IHSG Ambles 2,64% ke 5.142, Outflow Dana Asing Ancam Koreksi Lanjutan
JAKARTA, investortrust.id – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) kembali tertekan. Pada perdagangan sesi I, Kamis (29/10/2026), IHSG anjlok 139,49 poin atau 2,64% ke level 5.142,82. Tekanan jual investor asing, kekhawatiran terhadap prospek pasar modal domestik, serta koreksi saham-saham berkapitalisasi besar menjadi perhatian pelaku pasar.
Pengamat pasar modal Elandry Pratama menilai, tekanan IHSG tersebut berpotensi berlanjut dalam jangka pendek. Risiko koreksi dinilai tetap tinggi, apabila aksi jual investor asing belum mereda dan belum muncul katalis positif yang mampu untuk memperbaiki sentimen pasar.
"Investor perlu mengantisipasi volatilitas lanjutan dan mencermati level support IHSG selama kecenderung penurunan indeks tersebut masih berlanjut," kata Elandry saat dihubungi investortrust.id, Kamis (29/10/2026).
Baca Juga
IHSG Sesi I Ditutup Anjlok 2,64% Dekati Level 5.000, Saham Big Cap Dipimpin BBCA Turun
Di tengah kondisi pasar yang belum stabil, Elandry menyarankan, investor mencermati saham-saham dengan fundamental yang dinilai menarik. Pilihannya mencakup BBCA, BMRI, dan BBRI dari sektor perbankan, ICBP dari sektor konsumer defensif, serta ANTM dan PTBA dari sektor komoditas.
Meski demikian, investor tetap perlu mempertimbangkan risiko koreksi lanjutan. Elandry menyarankan pembelian saham dilakukan secara bertahap setelah tekanan jual mulai mereda, dengan tetap memperhatikan kekuatan fundamental dan valuasi emiten.
"Namun, di tengah kondisi pasar yang belum stabil, sebaiknya fokus pada emiten dengan fundamental kuat dan valuasi menarik, serta melakukan pembelian secara bertahap setelah tekanan jual mulai mereda. Tetap perlu diwaspadai bahwa saham berfundamental baik pun masih berpotensi terkoreksi apabila market sentiment belum membaik," tandasnya.
Outflow Dana Asing Jadi Sorotan
Sementara itu, Analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana menilai, tekanan terhadap IHSG masih sejalan dengan perkembangan sentimen pasar setelah bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve (The Fed), mempertahankan suku bunga acuannya. Tekanan tersebut terjadi meskipun nilai tukar rupiah menguat terhadap dolar Amerika Serikat.
Baca Juga
Tuntaskan Akuisisi 72% Saham Tambang Batu Bara, Bhineka Inovasi (BIKE) Lewat Anak Usaha Ini
Herditya juga menyoroti derasnya arus dana keluar atau capital outflow dari pasar saham Indonesia. Menurut dia, tekanan jual investor asing masih membayangi pergerakan IHSG. "Kami perkirakan, tekanan outflow masih berlangsung di IHSG di mana selama 5 hari ke belakang sudah mencapai Rp5,5 triliun," ujar Herditya kepada investortrust.id.
Dari sisi teknikal, Herditya mengingatkan investor untuk mewaspadai potensi koreksi lanjutan IHSG menuju area 5.024–5.116. Rentang tersebut menjadi area yang perlu dicermati pelaku pasar di tengah tekanan indeks dan arus dana asing yang masih berlangsung. Sementara itu, investor disarankan tetap memperhatikan perkembangan sentimen pasar serta pergerakan level teknikal IHSG sebelum mengambil keputusan investasi.
