HSBC: Pasar Saham Indonesia Tertekan Imbal Hasil Obligasi Tetapi Valuasi Murah
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Pasar saham Indonesia masih menghadapi sejumlah hambatan dalam jangka pendek, terutama dari kenaikan imbal hasil (yield) obligasi. Meski demikian, prospek pasar saham Indonesia dinilai tetap menarik seiring pertumbuhan laba perusahaan yang masih solid dan valuasi yang relatif murah.
Hal tersebut disampaikan Head of Equity Strategy Asia Pacific HSBC Global Investment Research, Herald Van Der Linde usai HSBC Summit di St Regis Jakarta, Selasa (29/9/2026).
Herald mengatakan, pergerakan imbal hasil obligasi menjadi salah satu faktor utama yang perlu diperhatikan investor ketika melihat prospek pasar saham.
Menurutnya, obligasi menjadi alternatif investasi bagi investor pasar saham. Ketika obligasi mampu menawarkan imbal hasil sekitar 5%, sementara potensi imbal hasil pasar saham berada di kisaran yang sama, investor akan mempertimbangkan kembali alokasi investasinya.
“Imbal hasil obligasi adalah sesuatu yang harus kita perhatikan. Dan kita harus melihat laba perusahaan yang terdaftar,” tegas Herald dalam Media Briefing HSBC Indonesia Summit 2026.
Baca Juga
Pasar Saham Mulai Pulih, Tapi Investor Masih Hadapi Sejumlah Risiko Ini
Ia menilai, kinerja laba perusahaan di Indonesia sebenarnya masih cukup baik, meskipun pertumbuhannya belum sehebat 10 tahun terakhir. Pertumbuhan pendapatan perusahaan tercatat mendekati 10%, meski berbeda-beda antarsektor.
Herald menyebut, sektor pertambangan menjadi salah satu pendorong pertumbuhan tersebut, diikuti sektor perbankan juga menunjukkan perbaikan seiring kondisi suku bunga yang lebih tinggi. Pada saat yang sama, konsumsi domestik dinilai masih cukup kuat.
“Konsumsi juga sebenarnya cukup baik. Bahkan, jujur saja, lebih baik dari yang saya perkirakan. Itu sedikit mencerminkan bahwa ekonomi menunjukkan ketahanan di sini,” sambungnya.
Meski kenaikan yield obligasi menjadi tantangan bagi pasar saham Indonesia, Herald mengakui bahwa kondisi yang sama juga menjadi hambatan bagi pasar saham global, khususnya pasar negara berkembang.
Namun dia menilai pasar saham masih berpeluang mencatatkan kinerja positif, sebelum yield obligasi mencapai puncaknya. Tanda penting yang harus diperhatikan pelaku pasar adalah kejelasan mengenai kapan kenaikan yield tersebut akan berakhir.
“Bisakah pasar saham berkinerja sebelum imbal hasil obligasi mencapai puncaknya? Bisa, sangat sering terjadi. Selama kita tahu di mana puncaknya kira-kira,” tandas dia.
Herald mencontohkan, apabila bank sentral Amerika Serikat (AS) atau The Fed memberikan sinyal bahwa kenaikan suku bunga akan segera berakhir, pasar dapat mulai memperhitungkan kondisi tersebut. Sebab dalam situasi seperti ini, saham justru berpotensi mencatatkan kinerja yang kuat.
Dia pun memperkirakan titik puncak yield obligasi dapat terjadi pada akhir tahun ini maupun tahun depan. Namun, waktu pastinya masih bergantung pada berbagai faktor, termasuk perkembangan harga minyak dan kondisi ekonomi global.
“Jika kita mendekati puncak itu, pasar saham, saya menduga, akan berkinerja sangat baik. Dan Indonesia juga dapat berkinerja sangat baik dalam perkiraan tersebut,” ujarnya.
Efek Dominasi Tema AI
Selain yield obligasi, Herald melihat dominasi tema artificial intelligence (AI) juga menjadi faktor yang memengaruhi aliran dana di pasar saham global.
Menurut dia, saat ini modal investor banyak mengalir ke saham-saham yang berkaitan dengan AI, baik di AS maupun Asia. Di kawasan Asia, aliran dana tersebut antara lain mengarah ke pasar Korea Selatan, Taiwan, serta sektor-sektor tertentu di China.
Kondisi tersebut membuat hanya sektor tertentu yang mencatatkan kinerja sangat baik, sementara sektor lainnya tertinggal.
Herald mengatakan, apabila muncul pandangan bahwa investasi AI telah mencapai puncak atau terjadi investasi berlebihan sehingga perlu dilakukan perlambatan, aliran dana berpotensi kembali masuk ke pasar saham non-AI.
Menurutnya, Indonesia dapat menjadi salah satu pasar yang berpotensi mendapatkan aliran dana tersebut. Hal serupa juga dapat terjadi di sejumlah pasar Asia lainnya dan India.
“Percakapan baru-baru ini dengan investor di Singapura menunjukkan, beberapa dari mereka perlahan mulai melihat tema tertentu juga (di luar AI),” sambungnya.
Baca Juga
Bitcoin Menguat Saat Trump Sebut Selat Hormuz Terbuka, Pasar Saham AS Tertekan
Valuasi IHSG Relatif Murah
Di tengah berbagai hambatan tersebut, Herald menilai salah satu faktor yang membuat pasar saham Indonesia menarik adalah valuasinya yang saat ini relatif murah.
Ia menyebut, pelemahan kinerja pasar saham Indonesia pada paruh pertama tahun ini telah membuat valuasi pasar berada pada level yang rendah.
“Sangat murah. Kita belum pernah melihat valuasi seperti ini sejak 2009,” tandas Herald.
Ia menilai kondisi tersebut menjadi salah satu faktor pendukung bagi prospek pasar saham Indonesia ke depan. Terlebih, pertumbuhan ekonomi dan laba perusahaan masih berada pada level yang signifikan.
Herald tak memungkiri bahwa pasar saham Indonesia masih menghadapi sejumlah hambatan dalam jangka pendek. Namun sebagian besar hambatan berasal dari faktor global sehingga tidak banyak yang dapat dilakukan dari sisi domestik.
Dia meyakini apabila ketidakpastian terkait yield obligasi mulai mereda dan aliran dana kembali mencari pasar non-AI, prospek pasar saham Indonesia dapat bergerak lebih baik.
“Tidak banyak yang bisa kita lakukan, tetapi kita perlu melewatinya. Baru kemudian saya pikir prospek pasar saham Indonesia akan jauh lebih baik dari situ,” pungkasnya.
