IHSG Sesi I Terjun Bebas ke 5.814, Analis Ungkap Biang Keroknya
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Kejatuhan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) sebanyak 2,16% ke level 5.814,72 pada penutupan perdagangan sesi I, Kamis (15/10/2026), dipengaruhi tekanan sentimen global dan domestik, mulai dari pergerakan rupiah hingga kenaikan inflasi Amerika Serikat (AS).
Pengamat Pasar Modal Elandry Pratama menilai, pelemahan IHSG masih dipengaruhi kombinasi sejumlah faktor eksternal dan domestik. Tekanan terhadap rupiah, kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS (US Treasury), serta potensi aliran dana keluar akibat aksi jual investor asing menjadi sentimen yang membebani pasar saham.
Menurut Elandry, kondisi tersebut berpotensi mengurangi minat investor terhadap aset berisiko, termasuk saham. Untuk mengidentifikasi faktor utama yang menekan IHSG, investor perlu mencermati pergerakan penjualan bersih investor asing (net sell) serta saham-saham berkapitalisasi besar yang paling membebani indeks.
Baca Juga
IHSG Sesi I Terjerembab 2,16% ke Level 5.814, Seluruh Sektor Saham Berguguran
“Untuk memastikan pemicu utamanya, perlu dilihat pergerakan net sell asing dan saham-saham big caps yang paling membebani indeks,” kata Elandry saat dihubungi investortrust.id, Kamis (15/10/2026).
Di tengah koreksi IHSG, Elandry menilai saham perbankan berkapitalisasi besar masih menarik untuk dicermati. Saham tersebut meliputi PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI).
Menurut dia, koreksi harga berpotensi membuat valuasi saham-saham perbankan tersebut menjadi lebih menarik. Meski demikian, investor perlu mempertimbangkan kondisi pasar sebelum mengambil keputusan investasi. Elandry mengingatkan investor agar tetap selektif dan tidak terburu-buru melakukan akumulasi saham sebelum tekanan jual mereda dan volatilitas pasar menjadi lebih stabil.
Suku Bunga The Fed
Senada dengan Elandry, Senior Technical Analyst PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia Muhammad Nafan Aji menyoroti inflasi AS yang lebih tinggi dari perkiraan pasar sebagai salah satu faktor yang menekan pasar saham.
Laporan Bureau of Labor Statistics menunjukkan indeks harga konsumen (Consumer Price Index/CPI) AS meningkat 0,6% secara bulanan (month-on-month/MoM) dan 3,7% secara tahunan (year-on-year/YoY) pada September 2026. Kenaikan inflasi tersebut terutama dipicu lonjakan harga bensin sebesar 9,1% secara bulanan serta kenaikan harga energi secara keseluruhan.
Baca Juga
MedcoEnergi (MEDC) Akuisisi 10% Hak Partisipasi di 4 Blok Gas Cekungan Kutai dari Eni
Inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan turut mengubah ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan suku bunga bank sentral AS, The Federal Reserve (The Fed). Berdasarkan CME FedWatch Tool, probabilitas kenaikan suku bunga acuan pada pertemuan 28 Oktober 2026 meningkat menjadi sekitar 32,7%.
Perubahan ekspektasi tersebut turut tercermin di pasar obligasi AS. Nafan menyebut imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor dua tahun (US 2-Year Bond Yield) menguat 0,27% ke level 4,806%. “Dampaknya langsung terasa di pasar obligasi, di mana US 2-Year Bond Yield saat ini menguat 0,27% di level 4,806%,” kata Nafan.
Harga Minyak Naik
Selain inflasi AS, tekanan terhadap pasar global juga dipengaruhi pergerakan harga komoditas dan ketegangan geopolitik. Harga minyak mentah Brent naik 0,45% menjadi US$106,17 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) menguat 1,07% ke level US$95,17 per barel.
Kenaikan harga minyak tersebut terjadi di tengah eskalasi serangan balasan antara kelompok Houthi dan koalisi pimpinan Arab Saudi. Serangan dilaporkan menyasar fasilitas energi serta bandara di Riyadh dan Dhahran. Perkembangan tersebut menambah tekanan sentimen global di tengah perhatian pasar terhadap inflasi dan arah kebijakan suku bunga AS.
Baca Juga
Resmi Berganti Nama, Saham Fortune (FITT) Disebut Menuju Level Ini
Di tengah tekanan IHSG, Nafan merekomendasikan tiga saham untuk dicermati berdasarkan analisis teknikal, yakni PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN), PT Elnusa Tbk (ELSA), dan PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI). Berikut rekomendasi saham dan target harga dari Nafan, yaitu saham BBTN direkomendasikan buy on weakness pada kisaran Rp1.015–Rp1.055, dengan target harga Rp1.065. Saham ELSA direkomendasikan add dengan target harga Rp695 dan WIFI dengan target harga Rp 1.435.
Rekomendasi tersebut dapat menjadi bahan pertimbangan investor dalam mencermati peluang di tengah koreksi pasar. Namun, tekanan jual, volatilitas IHSG, serta perkembangan sentimen global dan domestik tetap perlu diperhatikan sebelum mengambil keputusan investasi.
