Pendapatan Tumbuh 22,8%, Prospek Bisnis CDIA Terhubung dengan Pertumbuhan Kawasan Industri
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id – Perkembangan kawasan industri mendorong kebutuhan terhadap infrastruktur penunjang, mulai listrik, air, kepelabuhanan, penyimpanan hingga logistik. Kondisi tersebut membuka ruang pertumbuhan bagi PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA), perusahaan infrastruktur yang mengembangkan layanan terintegrasi di kawasan industri Cilegon, Banten.
Pendapatan CDIA pada semester I 2026 mencapai US$ 82,1 juta (Rp 1,47 triliun) tumbuh 22,8% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Head of Equity Research KB Valbury Sekuritas Fikri C Permana mengatakan CDIA mengembangkan empat pilar bisnis, yakni energi, air, kepelabuhanan dan penyimpanan, serta logistik. Infrastruktur tersebut terhubung dengan aktivitas industri di Kawasan Industri Krakatau (KIK) dan wilayah sekitarnya yang menjadi salah satu kawasan industri berat dan petrokimia.
“CDIA berada pada ekosistem yang kebutuhan infrastrukturnya mengikuti perkembangan aktivitas industri. Untuk itu, pertumbuhan kawasan dapat membuka peluang bagi peningkatan permintaan terhadap energi, utilitas maupun layanan logistik,” ujar Fikri dalam keterangannya, Senin (28/9/2026).
Baca Juga
Gandeng CDIA, Petrosea (PTRO) Bangun Infrastruktur Pengisian Kendaraan Listrik di Area Tambang
Berdasarkan laporan riset KB Valbury Sekuritas, pendapatan CDIA pada semester I 2026 mencapai US$ 82,1 juta (Rp 1,47 triliun) tumbuh 22,8% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan pendapatan terutama ditopang segmen energi mencapai US$ 51,8 juta atau sekitar Rp 928,2 miliar, meningkat 5,4% secara tahunan. Sementara itu, pendapatan logistik tumbuh lebih tinggi sebesar 80,2% menjadi US$ 27 juta atau sekitar Rp 483,8 miliar.
Pertumbuhan kedua segmen tersebut berlangsung di tengah kenaikan biaya yang menekan kinerja operasional perseroan. Biaya pendapatan meningkat 30,9%, sedangkan beban operasional melonjak 103,2% secara tahunan. Di tengah tekanan tersebut, perkembangan kawasan industri tetap menjadi salah satu faktor yang membuka ruang permintaan bagi layanan infrastruktur CDIA.
Fikri mengatakan tingkat okupansi kawasan industri yang sudah berjalan memberikan gambaran mengenai aktivitas yang menjadi basis permintaan infrastruktur. KIK I dan KIK II masing-masing mencatat tingkat okupansi sekitar 73% dan 92%.
“KIK I dan KIK II, misalnya, telah mencatat tingkat okupansi masing-masing sekitar 73% dan 92%. Sementara itu, KIK III masih dalam tahap pengembangan untuk mendukung ekosistem petrokimia dan kendaraan listrik, dengan sekitar 253 hektare lahan yang belum dikembangkan,” tambah Fikri.
Ekspansi Kawasan Dorong Kebutuhan Listrik
Pengembangan KIK III menjadi salah satu ruang pertumbuhan kawasan industri Cilegon. Lahan yang belum dikembangkan tersebut diarahkan untuk mendukung kegiatan industri petrokimia dan kendaraan listrik, yang membutuhkan dukungan utilitas serta layanan logistik.
Riset KB Valbury memperkirakan konsumsi listrik nasional tumbuh sekitar 5% per tahun hingga 2034. Pertumbuhan kebutuhan listrik sektor industri diproyeksikan lebih tinggi, yakni sekitar 5,9% per tahun.
Potensi permintaan juga berasal dari proyek Chlor Alkali dan Ethylene Dichloride (CA-EDC) milik Chandra Asri Pacific. Proyek tersebut terdiri atas fasilitas Chlor Alkali berkapasitas 400 KTA dan EDC berkapasitas 500 KTA. Hingga Juli 2026, progres konstruksi proyek CA-EDC telah mencapai 72% dan ditargetkan mulai beroperasi pada 2027.
Baca Juga
Pengembangan CA-EDC berpotensi meningkatkan kebutuhan terhadap listrik, air, kepelabuhanan, penyimpanan, dan layanan logistik. Namun, kontribusi proyek tersebut terhadap pendapatan maupun laba CDIA belum dapat dipastikan karena belum terdapat estimasi spesifik yang diungkapkan.
Keterkaitan CDIA dengan ekosistem industri juga terlihat dari transaksi pihak berelasi. Pada semester I 2026, transaksi tersebut menyumbang 22,3% dari pendapatan CDIA. Di bisnis logistik, Chandra Asri Group menyumbang sekitar 60% kapasitas pengiriman CDIA. Kontrak yang digunakan umumnya berbentuk time charter, yakni penyewaan kapal berdasarkan periode tertentu, dengan tenor yang umumnya berlangsung hingga masa ekonomis kapal.
Struktur tersebut membuat perkembangan aktivitas industri dan kebutuhan logistik menjadi salah satu faktor yang berkaitan dengan kinerja bisnis CDIA. Selain pengangkutan, kebutuhan industri juga mencakup penyimpanan serta layanan pelabuhan yang mendukung pergerakan bahan baku dan produk.
