45% Mahasiswa Uhamka Belum Punya Investasi, Smartin Dirikan Klub Investasi
JAKARTA, investortrust.id – PT Smartin Advisor Sistem (SAS) berkolaborasi dengan Universitas Muhammadiyah Prof Dr Hamka (Uhamka) menggelar edukasi literasi keuangan dan investasi bagi mahasiswa. Inisiatif ini bertujuan membangun budaya investasi generasi muda sekaligus meningkatkan pemahaman mengenai manajemen risiko di tengah perkembangan ekonomi digital.
Kolaborasi tersebut diwujudkan melalui diskusi bertajuk Digital Literacy to Financial Resilience: Membangun Generasi Kritis di Tengah Ekonomi Investasi Digital di Kampus A Limau Uhamka, Jakarta, Kamis (15/10/2026). Dalam kesempatan yang sama, Smartin meresmikan Smartin Investment Club di Uhamka sebagai wadah pembelajaran dan praktik investasi bagi mahasiswa. Pembentukan klub investasi tersebut didorong hasil survei terhadap mahasiswa Uhamka. Sebanyak 45% responden mengaku belum memiliki instrumen investasi, sedangkan 40% berencana mulai berinvestasi dan hanya 15% yang sudah memiliki investasi.
Chief Business Officer (CBO) Dupoin Group International Philip Chan mengatakan, edukasi investasi diperlukan agar generasi muda lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan keuangan. Selain meningkatkan pemahaman investasi, inisiatif tersebut diharapkan dapat membangun kebiasaan berinvestasi sejak dini.
Baca Juga
Vier Abdul Jamal dan Dupoin Gelar Program "Training" bagi para "Trader"
“Kami menggelar literasi investasi bagi intelektual muda agar dapat membantu mereka lebih prudent dalam berinvestasi. Selain itu, kami membangun budaya berinvestasi lewat kehadiran Uhamka-Smartin Investment Club yang beranggotakan para mahasiswa,” ujar Philip.
Philip juga meresmikan Smartin Investment Club di Uhamka. Sesuai rencana, Dupoin dan Smartin akan membentuk klub investasi serupa di sejumlah universitas. Klub tersebut dapat menjadi sarana bagi mahasiswa untuk mempelajari sekaligus mempraktikkan investasi sebelum memasuki dunia kerja. Inisiatif ini juga diharapkan melahirkan talenta baru yang dapat memperkuat industri keuangan, mulai dari perusahaan pialang berjangka, aset kripto, perbankan, hingga asuransi.
Peluang Investasi Digital
Hasil survei mahasiswa Uhamka juga mengungkap sejumlah faktor yang menghambat partisipasi dalam perdagangan atau investasi digital. Sebanyak 60% responden mengaku belum mengetahui peluang yang tersedia, sedangkan 35% terkendala modal dan 5% menilai trading tidak halal.
Smartin Investment Club di Uhamka akan menyelenggarakan berbagai kegiatan, antara lain diskusi rutin mengenai investasi saham, kripto, dan futures. Klub tersebut juga akan mengadakan kompetisi trading, pelatihan public speaking, serta digital marketing.
Dukungan terhadap inisiatif ini juga diberikan oleh Dupoin Futures. Kolaborasi tersebut diharapkan dapat menjadi sarana literasi keuangan berkelanjutan sekaligus mempersiapkan mahasiswa menghadapi kebutuhan industri keuangan.
Baca Juga
IHSG Sesi I Terjun Bebas ke 5.814, Analis Ungkap Biang Keroknya
President Director Smartin Odang Supriatna menilai kegiatan literasi ini bermanfaat karena mempertemukan pelaku pasar, akademisi, influencer, dan praktisi media sosial. Dengan demikian, mahasiswa tidak hanya mendapatkan pengetahuan mengenai industri perdagangan berjangka komoditas (PBK), tetapi juga memahami peluang karier yang tersedia.
Menurut Odang, industri tersebut membuka peluang profesi sebagai analis, influencer, digital marketer, trader, hingga penasihat. Namun, untuk memasuki industri PBK, mahasiswa perlu membekali diri dengan pengetahuan, keterampilan, dan pengalaman yang memadai.
Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Uhamka Tellys Corliana mengatakan, kegiatan ini memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk mendapatkan pengetahuan di luar ruang kelas. Literasi keuangan dan digital juga diharapkan melengkapi mata kuliah literasi digital yang telah tersedia di Uhamka.
Menurut Tellys, perkembangan teknologi digital perlu disikapi secara kritis, termasuk dalam memilih instrumen investasi. Mahasiswa perlu memahami bahwa tawaran investasi yang menjanjikan keuntungan cepat harus dicermati secara hati-hati. “Teknologi digital itu ibarat senjata bermata dua, yakni bisa bermanfaat, tapi kalau salah, menjadi sumber kesesatan. Selama ini, investasi digital banyak yang menggiurkan, seolah-olah bisa menjadi cara untuk cepat kaya. Padahal, ini harus dikritisi,” ujar Tellys.
Pahami Risiko
Sementara itu, Market Expert & Chief Financial Analyst Dupoin Futures Geraldo Kovit mengatakan, literasi digital dan keuangan penting agar generasi muda mampu memahami peluang sekaligus risiko dalam ekonomi digital. Akses terhadap teknologi dan instrumen investasi saja tidak cukup. Generasi muda juga perlu memiliki kemampuan berpikir kritis, memahami risiko, serta mengambil keputusan keuangan secara bijak dan bertanggung jawab. Edukasi tersebut diharapkan membantu mahasiswa menghindari investasi ilegal dan keputusan impulsif, sekaligus membangun ketahanan finansial untuk masa depan.
Chief Investor Relation Dupoin Futures Dhiraj Kelly Salwani menambahkan, mahasiswa perlu membangun kebiasaan mengelola keuangan, termasuk mengurangi pengeluaran yang tidak diperlukan dan mengalokasikan sebagian dana untuk investasi. Dhiraj mengingatkan pentingnya membangun dana aman sebelum mengejar keuntungan investasi. Pemilihan instrumen juga harus disesuaikan dengan tujuan keuangan, bukan sekadar mengikuti tren.
Baca Juga
Industri Kripto Global Berkembang, Regulasi dan Keamanan Jadi Sorotan
Sebelum menempatkan dana, investor perlu memeriksa lima hal, yakni legalitas izin dan otoritas produk atau broker, tujuan investasi, risiko, biaya, serta bukti atau informasi pendukung. “Intinya lindungi dulu modalmu, jangan langsung ingin cepat kaya,” kata Dhiraj.
Product Marketing Supervisor Bittime Fini Charista turut menekankan pentingnya memahami karakteristik aset digital sebelum berinvestasi atau melakukan trading. Menurut dia, pilihan aset digital semakin beragam, mulai dari aset kripto seperti Bitcoin dan Ethereum hingga tokenisasi aset dunia nyata atau real-world assets (RWA).
Setiap aset memiliki karakteristik dan fungsi berbeda. Karena itu, investor perlu memahami cara kerja aset, likuiditas, volatilitas, serta aspek keamanan dan kepatuhan platform terhadap ketentuan yang berlaku.
Baca Juga
Harga Emas Turun ke US$ 4.100 Seusai Inflasi AS Melampaui Prediksi
Fini mengingatkan bahwa kenaikan harga tidak dapat menjadi satu-satunya dasar untuk memilih aset. Investor juga sebaiknya tidak sekadar mengikuti rekomendasi pihak lain atau membeli aset karena takut tertinggal tren.
Sementara itu, Wakil Dekan FISIP Uhamka sekaligus Dosen Program Studi Ilmu Komunikasi Uhamka Farida Hariyanto menegaskan, manajemen risiko merupakan bagian penting dari literasi sebelum melakukan trading maupun investasi.
Farida mengingatkan mahasiswa agar menggunakan dana yang tidak diperuntukkan bagi kebutuhan pokok atau kewajiban keluarga ketika berinvestasi. “Mahasiswa Uhamka sudah mendapatkan bekal banyak dari para ahli dalam kegiatan literasi keuangan Smartin,” ujar Farida.
