MSCI Diperkirakan Pertahankan ‘Freeze’ Indonesia, Perebutan Dana Asing Makin Ketat
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Status pasar saham Indonesia dalam review MSCI pada November 2026 masih akan menjadi perhatian investor. Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata memperkirakan, MSCI mempertahankan status freeze untuk Indonesia.
“Alasannya simple dan sangat manusiawi kalau dilihat dari sisi bisnis: MSCI sudah dua kali kena batunya gara-gara saham besar kita,” ujar Liza dikutip pada Rabu (7/10/2026).
Salah satunya terkait free float saham PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) dan PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA).
Kedua saham tersebut memiliki kapitalisasi pasar yang besar sehingga secara teori seharusnya mampu menampung transaksi investor asing dalam jumlah signifikan. Namun, jumlah saham yang benar-benar tersedia untuk dibeli investor di pasar dinilai tidak sebesar free float yang tercatat.
Persoalan lain datang dari PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO). Berbeda dengan BREN dan DSSA, Liza menilai GOTO tidak memiliki persoalan free float karena porsinya bahkan berada di atas 70%.
Namun kondisi tersebut tidak serta-merta membuat kinerja saham dari IPO unicorn terbesar di Indonesia tersebut, sesuai ekspektasi. Pasalnya saham emiten yang sudah mencetak laba sejak awal 2026 ini tetap tertekan, hingga berada di bawah level Rp 50.
Baca Juga
Nasib Indonesia di MSCI November Dipertaruhkan, Freeze Bakal Dicabut?
“Dugaan kami, banyak investor institusi yang nyangkut dalam di saham ini dan kesalnya bukan main,” imbuh Liza.
Menurut dia, kondisi tersebut dapat membuat MSCI semakin berhati-hati dalam mengambil keputusan. Sebab, saham-saham besar yang sebelumnya telah lolos dalam penyaringan indeks saja masih menimbulkan persoalan.
Sementara jika freeze dicabut, MSCI kembali harus menentukan saham yang masuk (addition) dan keluar (deletion) dari indeks.
“Cabut freeze artinya MSCI mempertaruhkan lagi kredibilitas penilaiannya sendiri, dan itu bakal langsung kelihatan di daftar addition/deletion yang baru. Di posisi seperti itu, menunggu jelas pilihan yang paling masuk akal,” tandas Liza.
Dia menambahkan bahwa persoalan tersebut bukan berarti Indonesia sedang dihukum, melainkan menunjukkan bahwa kepercayaan investor perlu dibangun kembali melalui perbaikan yang dapat dibuktikan.
Di sisi lain, tantangan Indonesia dalam menarik dana asing juga semakin besar karena harus bersaing dengan negara-negara lain di kawasan ASEAN. Salah satunya Vietnam yang mendapatkan peningkatan status menjadi emerging market oleh FTSE Russell.
Belum lagi, pertumbuhan ekonomi Vietnam saat ini tergolong tinggi. “Indonesia berebut fund inflows dengan negara tetangga ASEAN yang GDP-nya sukses di atas 8%-9% dan yang terpenting, much less drama,” pungkasnya.
