Laba Bersih BFI Finance (BFIN) Tumbuh 12,5% Jadi Rp 1,3 Triliun di Kuartal III 2026
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - PT BFI Finance Indonesia Tbk (BFIN) mencatatkan pertumbuhan laba 12,5% secara year on year (yoy) menjadi Rp 1,3 triliun di kuartal III 2026.
Presiden Direktur BFI Finance Sutadi mengungkapkan, pertumbuhan tersebut didorong oleh kenaikan pendapatan sebesar 3,6% (yoy) menjadi Rp 5,2 triliun, serta efisiensi operasional dan perbaikan biaya kredit (cost of credit) yang berkelanjutan.
“Strategi kami berfokus pada penerapan manajemen risiko yang disiplin dan prinsip kehati-hatian dalam penyaluran pembiayaan,” ujarnya, dalam keterangan pers, Jumat (30/10/2026).
Selain itu, kinerja positif juga didorong oleh kinerja nilai penyaluran pembiayaan baru (new booking) yang meningkat 9,1% secara quarter on quarter (qoq) menjadi Rp 5,6 triliun di kuartal III 2026.
Capaian itu utamanya ditopang oleh segmen produktif modal kerja yang menyumbang Rp 3,7 triliun (naik 9,0% secara qoq) dan segmen investasi sebesar Rp 970,1 miliar (naik 19,1% secara qoq), di samping permintaan yang tetap tinggi pada lini pembiayaan kendaraan bekas (used car & motorcycle).
“Total piutang pembiayaan yang dikelola (managed receivables) di sepanjang Januari-September 2026 adalah Rp 26,8 triliun,” kata Sutadi.
Ia melanjutkan, pembiayaan dengan jaminan kendaraan bermotor, baik roda empat maupun roda dua masih menjadi kontributor terbesar dalam portofolio pembiayaan BFI Finance, dengan porsi 58,1% per September 2026.
Pembiayaan mobil melalui showroom rekanan berkontribusi 18,5%, diikuti pembiayaan alat berat dan mesin sebesar 14,4%, serta pembiayaan dengan jaminan sertifikat properti dan kategori lainnya yaitu 9,0%.
“Kami juga terus melakukan diversifikasi portofolio dan mengoptimalkan proses bisnis melalui otomatisasi untuk menjaga efisiensi operasional, dengan tetap memperhatikan kualitas pembiayaan,” kata Sutadi.
Baca Juga
Laba BFI Finance (BFIN) Tergerus 14,44% di Kuartal I-2026, Nilainya Segini
Catat NPF di Bawah Rata-rata Industri
Dari sisi kualitas pembiayaan, rasio pembiayaan bermasalah atau non performing financing (NPF) bruto dan neto tercatat masing-masing 1,33% dan 0,21% di kuartal III 2026.
Angka tersebut, kata Sutadi, berada di bawah rata-rata NPF industri multifinance yang mencapai 3,04% secara bruto dan 0,83% secara neto per Agustus 2026.
“Capaian ini mencerminkan kualitas portofolio pembiayaan yang tetap terjaga di tengah dinamika industri,” ucapnya.
BFI Finance turut menorehkan ketangguhan fundamental bisnis, tercermin dari rasio profitabilitas yang unggul. Return on asset (ROA) tercatat naik menjadi 8,7% dengan return on equity (ROE) meningkat menjadi 15,8%.
Dari segi pendanaan secara kuartalan, perusahaan berhasil menekan cost of fund menjadi 6,8% atau turun tipis dari 6,9% pada kuartal sebelumnya. Gearing ratio juga terjaga yaitu 1,1 kali.
“Ketahanan ini memberikan ruang kapitalisasi yang sangat luas untuk mendukung ekspansi bisnis di masa mendatang. Total ekuitas BFI Finance kini berada di posisi yang semakin kokoh sebesar Rp 11,4 triliun atau meningkat 4,8% dibandingkan tahun sebelumnya,” ujar Sutadi.
Menurutnya, BFI Finance juga terus menjaga likuiditas dan pengelolaan pendanaan untuk mendukung keberlangsungan operasional serta pemenuhan kewajiban keuangan.
Sebagai bagian dari komitmen tersebut, perusahaan telah melunasi Obligasi Berkelanjutan VI Tahap I Tahun 2024 Seri B yang jatuh tempo pada 25 September 2026.
“Ke depan, kami akan terus mengedepankan prinsip kehati-hatian dalam penyaluran pembiayaan, menjaga kualitas portofolio, dan memperkuat efisiensi operasional,” kata Sutadi.
“Kami meyakini bahwa disiplin manajemen risiko dan pengelolaan bisnis yang berkelanjutan merupakan pondasi penting untuk menjaga kepercayaan para pemangku kepentingan,” sambungnya.
