IHSG Diprediksi Lanjutk Begerak Bearish, Tiga Saham BBNI hingga HMSP Layak Dilirik
JAKARTA, investortrust.id – Indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (2/11/2026), masih bergerak bearish dengan rentang 5.026-5.116. Tiga saham BBNI, SSMS, dan HMSP direkomendasikan beli.
BRI Danareksa Sekuritas dalam riset pagi ini menyebutkan bahwa pasar akan mencermati implementasi kebijakan BEI mulai 2 November yang mengecualikan 81 saham kategori High Shareholding Concentration (HSC) dari perhitungan IHSG, sebagai upaya meningkatkan kualitas dan transparansi indeks.
Pegerakan indeks juga akan dipengaruhi aksi cermati pemodal terhadap rilis data ekonomi domestik, termasuk inflasi Oktober, aktivitas manufaktur, neraca perdagangan, pertumbuhan ekonomi kuartal III, dan cadangan devisa. Dari global, arah kebijakan The Fed pasca-keputusan suku bunga terakhir serta perkembangan harga minyak dan tensi geopolitik tetap menjadi faktor yang dapat memengaruhi rupiah dan arus modal asing.
Baca Juga
“Secara teknikal, IHSG masih dalam tren bearish dan berpotensi menguji support 5.026-4.942. Candle terakhir menunjukkan respons beli di bawah 5.000, tetapi MACD masih negatif dengan garis MACD di bawah signal line,” tulisnya.
Terkait saham pilihan, BRI Danareksa Sekuritas merekomendasikan beli saham BBNI dengan target harga Rp 3.390-3.500, SSMS dengan Rp 1.010-1.060, dan HMSP dengan target harga Rp 675-705.
Sepanjang Oktober 2026, IHSG ditutup anjlok sebanyak 1.014 poin (16,70%) dari 6.071 menjadi 5.057. Penurunan tajam terjadi setelah MSCI mengusulkan pasar saham Indonesia menjadi standalone market. Sejalan dengan kejatuhan indeks tersebut, kapitalisasi pasar (market cap) BEI menguap sebanyak Rp 1.833 triliun sepanjang Oktober. Market cap turun dari Rp 10.695 triliun pada akhir September menjadi Rp 8.862 triliun.
Baca Juga
Dirut BEI: Daya Tahan Saham Syariah Lebih Baik di Tengah Tekanan Pasar
Hantaman pasar saham tersebut juga memicu kaburnya pemodal asing dalam jumlah besar sepanjang bulan ini. Berdasarkan data, penjualan bersih saham oleh pemodal asing di seluruh pasar mencapai Rp 17,05 triliun. Net sell terbanyak melanda saham perbankan, seperti net sell BBCA senilai Rp 4,63 triliun, BBRI mencapai Rp 4,09 triliun, BMRI senilai Rp 3,06 triliun, TLKM senilai Rp 2,11 triliun, dan GOTO mencapai Rp 1,29 triliun.
Penurunan juga dipicu pelemahan seluruh sektor saham, seperti sektor infrastruktur dan teknologi anjlok lebih adri 50% sepanjang ytd. Begitu juga dengan saham sektor energi, industri, konsumer primer, properti telah anjlok lebih dari 40%. Sedangkan saham sektor keuangan dengan penurunan terendah mencapai 22,70% sepanjang ytd.
Tekanan pasar saham Indonesia juga dipengaruhi atas kejatuhan sejumlah saham emiten big cap berikut, yaitu DSSA telah jatuh lebih dari 83% sepanjang ytd. Saham BREN anjlok 81,49%, BBCA turun 34,22%, TLKM melemah 43,10%, BBRI turun 23,50%, TPIA anjlok 81,71%, BRPT turun 67,28%, BRMS jatuh 69,82%, BMRI anjlok 27,06%, dan FILM melemah 97,92%.
