Likuiditas Perbankan Lebih Ketat, BBRI & BBCA Masuk Daftar Saham Pilihan Mirae Asset
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Likuiditas perbankan Indonesia dinilai lebih ketat dari yang tercermin pada rasio loan to deposit ratio (LDR). Di tengah kondisi ini, Mirae Asset Sekuritas Indonesia masih memilih sejumlah saham bank yang dinilai memiliki penyangga likuiditas dan waralaba pendanaan lebih kuat.
Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia Muhammad Nurkholis Syafruddin menilai, kondisi likuiditas perbankan saat ini perlu dicermati. Sebab, LDR yang tercatat secara umum belum sepenuhnya mencerminkan tekanan likuiditas yang mendasarinya.
Dalam riset bertajuk ‘Likuiditas Bank-Bank di Indonesia Terlihat Lebih Baik dari Kenyataannya’, Nurkholis menulis bahwa LDR perbankan berada di level 92,7% pada Agustus 2026, relatif stabil dibandingkan 92,8% pada Juli 2026. Namun, dengan memperhitungkan saldo anggaran lebih (SAL) perbankan sebesar Rp 451 triliun pada Januari-Agustus 2026, Mirae Asset memperkirakan LDR tanpa SAL mencapai sekitar 97,2%.
Level tersebut mendekati puncak LDR sebesar 99,5% yang tercatat pada 2019. Estimasi LDR tanpa SAL tersebut juga meningkat dari sekitar 96,6% pada Januari-Juli 2026.
“Perbedaan ini sangat penting karena SAL diperkirakan menurun secara bertahap menuju sekitar Rp 200 triliun pada akhir 2026,” tulis Nurkholis dalam riset yang dipublikasi pada Jumat (25/9/2026).
Kondisi tersebut menjadi perhatian karena pengetatan likuiditas saat ini berlangsung bersamaan dengan percepatan pertumbuhan kredit investasi dan modal kerja. Dia memperkirakan, hal ini menyiratkan bahwa bank perlu mengakomodasi permintaan kredit kredit produktif yang berkelanjutan, sambil bersaing mendapatkan simpanan organik yang relatif langka.
Pertumbuhan Kredit Lampaui Simpanan
Tekanan likuiditas juga tercermin dari pertumbuhan kredit yang semakin jauh melampaui pertumbuhan pendanaan organik.
Baca Juga
IHSG Menguat 1,82% Pekan Ini, Saham Perbankan Besar Mendominasi
Mirae Asset mencatat, kredit sistem perbankan mencapai Rp 9.019 triliun pada Agustus 2026, tumbuh 13,3% secara tahunan (yoy). Pertumbuhan terutama ditopang kredit investasi yang melonjak 23,4% (yoy), diikuti kredit modal kerja yang tumbuh 12,3% (yoy), sementara kredit konsumsi masih relatif lemah dengan pertumbuhan 5% (yoy).
Secara year to date (YTD) hingga Agustus 2026, kredit perbankan tumbuh 6,8% yang secara umum masih sejalan dengan target pertumbuhan kredit Bank Indonesia sebesar 8%-12% untuk tahun ini.
“Yang lebih penting, pertumbuhan pinjaman investasi dan modal kerja terus meningkat, menunjukkan bahwa permintaan kredit tetap sehat meskipun likuiditas sistem semakin terbatas,” tandas Nurkholis.
Capaian tersebut melanjutkan tren yang terlihat pada Januari-Juli 2026, ketika pinjaman investasi telah meningkat lebih dari 20% (yoy) dan pertumbuhan modal kerja kembali ke angka dua digit.
Pertumbuhan Deposito Tertinggal Meski CASA Sehat
Di sisi pendanaan, total deposito bank di Indonesia mencapai Rp 9.733 triliun pada Agustus 2026 atau tumbuh 7,7% (yoy). Rekening giro dan tabungan masing-masing tumbuh 9,4% (yoy) dan 9,5% (yoy), sementara deposito berjangka hanya naik 4,7% (yoy).
Akibatnya komposisi dana murah (current account savings account/CASA) membaik menjadi 64,6% atau naik 102 basis poin (bps) secara tahunan (yoy).
Meski demikian, pertumbuhan deposito terus tertinggal secara signifikan dari pinjaman. Secara kumulatif dalam delapan bulan pertama 2026, deposito hanya tumbuh 2,8%, sedangkan kredit tumbuh 6,8%, menghasilkan kesenjangan pertumbuhan sebesar 4 poin persentase (ppt).
Meski komposisi CASA yang relatif kuat masih mendukung biaya pendanaan bank, Mirae menyimpulkan bahwa kesenjangan pertumbuhan kredit dan deposito menunjukkan persaingan mendapatkan pendanaan tambahan berpotensi tetap tinggi.
“Ini konsisten dengan ketidaksesuaian pendanaan yang kami soroti dalam laporan kami sebelumnya,” sambung Nurkholis.
BBCA dan BRIS
Dalam kondisi likuiditas yang semakin ketat, Mirae Asset pun memilih bank dengan penyangga likuiditas lebih kuat dan fleksibilitas neraca yang lebih besar.
“Kami selektif terhadap bank-bank Indonesia karena kesenjangan pertumbuhan pinjaman-simpanan yang melebar dan LDR yang disesuaikan dengan SAL, tinggi,” imbuh Nurkholis.
Hal itu menunjukkan, likuiditas sistem yang mendasarinya tetap ketat meskipun ada dukungan likuiditas sementara dari pemerintah.
Mirae Asset kemudian memberi pandangan positif pada saham BBCA, didukung likuiditas yang melimpah, waralaba pendanaan yang kuat, serta potensi perluasan net interest margin (NIM).
Selain itu, Mirae Asset juga memiliki pandangan positif terhadap saham BRIS karena kemampuannya menangkap peningkatan permintaan produk yang sesuai syariah dengan bisnis emasnya. Bisnis emas BRIS disebut menjadi salah satu jangkar pertumbuhan kinerja perseroan.
“Sebaliknya, kami tetap berhati-hati terhadap bank-bank besar Himbara karena likuiditas yang lebih ketat dapat meningkatkan tekanan pendanaan marjinal. Sementara potensi penurunan kualitas aset, terutama dari segmen konstruksi masih jadi risiko tambahan,” papar Nurkholis.
Oleh karena itu, Mirae Asset tetap memilih bank dengan waralaba pendanaan organik yang lebih kuat dan fleksibilitas neraca yang lebih besar, seiring pengetatan likuiditas sistem perbankan.
