBA turut mengakses pendanaan syariah melalui penerbitan sukuk wakalah pada 2025.
Rangkaian pendanaan tersebut memperluas pilihan pembiayaan TOBA untuk mendukung kebutuhan bisnis dan transformasi perusahaan. Namun, manfaat jangka panjangnya tetap bergantung pada efektivitas penggunaan modal, pengelolaan kewajiban keuangan, serta kemampuan setiap lini bisnis menghasilkan arus kas yang berkelanjutan.
