Penjualan Bersih Asing Tembus Rp 82,5 Triliun
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Tekanan terhadap pasar modal Indonesia semakin dalam memasuki Oktober 2026. Penjualan bersih investor asing (foreign net sell) di Bursa Efek Indonesia (BEI) sepanjang tahun berjalan telah menembus Rp82,55 triliun, atau sekitar US$4,61 miliar, bersamaan dengan anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sebesar 30,18% sejak awal tahun.
Berdasarkan IDX Daily Statistics, Jumat (02/10/2026), investor asing kembali mencatat penjualan bersih Rp1,27 triliun hanya dalam satu hari perdagangan. Dengan tambahan tersebut, akumulasi net sell asing sepanjang 178 hari perdagangan 2026 mencapai tepatnya Rp82,553 triliun.
Besarnya arus keluar dana asing menjadi salah satu gambaran tekanan yang dihadapi pasar saham domestik tahun ini. Dana asing terutama memiliki eksposur besar pada saham-saham berkapitalisasi besar dan likuid. Karena itu, tekanan jual yang berkelanjutan pada kelompok saham tersebut dapat memberikan pengaruh signifikan terhadap pergerakan IHSG.
Baca Juga
Resmi Jadi Anggota ICEx, Samuel Kripto Indonesia Perkuat Ekosistem Aset Kripto
IHSG sebenarnya berhasil menguat pada perdagangan Jumat. Indeks naik 27,386 poin atau 0,46% menjadi 6.036,888, setelah bergerak pada rentang 5.979,983 hingga 6.053,236. Namun, kenaikan sehari itu belum banyak mengubah gambaran sepanjang 2026. Sejak awal tahun, IHSG telah kehilangan 30,18% nilainya.
Kejatuhan tersebut menempatkan Indonesia di posisi paling bawah dalam perbandingan kinerja year to date 36 pasar saham dunia yang disajikan BEI. Perbedaannya dengan sejumlah pasar Asia sangat mencolok. Ketika IHSG turun 30,18%, indeks Taiwan justru melonjak 67,37%, Korea Selatan 66,20%, Jepang 35,70%, Thailand 24,76%, dan Singapura 21,28%.
Di ASEAN pun posisi Indonesia menjadi yang terlemah. Thailand mencatat kenaikan 24,76%, Singapura 21,28%, Vietnam 0,03%, sedangkan Malaysia turun 2,93% dan Filipina melemah 7,00%. Indonesia berada jauh di bawah semuanya dengan kontraksi 30,18%.
Dengan kata lain, tekanan yang terjadi di BEI pada 2026 jauh lebih dalam dibandingkan koreksi yang dialami sebagian besar pasar saham yang menjadi pembanding BEI.
Baca Juga
Lewat Produk Ini, AIA Kasih Proteksi Keuangan untuk Nasabah Kaya BCA
Kejatuhan harga saham ikut menekan nilai perusahaan-perusahaan yang tercatat di BEI. Pada 2 Oktober 2026, total kapitalisasi pasar BEI berada di Rp10.627 triliun, atau sekitar US$594 miliar berdasarkan kurs BI Rp17.898 per dolar AS. Sementara kapitalisasi pasar IHSG yang telah disesuaikan dengan free float tercatat sekitar Rp2.612 triliun, setara US$146 miliar.
Besarnya penurunan IHSG menunjukkan terjadinya erosi nilai yang sangat besar pada portofolio investor sepanjang tahun, meskipun penurunan indeks sebesar 30,18% tidak dapat diterjemahkan secara langsung sebagai penurunan kapitalisasi pasar dengan persentase yang sama karena terdapat IPO, penambahan saham, aksi korporasi, perubahan jumlah saham tercatat, serta perubahan komposisi emiten sepanjang tahun.
Tekanan terhadap kapitalisasi pasar juga terkonsentrasi pada sejumlah perusahaan raksasa yang selama ini menjadi penopang IHSG.
BBCA Masih Emiten Terbesar
PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) masih menjadi perusahaan dengan kapitalisasi pasar terbesar di Bursa Efek Indonesia. Nilai pasar BBCA pada penutupan Jumat mencapai sekitar Rp744 triliun, setara 7,01% dari total kapitalisasi pasar BEI.
Posisi kedua ditempati DCII dengan kapitalisasi pasar Rp479 triliun atau 4,51%, kemudian BBRI Rp462 triliun atau 4,35%.
BYAN berada di posisi keempat dengan Rp392 triliun atau 3,69%, diikuti BREN Rp379 triliun atau 3,56%, BMRI Rp372 triliun atau 3,50%, dan AMMN Rp307 triliun atau 2,89%.
Baca Juga
Astra International (ASII) Tebar Dividen Interim Rp 3,89 Triliun, Catat Tanggal Pentingnya
Tiga perusahaan lainnya yang melengkapi sepuluh emiten terbesar adalah TLKM dengan kapitalisasi Rp223 triliun atau 2,10%, DSSA Rp220 triliun atau 2,07%, dan MORA Rp213 triliun atau 2,00%.
Dengan demikian, 10 emiten terbesar memiliki kapitalisasi pasar gabungan sekitar Rp3.791 triliun, atau sekitar 35,7% dari keseluruhan kapitalisasi pasar BEI.
Besarnya konsentrasi tersebut membuat pergerakan saham-saham berkapitalisasi jumbo mempunyai pengaruh besar terhadap arah IHSG.
Big Caps Berguguran
Tekanan pasar sepanjang 2026 terlihat jelas pada saham-saham besar. BBCA, yang merupakan saham dengan kapitalisasi pasar terbesar, telah terkoreksi 24,46% YTD dan memberikan tekanan sekitar 189,52 poin terhadap IHSG.
DSSA bahkan anjlok 71,78% dan menjadi pemberat terbesar IHSG sepanjang tahun dengan kontribusi negatif sekitar 256,31 poin. BREN turun 70,82% dengan tekanan sekitar 254,44 poin.
TLKM melemah 35,34% dan membebani indeks sekitar 127,47 poin. TPIA jatuh 75,71%, BRPT merosot 56,57%, dan FILM bahkan kehilangan 95,93% nilainya sejak awal tahun.
Baca Juga
Kejagung Sita Pesawat dan Helikopter Terkait Korupsi Proyek Motor Listrik MBG
Saham bank besar lainnya juga berada di zona merah. BBRI terkoreksi 15,85% dan BMRI turun 20,98%. ASII melemah 30,90%.
Sepuluh saham yang tercatat sebagai pemberat utama IHSG sepanjang tahun adalah DSSA, BREN, BBCA, TLKM, TPIA, BRPT, FILM, BBRI, ASII, dan BMRI.
Besarnya penurunan sejumlah saham berkapitalisasi besar menjelaskan mengapa IHSG sulit bangkit secara signifikan meskipun pada hari-hari tertentu terdapat ratusan saham yang mengalami kenaikan.
Tekanan pasar juga tidak hanya terjadi pada beberapa saham tertentu. Seluruh 11 indeks sektoral BEI masih mencatat kinerja negatif secara YTD. Sektor teknologi menjadi korban paling berat dengan penurunan 39,92%, disusul properti dan real estat yang anjlok 37,23% serta infrastruktur 37,10%.
Baca Juga
Sektor kesehatan turun 31,30%, energi 29,59%, industrial 26,91%, dan barang konsumen siklikal 26,48%. Sektor bahan baku melemah 20,19%. Sementara sektor barang konsumen primer terkoreksi 15,86%, keuangan 15,44%, serta transportasi dan logistik 14,76%.
Dengan demikian, tidak ada satu pun dari 11 sektor utama BEI yang masih memberikan kinerja positif sejak awal 2026. Menariknya, sektor keuangan relatif lebih tahan dengan koreksi 15,44%, meskipun saham-saham bank besar seperti BBCA, BBRI, dan BMRI mengalami penurunan cukup besar.
Teknologi Terpuruk Hampir 40%
Kejatuhan sektor teknologi sebesar 39,92% merupakan koreksi terdalam di antara seluruh sektor BEI. Setelah itu terdapat properti dan real estat dengan minus 37,23% serta infrastruktur minus 37,10%.
Kondisi tersebut memperlihatkan tekanan pasar tidak hanya mengenai saham-saham komoditas ataupun perbankan, tetapi juga menyebar ke perusahaan teknologi, properti, infrastruktur, kesehatan hingga consumer.
Bahkan sektor energi, yang secara fundamental seharusnya mendapatkan dukungan dari tingginya harga sejumlah komoditas energi, masih membukukan penurunan 29,59% sejak awal tahun.
Baca Juga
Puluhan UMK Binaan Pelindo Naik Kelas Lewat Sertifikasi Halal
Tekanan yang berat terhadap saham-saham unggulan juga terlihat dari kinerja berbagai indeks utama BEI. Indeks LQ45 turun 29,66% YTD, hampir sama dalamnya dengan koreksi IHSG. IDX30 melemah 24,36%, sedangkan IDX80 jatuh lebih dalam sebesar 33,04%.
IDX ESG Leaders merosot 33,59%, IDX LQ45 Low Carbon Leaders turun 27,50%, IDX BUMN20 melemah 20,39%, dan IDX Cyclical Economy 30 turun 28,52%. KOMPAS100 bahkan jatuh 34,90%, sementara Pefindo I-Grade turun 34,31%.
Pada kelompok saham syariah, tekanannya tidak kalah besar. ISSI turun 31,98%, JII70 melemah 34,13%, sedangkan Jakarta Islamic Index (JII) terperosok 37,98%. Data tersebut menunjukkan pelemahan pasar terjadi secara luas dan tidak hanya terbatas pada saham lapis kedua dan ketiga.
Di tengah tekanan pasar, aktivitas perdagangan tetap berlangsung cukup tinggi. Pada Jumat, sebanyak 120,68 miliar saham diperdagangkan dengan nilai transaksi Rp12,25 triliun atau sekitar US$684 juta. Frekuensi perdagangan mencapai sekitar 1,61 juta kali.
Namun, tingginya volume tersebut sangat dipengaruhi transaksi GOTO. Saham GOTO mencatat volume perdagangan sekitar 99,89 miliar saham, setara 82,77% dari seluruh volume perdagangan saham di BEI pada hari itu. Dari sisi nilai transaksi, GOTO juga menempati posisi pertama dengan Rp2,75 triliun atau 22,43% dari total nilai perdagangan.
Baca Juga
Mendagri: Program Gentingisasi Dongkrak Industri Plered dan Siap Serap Tenaga Kerja
BBCA berada di posisi berikutnya dengan nilai transaksi Rp833 miliar, disusul TLKM Rp602 miliar, BBRI Rp576 miliar, AMMN Rp360 miliar, BMRI Rp333 miliar, DSSA Rp315 miliar, BUMI Rp307 miliar, SINI Rp273 miliar, dan PTRO Rp224 miliar.
Koreksi besar harga saham membuat valuasi pasar secara agregat ikut turun. Berdasarkan statistik BEI, price earning ratio (PER) pasar berada pada 12,41 kali, sementara price to book value (PBV) tercatat 1,61 kali.
Angka tersebut memberikan gambaran valuasi pasar setelah IHSG kehilangan hampir sepertiga nilainya sejak awal tahun. Namun, valuasi yang lebih rendah tidak dengan sendirinya menunjukkan seluruh saham sudah murah karena prospek laba, risiko perusahaan, kondisi makroekonomi, dan sentimen investor berbeda untuk setiap emiten.
Sebanyak Rp82,55 Triliun Dana Asing Keluar
Di antara berbagai indikator tersebut, besarnya penjualan bersih asing menjadi salah satu angka paling menonjol. Hanya dalam 178 hari perdagangan, foreign net sell telah mencapai Rp82,553 triliun atau US$4,612 miliar.
Jika dirata-ratakan secara aritmetis, angka tersebut setara sekitar Rp464 miliar penjualan bersih asing per hari perdagangan. Pada Jumat saja, investor asing kembali melakukan net sell Rp1,273 triliun.
Arus keluar dana asing tidak otomatis menjadi satu-satunya penyebab penurunan IHSG. Pergerakan indeks juga dipengaruhi perubahan harga komoditas, suku bunga dan likuiditas global, nilai tukar rupiah, prospek pertumbuhan ekonomi dan laba emiten, kondisi fiskal, serta persepsi risiko terhadap pasar Indonesia. Namun, foreign net sell Rp82,55 triliun menunjukkan bahwa tekanan jual investor global terhadap aset saham Indonesia sepanjang 2026 sangat besar.
Baca Juga
Dilantik Prabowo Jadi Wantimpres, Rocky Gerung: Cuma Pindah dari Luar ke Dalam
Gambaran pasar saham Indonesia hingga 2 Oktober 2026 akhirnya terlihat dari empat angka utama: IHSG jatuh 30,18%, kapitalisasi pasar berada di Rp10.627 triliun, seluruh 11 sektor mencatat kinerja negatif, dan investor asing telah melakukan penjualan bersih Rp82,55 triliun.
Lebih jauh lagi, pelemahan tidak hanya terjadi pada saham lapis kedua dan ketiga. Sejumlah perusahaan terbesar di Indonesia yang selama bertahun-tahun menjadi jangkar IHSG juga mengalami koreksi puluhan persen.
BBCA turun 24,46%, BBRI 15,85%, BMRI 20,98%, TLKM 35,34%, ASII 30,90%, BREN 70,82%, dan DSSA 71,78%. Kondisi ini menjadi tantangan besar bagi pasar modal Indonesia memasuki tiga bulan terakhir 2026. Bukan sekadar bagaimana mendorong IHSG kembali naik, tetapi bagaimana mengembalikan kepercayaan investor domestik maupun asing terhadap prospek ekonomi, emiten, dan pasar keuangan Indonesia.
Dengan foreign net sell telah melampaui Rp82 triliun dan IHSG kehilangan hampir sepertiga nilainya sejak awal tahun, pemulihan kepercayaan menjadi faktor penting untuk menghentikan tekanan jual dan mengembalikan daya tarik Bursa Efek Indonesia di tengah persaingan mendapatkan aliran modal global.
