Merck Beberkan Upaya Dongkrak Kinerja Setelah Lepas P&G
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – PT Merck Tbk (MERK) membeberkan fokus dan strategi perseroan di tengah perubahan yang akan terjadi, setelah berakhirnya kontrak dengan Procter & Gamble (P&G) pada 31 Desember 2027.
Saat tidak lagi memproduksi consumer health pada 2028, perseroan menyiapkan komitmen untuk fokus pada bisnis obat-obat resep.
“Penguatan produksi dan pemasaran obat-obat resep bertujuan mengoptimalkan kapabilitas Pabrik Pasar Rebo, guna mendukung kebutuhan pasar domestik dan memperluas jangkauan ke pasar Asia,” ujar Direktur Merck, Arryo Aritrixso Wachjuwidajat dalam paparan publik di Pabrik Merck Pasar Rebo, kemarin.
Perusahaan sains dan teknologi itu berencana mengimpor produk jadi berbasis bioteknologi, serta memasarkan produk-produk tersebut di Indonesia. Manajemen menginformasikan, saat ini sekitar 60% penjualan healthcare berasal dari produk bioteknologi impor dan sekitar 40% dari produksi sendiri.
Di pasar domestik, produk-produk Merck diklaim masih menempati posisi nomor satu pada sejumlah area terapi, yaitu tiroid, kardiovaskular, diabetes, multiple sclerosis, fertility, growth hormone, serta onkologi.
Selain itu, perseroan mengakselerasi produk Bavencio dan Mavenclad, meluncurkan Tepmetko untuk kanker paru-paru, serta menjajaki potensi tambahan produk dari akuisisi SpringWorks yang akan disesuaikan dengan business case untuk pasar Indonesia.
Selanjutnya Pabrik Merck di Pasar Rebo juga disiapkan untuk memperkuat kontribusi ekspor obat resep. Dalam tiga tahun ke depan, pabrik ini secara bertahap akan memproduksi Glucophage XR, Glucophage IR, Glucovance, dan Concor untuk pasar Asia, dengan rencana ekspansi mencakup Filipina pada 2026, serta Hong Kong, Singapura, Brunei, Malaysia, dan Thailand pada 2027–2029.
Baca Juga
Merck Indonesia (MERK) Perkirakan Dividen Turun Setelah Kontrak P&G Berakhir
Kinerja 2026 Masih Positif
Upaya manajemen untuk membangun pondasi pertumbuhan yang baru, didukung kinerja keuangan paruh pertama tahun ini yang masih positif.
Merck masih mencetak lonjakan laba bersih 396% secara tahunan (yoy) menjadi Rp 111,75 miliar pada semester I-2026. Sementara pendapatan perseroan pada periode yang sama tumbuh 31,25% (yoy) menjadi Rp 630,23 miliar.
Di saat yang sama, volume produk P&G menurun 0,7% karena perseroan tidak lagi memasok produk liquid. Sementara harga pasokan meningkat 98%, seiring penyesuaian harga pada manufacturing supply agreement (MSA) terbaru.
Hingga akhir Juni 2026, rasio utang terhadap ekuitas (debt-to-equity ratio) Merck berada di kisaran 0,27 kali, menunjukkan bahwa ekuitas perseroan lebih besar dibandingkan utang.
Sedangkan rasio lancar (current ratio) adalah 5 dan return on assets tercatat 9,1% dengan return on equity sebesar 11,59%.
Meski mencatatkan kinerja positif pada semester I-2026, perseroan tetap merasa butuh mengakui penurunan nilai aset. Sebab, evaluasi ini mempertimbangkan kondisi dan prospek aset tersebut.
Perseroan telah mengumumkan pencatatan penurunan nilai aset Pabrik Pasar Rebo Jakarta sebesar Rp 87 miliar pada 30 September 2026. Penurunan nilai ini terutama dipengaruhi perubahan material dalam prospek volume produksi, utilisasi kapasitas, dan arus kas masa depan menjelang berakhirnya MSA dengan P&G.
Pengakuan tersebut juga akan berdampak pada nilai tercatat aset dan laba perseroan pada 2026. Risiko penyesuaian nilai aset ini telah diungkapkan dalam Laporan Tahunan 2024 dan 2025.
“Transparansi adalah prinsip yang kami pegang. Oleh karena itu, kami mengevaluasi nilai aset Pabrik Pasar Rebo secara cermat bersama penilai independen dan mencatat penurunan nilai tersebut sesuai hasil evaluasi, serta ketentuan akuntansi yang berlaku,” tegas Direktur Merck, Bambang Nurcahyo.
Hasil penilaian berasal dari penilai independen KJPP Suwendho Rinaldy dan Rekan (KJPP SRR), yang menetapkan nilai pasar aset sebesar Rp 93 miliar per 31 Agustus 2026.
Dengan menerapkan pendekatan konservatif sesuai panduan Merck Group Accounting dan ketentuan PSAK yang berlaku, perseroan mengakui beban penurunan nilai sebesar Rp 87 miliar. Alhasil nilai buku neto aset setelah penurunan nilai menjadi Rp 75 miliar.
“Pencatatan dilakukan pada September 2026 agar tercermin dalam pembukuan kuartal III-2026, sehingga publik memperoleh transparansi dan informasi lebih cepat,” tambah Sekretaris Perusahaan Merck, Melisa Sandriati.
