Terkoreksi 4%, Kekhawatiran Belanja AI dan Geopolitik Tekan Harga Bitcoin
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Harga Bitcoin (BTC) turun di bawah US$ 82.000 pada Kamis (22/10/2026) malam, seiring aksi jual di pasar keuangan global yang dipicu kekhawatiran terhadap belanja kecerdasan buatan (AI), kenaikan harga minyak, dan meningkatnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Bitcoin pada Jumat (23/10/2026) pagi ini sempat terkoreksi sekitar 4% ke level US$81.130. Tekanan di pasar kripto juga memicu likuidasi kontrak berjangka senilai sekitar US$474 juta dalam 24 jam terakhir, berdasarkan data Coinglass. Penurunan turut terjadi pada sejumlah aset kripto utama. Ethereum (ETH) melemah 4,4% ke US$2.376, XRP turun 5%, BNB terkoreksi 2,8%, dan Solana (SOL) melemah 4,1%. Zcash (ZEC) dan Hyperliquid (HYPE) masing-masing turun 10,6% dan 4,8%. Token yang berkaitan dengan AI juga mengalami tekanan. NEAR Protocol (NEAR) turun 9%, Bittensor (TAO) melemah 8%, dan Render (RENDER) terkoreksi 7% dalam 24 jam. Alhasil market cap pasar kripto secara keseluruhan tinggal US$ 2,72 triliun usai turun 3,64%.
Sementara itu, di antara 90 kripto terbesar, MemeCore (M) naik 17,03% dalam 24 jam, memimpin kenaikan sementara 72 dari 90 aset turun. Kenaikan lain termasuk Lighter 8,54%, Monero 5,85%, dan Bitway 5,53%.
Baca Juga
Kalahkan Emas, Saham, Obligasi, JPMorgan Prediksi Bitcoin Bisa Tumbuh 10% per Tahun
Tekanan di pasar kripto terjadi bersamaan dengan pelemahan bursa saham Amerika Serikat. Indeks Nasdaq turun 2,6%, sedangkan S&P 500 melemah 1,2%. Saham Meta Platforms (META) terkoreksi 7% meskipun perusahaan membukukan pendapatan di atas perkiraan. Investor mencermati kenaikan belanja AI serta rencana penerbitan saham baru untuk mendukung ekspansi perusahaan. Saham Nvidia (NVDA) turun 4,4%. Sementara itu, saham SpaceX (SPCX) dan Tesla (TSLA) masing-masing melemah 9% dan 3%, meskipun terdapat laporan laba kuartal III yang positif.
Pergerakan tersebut mencerminkan meningkatnya perhatian investor terhadap biaya pembangunan infrastruktur AI dan kebutuhan pendanaannya, di tengah tingginya permintaan terhadap teknologi tersebut.
Baca Juga
Menguat ke US$ 84.000, Glassnode Petakan Level Resistensi dan Support Harga Bitcoin
CEO Nvidia Jensen Huang menyebut permintaan terhadap infrastruktur komputasi awan AI berada di luar perkiraan dalam wawancara dengan CNBC. Namun, besarnya kebutuhan modal untuk memenuhi permintaan tersebut turut menjadi perhatian pelaku pasar.
Ketidakpastian geopolitik turut menekan sentimen pasar. Harga minyak mentah Brent naik 3,7% menjadi sekitar US$112 per barel di tengah kekhawatiran terhadap potensi eskalasi ketegangan di Timur Tengah dan gangguan rantai pasokan.
Di sisi lain, imbal hasil obligasi pemerintah AS bertenor 10 tahun turun di bawah 5% ketika investor mencari aset yang dinilai lebih aman di tengah gejolak pasar. Kombinasi tekanan berasal dari pasar saham teknologi, kenaikan harga minyak, dan ketidakpastian geopolitik menambah tantangan bagi aset berisiko, termasuk Bitcoin dan aset kripto lainnya.
