JPMorgan Sebut Arus Dana ke Aset Digital Capai Rp 894,5 Triliun Sepanjang 2026
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Analis JPMorgan memperkirakan arus dana yang masuk ke aset digital mencapai sekitar US$50 miliar atau setara sekitar Rp 894,5 triliun, sepanjang 2026 hingga 8 Oktober. Angka tersebut setara dengan laju tahunan (annualized pace) sekitar US$66 miliar atau Rp 1.180,74 triliun, meningkat dibandingkan laju tahunan sebesar US$52 miliar atau Rp930,28 triliun yang tercatat pada Mei 2026.
Mengutip laporan The Block pada 8 Oktober 2026, estimasi tersebut menunjukkan peningkatan arus modal ke pasar aset digital. Meski demikian, laju arus masuk tahunan itu masih sekitar separuh dari laju yang tercatat pada tahun sebelumnya.
Peningkatan arus dana tersebut didukung oleh membaiknya aliran investasi ke produk exchange-traded fund (ETF) kripto sejak Agustus 2026. Selain itu, posisi kontrak berjangka Bitcoin dan Ether yang dimiliki investor institusional di Chicago Mercantile Exchange (CME) juga meningkat dalam dua bulan terakhir.
Meski menunjukkan pemulihan, arus masuk ETF sepanjang 2026 belum mampu mengimbangi arus keluar kumulatif yang dihitung sejak penurunan pasar kripto pada 10 Oktober 2025.
Baca Juga
ETF Bitcoin Tertinggal dari Emas, JPMorgan Soroti Sikap Defensif Investor
Perbedaan tersebut berkaitan dengan periode pengukuran. Arus dana yang tercatat positif sepanjang 2026 menggunakan awal tahun sebagai titik acuan, sedangkan perhitungan kumulatif sejak Oktober 2025 mencakup periode yang lebih panjang.
Dengan demikian, peningkatan arus masuk dalam beberapa bulan terakhir belum sepenuhnya membalikkan arus keluar yang terjadi selama periode penurunan pasar sebelumnya.
Mengutip Coinmarketcapnews, Minggu (11/10/2026) selain arus dana ETF, analis JPMorgan mencatat peningkatan posisi institusional dalam kontrak berjangka Bitcoin dan Ether di CME selama dua bulan terakhir. Aktivitas tersebut meningkat setelah sempat melambat pada awal tahun.
Perkembangan ini menjadi salah satu indikator meningkatnya kembali partisipasi investor institusional di pasar aset digital. Namun, pergerakan posisi berjangka dan arus ETF tetap perlu dilihat bersama indikator pasar lainnya untuk memahami arah investasi secara keseluruhan.
Baca Juga
Why JPMorgan Targets a 7,000 Milestone as Foreign Capital Rushes Back to Jakarta
Di sisi lain, aktivitas penambang Bitcoin menunjukkan tren berbeda. Para penambang tercatat sebagai penjual bersih (net seller) dengan total penjualan bersih sekitar US$1,8 miliar sepanjang 2026 hingga 8 Oktober.
Penjualan tersebut berlangsung ketika estimasi arus masuk agregat ke aset digital menunjukkan peningkatan dibandingkan laju tahunan pada Mei.
Kondisi ini memperlihatkan bahwa pemulihan arus investasi ke aset digital belum sepenuhnya menghilangkan tekanan dari sisi lain pasar. Perkembangan arus ETF, posisi berjangka investor institusional, serta aktivitas penjualan penambang menjadi sejumlah indikator yang dapat dicermati untuk melihat dinamika pasar kripto selanjutnya.
