JPMorgan Yakin Arus Modal Global ke Aset Kripto Berpotensi Lampaui Rekor di Tahun Ini
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - JPMorgan memperkirakan arus modal global ke aset kripto pada tahun ini berpeluang melampaui rekor US$ 130 miliar yang tercatat sepanjang 2025. Proyeksi tersebut disampaikan dalam laporan JPMorgan yang dirilis oleh analis Nikolaos Panigirtzoglou, belum lama ini.
Melansir CoinDesk, Selasa (20/1/2026), meski pasar kripto mengalami koreksi pada kuartal terakhir setelah mencatat kenaikan selama sembilan bulan sebelumnya, JPMorgan menilai total aliran dana sepanjang 2025 tetap tumbuh sekitar sepertiga dibanding 2024.
Perhitungan ini mencakup arus dana ke reksa dana kripto, posisi yang tercermin di kontrak berjangka Chicago Mercantile Exchange (CME), pendanaan modal ventura, serta pembelian aset digital oleh treasury perusahaan.
Baca Juga
Prospek Infrastruktur Kripto Menguat, Samuel Sekuritas Bidik Saham COIN Bisa ke Level Ini
Menurut JPMorgan, pergerakan modal global ke aset digital kini menjadi indikator penting bagi momentum pasar kripto karena berpengaruh langsung terhadap harga dan likuiditas.
Setelah bertahun-tahun didominasi fluktuasi antara lonjakan investor ritel dan penarikan dana institusional, arah investasi kripto semakin ditentukan oleh faktor regulasi, kondisi makroekonomi, serta ketersediaan instrumen investasi seperti exchange traded fund (ETF), exchange traded products (ETP), kontrak berjangka, dan strategi treasury perusahaan.
Lonjakan arus dana pada 2025 terutama didorong oleh permintaan investor ritel, khususnya melalui ETF Bitcoin (BTC) dan Ethereum (ETH), serta pembelian oleh treasury aset digital perusahaan. JPMorgan memperkirakan lebih dari separuh total inflow, sekitar US$ 68 miliar berasal dari treasury korporasi.
Baca Juga
LPEM FEB UI Ungkap Profil Investor Kripto Indonesia: Mayoritas Bergaji di Bawah Rp 8 Juta
Strategy (MSTR) menjadi kontributor terbesar dengan nilai pembelian sekitar US$ 23 miliar, sejalan dengan pola akumulasi perusahaan tersebut pada 2024. Sementara itu, perusahaan lain meningkatkan pembelian aset digital hingga US$ 45 miliar, melonjak dari hanya US$ 8 miliar di tahun sebelumnya.
Sebagai pemegang Bitcoin korporasi terbesar di dunia, Strategy menjadikan neraca keuangannya sebagai cerminan taruhan jangka panjang terhadap Bitcoin. Langkah agresif ini turut mendorong legitimasi Bitcoin sebagai aset treasury perusahaan publik, namun sekaligus meningkatkan sensitivitas kinerja saham Strategy terhadap volatilitas harga kripto.
Namun, momentum tersebut melemah pada kuartal keempat 2025. JPMorgan mencatat pembelian oleh treasury aset digital melambat signifikan setelah Oktober. Aktivitas institusional yang tercermin dari kontrak berjangka Bitcoin dan Ether di CME juga menurun sepanjang 2025, mengindikasikan berkurangnya eksposur hedge fund dan investor profesional dibandingkan tahun sebelumnya.
Baca Juga
LPEM FEB UI Ungkap Profil Investor Kripto Indonesia: Mayoritas Bergaji di Bawah Rp 8 Juta
Ke depan, JPMorgan memperkirakan komposisi arus dana ke kripto akan berubah. Indikator aliran dana dan posisi pasar dinilai mulai membentuk titik dasar, membuka peluang pemulihan yang dipimpin oleh investor institusional pada 2026.
Kejelasan regulasi di Amerika Serikat, termasuk potensi pengesahan undang-undang struktur pasar kripto, juga dipandang dapat menjadi katalis utama bagi peningkatan adopsi institusional.
