IHSG Sesi I Ditutup Anjlok 2,64% Dekati Level 5.000, Saham Big Cap Dipimpin BBCA Turun
JAKARTA, investortrust.id – Indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) sesi I, Kamis (29/10/2026), ditutup jatuh sebanyak 139,49 poin (2,64%) menjadi 5.142,82. IHSG anjlok di tengah penguatan nilai tukar rupiah dan indeks pasar saham Asia.
Kejatuhan IHSG tersebut dipicu atas penurunan tajam saham big bank, seperti BBCA, BBRI, BMRI, dan BBNI. Tekanan juga datang dari pelemahan saham BREN, BRPT, TLKM, ISAT, ENRGI, CUAN, BUMI, hingga AMMN.
Baca Juga
Laba Chandra Daya (CDIA) Anjlok 61,5% hingga September 2026, Terseret Beban Keuangan
Tekanan IHSG juga dipengaruhi pelemahan seluruh sektor saham, seperti sektor material dasar dan infrastruktur melemah lebih dari 3%. Penurunan lebih dari 2% melanda saham sektor energi, industry, konsumer primer, dan konsumer non primer. Sisanya sektor keuangan, property, teknologi, transportasi, kesehatan turun lebih dari 1%.
Meski IHSG anjlok parah mendekati level 5.000, saham ALKA masih berhasil melesat hingga auto reject atas (ARA) dengan kenaikan 24,86% menjadi Rp 4.420, YPAS naik 20,71% menjadi Rp 1.020, KONI naik 18,86% menjadi Rp 1.765, ENAK naik 13,61% menjadi Rp 192, KJEN naik 13,39% menjadi Rp 127, dan MKNT Menguat 11,11% menjadi Rp 10.
Kemarin, IHSG ditutup berbalik rebound 16,18 poin (0,31%) menjadi 5.282 disertai dengan pembelian bersih saham oleh pemodal asing. Net buy terdorong aksi beli saham BBCA hingga Rp 1,17 triliun sepanjang kemarin. Pemodal asing terpantau merealisasikan net buy saham ASII mencapai Rp 53,33 miliar.
Baca Juga
Merdeka Gold (EMAS) Agresif Eksplorasi Emas Pani, Siapkan US$ 11,4 Juta
Faktor utama pembalikan IHSG ke zona hijau datang dari lompatan harga saham BBCA sebanyak 7,65% menjadi Rp 5.275. Kenaikan juga ditopang penguatan pesat saham ASII sebanyak 7,99% menjadi Rp 5.000 dan PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) naik 3,72% menjadi Rp 3.900. Kenaikan juga ditopang saham BBRI, BBNI, dan BRIS.
Secara sectoral, kenaikan didukung penguatan saham sektor kesehatan sebanyak 1,71%, sektor keuangan naik 0,80%, dan sektor transportasi naik 0,31%. Sebaliknya penurunan melanda saham sektor infrastruktur sebanyak 2,13%, sektor teknologi gurun 0,07%, sektor property turun 0,18%, sektor konsumer primer turun 0,66%, sektor konsumer non primer turun 0,53%, sektor energi turun 1,33%, sektor material dasar melemah 0,56%, dan sektor industry turun 0,39%.
