Asing Jualan Rp 111 Triliun, IHSG Butuh Apa untuk Bangkit?
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id -Tekanan jual investor asing di pasar saham Indonesia yang mencapai sekitar Rp 111 triliun secara year to date (sejak awal tahun) tidak terlepas dari kondisi pasar keuangan global dan belum kuatnya kepercayaan terhadap perekonomian domestik.
Analis pasar modal sekaligus Founder Republik Investor Hendra Wardana mengatakan kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat atau US Treasury membuat investor global memiliki alternatif investasi dengan risiko relatif lebih rendah dan imbal hasil yang semakin menarik. Kondisi tersebut dapat mendorong perpindahan dana dari negara berkembang, termasuk Indonesia, menuju aset berbasis dolar AS.
Dampaknya tidak hanya dirasakan pasar saham, tetapi juga nilai tukar rupiah. Pelemahan rupiah dapat meningkatkan risiko bagi investor asing karena keuntungan investasi saham dalam rupiah berpotensi tergerus saat dikonversikan kembali ke dolar AS.
“Dalam konteks ini, tekanan terhadap IHSG tidak semata-mata mencerminkan penilaian terhadap kinerja emiten, tetapi juga dipengaruhi oleh perbedaan imbal hasil, persepsi risiko, dan stabilitas makroekonomi. Hingga saat ini, berdasarkan data yang menjadi perhatian pelaku pasar, investor asing telah mencatatkan net sell sekitar Rp 111 triliun secara ytd,” kata Hendra kepada media, Senin, (12/10/2026).
Dia menilai besarnya penjualan bersih atau net sell asing tersebut perlu diimbangi oleh permintaan domestik yang kuat. Namun, persoalan pasar modal Indonesia bukan semata-mata keterbatasan dana investor lokal, melainkan bagaimana menciptakan kondisi yang mendorong mereka berinvestasi di saham untuk jangka panjang.
Baca Juga
Saat IHSG Anjlok 2,59%, Asing Justru Net Buy Rp 128 Miliar, GOTO Paling Diburu
“Angka tersebut menunjukkan besarnya tekanan jual yang perlu diimbangi oleh permintaan domestik. Namun, saya melihat persoalannya bukan sekadar investor lokal kekurangan dana, melainkan bagaimana menciptakan kondisi agar dana domestik bersedia masuk ke saham dengan orientasi jangka panjang,” terang Hendra.
Hendra juga bilang pertumbuhan jumlah investor domestik belum cukup untuk menahan tekanan jual asing. Pasalnya, bertambahnya jumlah rekening investor tidak otomatis meningkatkan daya beli di pasar saham dalam proporsi yang sama.
Sementara itu, pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sangat dipengaruhi oleh nilai transaksi dan kapitalisasi pasar saham-saham berukuran besar. Ketika investor asing melepas saham perbankan, telekomunikasi, dan emiten berkapitalisasi besar lainnya, tekanan terhadap indeks dapat tetap dominan meskipun jumlah investor ritel domestik meningkat.
Investor ritel domestik memang dapat menjadi penyangga pasar, tetapi kemampuan tersebut memiliki batas, terutama ketika sentimen global memburuk dan pelaku pasar cenderung menghindari aset berisiko.
Hendra menambahkan, investor domestik juga dapat memilih menahan kas atau mengalihkan dana ke instrumen pasar uang, obligasi, dan deposito ketika ketidakpastian meningkat.
“Selama imbal hasil aset global masih menarik, rupiah menghadapi tekanan, dan kepastian arah kebijakan fiskal belum sepenuhnya terbentuk, arus masuk asing ke Indonesia berpotensi tetap terbatas,” tuturnya.
Selain faktor global, Hendra menilai pemulihan kepercayaan investor juga bergantung pada konsistensi kebijakan fiskal dan arah pengelolaan ekonomi Indonesia. Investor asing tidak hanya mempertimbangkan valuasi saham, tetapi juga keberlanjutan APBN, kebutuhan pembiayaan pemerintah, stabilitas rupiah, serta konsistensi kebijakan dalam mendorong pertumbuhan ekonomi.
Karena itu, menurutnya, pembalikan arah IHSG tidak cukup hanya mengandalkan pertumbuhan investor ritel atau harapan terhadap keputusan Morgan Stanley Capital International (MSCI) pada November 2026.
Reformasi transparansi dan tata kelola pasar modal perlu berjalan beriringan dengan kredibilitas kebijakan fiskal, stabilitas nilai tukar, serta perbaikan prospek laba emiten.
“Namun, sebelum sinyal tersebut terlihat jelas, saya menilai pasar masih berpotensi bergerak volatil dan pemulihan kepercayaan akan membutuhkan waktu,” kata Hendra.
