Rupiah Meluncur ke Rp 18.184 per Dolar AS, BI Ungkap Pemicunya
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pukul 14.57 WIB, atau terdepresiasi 0,15% ke posisi Rp 18.184 per dolar AS. Bank Indonesia membeberkan sejumlah pemicunya.
Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, Erwin Gunawan Hutapea, mengatakan pergerakan rupiah dan mata uang kawasan hari ini masih dipengaruhi ketidakpastian penyelesaian konflik Timur Tengah. Kondisi ini menjaga harga minyak tetap tinggi, di atas US$ 115 per barel, serta meningkatkan risiko fiskal ke depan.
“Ekspektasi kenaikan suku bunga AS juga meningkat,” kata Erwin, dalam keterangan resminya, Rabu (28/10/2026).
Erwin mengatakan, sentimen risk-off yang memburuk kemudian mendorong penguatan dolar AS dan arus keluar dana dari pasar negara emerging markets. Kondisi ini terjadi di tengah kenaikan yield obligasi.
Dari domestik, kekhawatiran atas potensi penurunan klasifikasi pasar saham Indonesia oleh MSCI turut menekan aliran dana. Kebutuhan valas domestik yang meningkat menjelang akhir bulan juga menambah tekanan.
“Secara umum, pergerakan rupiah masih sejalan dengan mata uang kawasan. Secara bulanan, rupiah melemah 1,15%” kata dia.
Sementara itu, cadangan devisa tetap terjaga sebesar US$ 146,3 miliar pada akhir September 2026.
Erwin mengatakan BI terus hadir di pasar untuk menjaga mekanisme pasar berjalan dengan baik dan stabilitas nilai tukar rupiah tetap terjaga sesuai fundamentalnya. Langkah stabilisasi dilakukan secara konsisten melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF), Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), dan spot.
“BI juga membeli Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder,” kata dia.
