Kekhawatiran AI dan Lonjakan Harga Minyak Tekan Pasar, Dow Futures Anjlok Hampir 200 Poin
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id - Futures saham Amerika Serikat melemah saat investor mulai mempertimbangkan kembali prospek ledakan kecerdasan buatan (AI). Sementara itu, kenaikan harga minyak akibat memburuknya situasi Timur Tengah menambah tekanan terhadap pasar.
Baca Juga
Wall Street Bangkit Setelah Empat Hari Terpuruk, Dow Melonjak Lebih 500 Poin
Dikutip dari CNBC, kontrak berjangka Dow Jones Industrial Average turun 179 poin atau 0,4% pada perdagangan Minggu (13/9/2026) malam waktu AS. S&P 500 futures melemah 0,6%, sedangkan Nasdaq-100 futures turun lebih tajam, sekitar 1,2%.
Tekanan terbesar datang dari sektor teknologi setelah perkembangan terbaru mengenai keselamatan AI memunculkan pertanyaan tentang seberapa cepat industri tersebut dapat berkembang dan seberapa besar dampaknya terhadap pasar saham.
CEO OpenAI Sam Altman, dikutip Fortune, mengatakan perusahaan pembuat ChatGPT tersebut tidak akan melakukan penawaran saham perdana atau initial public offering (IPO) pada 2026. Dalam wawancara dengan Fortune, Altman menyebut IPO dalam kondisi saat ini tidak tepat karena industri AI menghadapi tantangan besar terkait keselamatan dan alignment teknologi.
Pernyataan itu muncul hanya sekitar sebulan setelah CFO OpenAI Sarah Friar mengatakan perusahaan dapat melantai di bursa paling lambat 2027.
Sementara itu, CEO Anthropic Dario Amodei menyerukan agar perusahaan AI memperlambat laju pengembangan model AI tercanggih. Menurut Amodei, pengembangan teknologi perlu memberikan waktu bagi sistem keselamatan dan mekanisme pengawasan untuk mengejar kemampuan AI yang berkembang sangat cepat.
Amodei juga memperingatkan adanya dilema geopolitik: apabila perusahaan dan negara-negara Barat memperlambat pengembangan AI sementara China tidak melakukan hal yang sama, keseimbangan teknologi dan keamanan global dapat berubah.
Seruan tersebut kemudian mendapat dukungan dari sejumlah tokoh industri teknologi. Perkembangan itu menandai perubahan nada yang cukup penting di tengah perlombaan AI yang selama beberapa tahun terakhir justru ditandai oleh investasi besar-besaran, pembangunan pusat data dan optimisme terhadap produktivitas. (The Guardian)
Bagi pasar saham, persoalannya bukan sekadar apakah AI akan terus tumbuh. Investor kini juga mulai memperhitungkan apakah pengembangan AI akan menghadapi regulasi lebih ketat, biaya keselamatan yang lebih besar, atau bahkan perlambatan investasi.
Boom AI selama ini menjadi salah satu mesin utama reli saham teknologi AS. Perusahaan-perusahaan teknologi menggelontorkan investasi besar untuk chip, pusat data, komputasi awan dan infrastruktur AI, sementara investor bertaruh bahwa peningkatan produktivitas akan menghasilkan pertumbuhan laba yang jauh lebih besar.
Namun, jika pengembangan AI harus diperlambat untuk mengantisipasi risiko keselamatan, ekspektasi terhadap pertumbuhan dan monetisasi sektor tersebut dapat ikut berubah.
Isu ini juga semakin mendapat perhatian regulator AS. Reuters melaporkan semakin banyak anggota Kongres AS yang mendorong aturan baru untuk mengawasi sistem AI setelah muncul peringatan mengenai risiko dari AI yang semakin canggih.
Tekanan Harga Minyak
Di luar isu teknologi, investor juga menghadapi lonjakan harga minyak.
Harga minyak naik lebih dari 2% pada perdagangan Minggu malam setelah Arab Saudi menghentikan sementara operasi jaringan pipa East-West yang menjadi salah satu jalur penting untuk mengalihkan ekspor minyak dari kawasan Teluk menuju Laut Merah.
Baca Juga
Saudi Tutup Pipa East-West Gara-Gara Serangan Houthi, Minyak Brent Dekati US$ 108
Serangan drone merusak fasilitas pipa tersebut pada Kamis, sehingga Riyadh menutup jalur itu sebagai tindakan pencegahan. Pemerintah Saudi belum memberikan kepastian mengenai tingkat kerusakan maupun berapa lama penghentian operasi akan berlangsung.
Reuters melaporkan pipa sepanjang sekitar 1.200 kilometer tersebut sebelumnya mengalirkan sekitar 4 juta hingga 5 juta barel minyak per hari dan menjadi jalur alternatif penting setelah lalu lintas melalui Selat Hormuz terganggu akibat perang.
Kondisi ini memperbesar risiko gangguan pasokan energi global. Reuters memperkirakan penghentian pipa tersebut berpotensi mengancam pasokan hingga sekitar 4% konsumsi minyak dunia apabila berlangsung lama.
Harga minyak AS bahkan telah menembus US$100 per barel pekan lalu untuk pertama kalinya sejak Mei.
Lonjakan harga energi juga menjadi persoalan bagi Federal Reserve karena dapat memperkuat tekanan inflasi ketika bank sentral AS bersiap menggelar pertemuan kebijakan September pekan ini.
Pasar berjangka Fed sebelumnya memperkirakan sekitar 86% peluang kenaikan suku bunga. Artinya, investor menghadapi kombinasi yang tidak nyaman: pertumbuhan teknologi mulai dipertanyakan, sementara energi semakin mahal dan berpotensi mempertahankan inflasi pada level tinggi.
Pekan lalu, Dow Jones turun 1,6%, mencatat penurunan mingguan terbesar sejak Maret. S&P 500 turun sekitar 0,8%, sedangkan Nasdaq Composite melemah 0,7%.
