Saham BBCA Jadi Motor IHSG, Investor Domestik Serbu Saham Bank Saat Asing Masih Jualan
JAKARTA, investortrust.id – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) kembali melanjutkan penguatan. Setelah melonjak signifikan sebesar 7,57% pada perdagangan Selasa (9/6), IHSG kembali ditutup naik 2,71% ke level 5.902 pada perdagangan Rabu (10/9) di mana salah satu penopangnya adalah saham BBCA. Pada sesi pembukaan, indeks memang sempat turun ke 5.744 lalu berbalik cepat hingga menyentuh level tertinggi harian di 5.942.
Pada perdagangan kemarin, BBCA kembali menjadi penopang utama pergerakan IHSG. Volume transaksinya tembus Rp4,1 trilun, tertinggi dibandingkan lainnya. Jumlah saham yang berpindah tangan mencapai 747,4 juta lembar dan ditransaksikan sebanyak 122,371 kali. Pada perdagangan sehari sebelumnya, nilai transaksi BBCA juga menjadi yang tertinggi sebesar Rp3,86 triliun.
Baca Juga
Rupiah Terkoreksi ke Rp 17.952 Per Dolar Saat Inflasi AS Memanas dan Timur Tengah Bergejolak
Analis menilai pergerakan IHSG selama dua hari terakhir sangat menarik dicermati karena menunjukkan pembalikan arah (rebound) yang sangat kencang namun disertai jual bersih asing yang masih tinggi. “Apakah kenaikan ini akan berlanjut terus atau justru kembali melemah (false rebound), memang perlu dikonfirmasi pada perdagangan hari hari berikutnya. Namun yang pasti, dalam dua terakhir, investor domestik tampak dominan dan pegang kendali,” kata analis Sinarmas Sekuritas Yosua Zisokhi.
Seperti pada perdagangan sebelumnya, kenaikan IHSG masih diselimuti aksi jual bersih asing atau net foreign sell (NFS) yang mencapai Rp3,13 triliun, terutama di sejumlah saham blue chip. BBRI dan TPIA membukukan jual bersih asing paling besar mencapai Rp571,3 miliar dan Rp395 miliar. Menariknya, meski asing melepas BBRI, harga sahamnya berhasil menguat 3,23% ke Rp2.880. Sementara itu TPIA anjlok 7,42% ke Rp1.810 setelah sempat melesat di sesi pertama perdagangan.
Mengutip data RTI, dari total transaksi perdagangan Rabu senilai Rp31,7 triliun, investor domestik membukukan pembelian Rp20,2 triliun berbanding pembelian investor asing yang mencapai Rp11,5 triliun. Di saat yang sama asing juga melakukan penjualan Rp14,7 triliun sehingga menghasilkan selisih jual (NFS) Rp3,13 triliun. “Ini merupakan sinyal positif karena menunjukkan pulihnya persepsi atau kepercayaan investor terhadap prospek kinerja saham di Indonesia. Meski konsistensinya masih perlu diuji, tapi pencapaian dua hari terakhir ini patut diapresiasi,” katanya.
Baca Juga
Rebound Berlanjut Terdorong Saham BBCA, IHSG Akhirnya Berbalik Sentuh Level 6.000
Analis Yosua menyoroti performa impresif saham BBCA dalam dua hari terakhir. Setelah melesat 6,19% saat IHSG terbang 7,57%, hari ini BBCA melonjak 9,71% di saat indeks hanya menguat 2,71%. Bukan hanya nilai transaksinya yang sangat tinggi dan menopang IHSG, aksi jual asing di saham ini juga mulai menyusut. Jual bersih asing di pasar reguler hanya Rp36 miliar.
“Saat IHSG rebound setelah mengalami tekanan jual yang ekstrim, maka wajar jika investor institusi akan berbondong bondong masuk ke saham blue chip yang salah harga. Saham perbankan seperti BBCA, BBNI, BMRI dan BBRI menjadi salah pilihan utama karena memiliki kinerja keuangan yang sangat baik, fundamental kuat dan konsisten membagi dividen,” katanya.
Yosua menilai ke depan fluktuasi IHSG terbilang masih relatif tinggi. Apalagi indeks melaju sangat kencang dalam dua hari yang belum diimbangi dengan foreign inflow. Investor cenderung memanfaatkan momentum untuk profit taking begitu muncul tanda tanda akan terjadi koreksi.
Baca Juga
IHSG Masih Bisa Menguat ke 6.000, Namun Profit Taking Berpotensi Muncul
“Tapi tekanannya tidak akan seberat pekan pekan sebelumnya seiring tingginya komitmen otoritas fiskal dan moneter dalam memperbaiki keadaan. BI sudah menaikkan suku bunga acuan 2x berturut turut untuk menjaga nilai tukar, sementara pemerintah menaikkan harga BBM non subsidi untuk mengurangi tekanan fiskal. Pemerintah juga sudah menyampaikan informasi yang lebih clear terkait peran BUMN ekspor dalam konteks ekspor SDA strategis,” katanya.
Yosua menilai perbaikan kebijakan dan komunikasi yang positif antara otoritas dengan para pelaku pasar akan membangkitkan optimisme terhadap prospek IHSG. Pada titik ini, investor domestik tidak akan terlalu peduli dengan manuver asing karena pada akhirnya investor membeli saham karena fundamental, pertumbuhan kinerja, profitablitas dan konsistensi dalam membagikan dividen. “Jika wonderful company ini valuasinya sudah kelewat murah, salah harga, investor pasti berebut beli. Yang penting, situasi makronya terjaga baik,” katanya.
