IHSG Kehilangan Momentum, Berpotensi Lanjut Koreksi di Tengah Regulasi Baru BEI?
JAKARTA, investortrust.id – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia kehilangan momentum penguatan dan berpotensi melanjutkan koreksi. BRI Danareksa Sekuritas mencermati penurunan IHSG ke level 6.147 atau melemah 1,51% sekaligus menembus sejumlah level teknikal penting pada penutupan perdagangan Senin (28/9/2026).
Dalam technical update yang diumumkan Senin (28/9/2026), BRI Danareksa Sekuritas menyebut IHSG telah menembus area gap 6.185 serta level support 6.230–6.270.
Pelemahan tersebut juga mengonfirmasi breakdown pola rising wedge dan neckline head and shoulders yang berada di level 6.375. “Support terdekat (IHGS) berada di 6.110, kemudian 6.030,” tulis analis BRI Danareksa Sekuritas dalam risetnya, Senin (28/9/2026).
Baca Juga
Pembiayaan Kendaraan Listrik BSI (BRIS) Naik 66% Didorong Minat Generasi Muda
Menurut riset tersebut, apabila tekanan jual berlanjut dan IHSG menembus kedua level support tersebut, indeks berpotensi melanjutkan koreksi. Sementara itu, level resistance IHSG diperkirakan berada di kisaran 6.185–6.230. Resistance berikutnya berada di level 6.270 dan 6.375.
Indikator teknikal juga masih menunjukkan tekanan bearish. BRI Danareksa Sekuritas mencatat, MACD berada di zona negatif dengan histogram yang terus melemah. “MACD berada di zona negatif dengan histogram yang terus melemah, mengindikasikan momentum bearish masih dominan,” sambung BRI Danareksa Sekuritas.
Tingkatkan Volatilitas
Dari sisi sentimen pasar, Bursa Efek Indonesia (BEI) mulai menerapkan kebijakan baru pada 28 September 2026 dengan menurunkan batas minimum harga saham dari Rp50 menjadi Rp1.
BRI Danareksa Sekuritas menilai perubahan tersebut memperluas rentang perdagangan bagi saham-saham berharga rendah sekaligus mengubah mekanisme price discovery. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan volatilitas, khususnya pada saham dengan harga yang lebih rendah.
Tekanan juga terlihat secara luas di pasar saham. Hampir seluruh sektor mengalami pelemahan, dengan sektor konsumer non-primer, properti, dan teknologi menjadi kelompok yang mencatat tekanan paling besar.
Baca Juga
Menkes Harap Suntikan Rp 20 Triliun Bakal Perbaiki Keuangan BPJS Kesehatan
Selain regulasi baru BEI, sentimen eksternal turut menjadi perhatian investor. Ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran serta kenaikan harga minyak mentah Brent ke sekitar US$106 per barel meningkatkan risiko inflasi.
Penguatan indeks dolar AS (DXY) dan kenaikan imbal hasil (yield) US Treasury 10 tahun ke kisaran 5,20% juga berpotensi memberikan tekanan terhadap aset berisiko di pasar negara berkembang.
Kondisi tersebut berlangsung di tengah ekspektasi terhadap kebijakan Federal Reserve (The Fed) yang lebih ketat. “Sehingga dapat menjadi tambahan tekanan bagi pasar saham, termasuk IHSG,” tutup riset BRI Danareksa Sekuritas.
