Saatnya Masuk Fase Selektif Saham dan Susun Portofolio
Oleh: Dr Josep Ginting - Analis Pasar Modal
INVESTORTRUST - Volatilitas Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di suatu negara sering dijadikan parameter untuk melihat kondisi perekonomian secara keseluruhan, tak terkecuali di Indonesia. Ketika isu besar berkembang di Indonesia, di mana perekonomian dinilai “hancur”, rupiah diperkirakan bergerak ke Rp 22.000 per dolar AS, IHSG kemudian diprediksi kembali ke tingkat 20 tahun atau 30 tahun yang lalu.
Banyak kelucuan-kelucuan analisis lainnya tentang perekonomian Indonesia dan kondisi perdagangan di pasar modal, yang membuat pelaku pasar semakin panik akibat literasi keuangan yang lemah. Seakan-akan lisensi sebagai analis, pendidikan keuangan, atau akuntansi yang sangat bergengsi bukan lagi menjadi standar kedewasaan berpikir di dalam dunia keuangan.
IHSG turun sebesar 38,93% dari level 8.748,13 pada 2 Januari 2026 hingga angka terendah yang terjadi di bulan Juni 2026 sebesar 5.342,14. Jika dilihat dari tahun 1990 sebagai titik awal perkembangan pasar modal di Indonesia, penurunan yang terjadi sebesar 38,93% (YTD) bukanlah suatu yang luar biasa. Dalam beberapa musim di Indonesia, penurunan IHSG terjadi di kisaran persentase yang hampir sama dengan besaran penurunan terbesar di 2026 tersebut. Jadi, itu bukan masalah besar.
Lalu jika yang terjadi saat ini adalah hal biasa, apakah sekarang saatnya kembali berinvestasi di Bursa Efek Indonesia? Untuk menjawab pertanyaan ini, investor perlu melihat beberapa penjelasan yang memperkuat hipotesis tersebut.
Sikap terhadap Informasi Perekonomian Indonesia
Perekonomian Indonesia diperkirakan akan bertumbuh sebesar 5,20% sampai dengan 5,45% di penghujung tahun 2026 dan diperkirakan akan bertumbuh sebesar 5,8% hingga sebesar 6,5% di tahun 2027. Diperkirakan pertumbuhan berasal dari 3 (tiga) unsur, pertama adalah konsumsi akan stabil meningkat, didasari oleh pertumbuhan GDP per kapita sebesar USD 5.060 - 5.082 tahun 2025, diperkirakan meningkat menjadi USD 5.362 di tahun 2026 dan menjadi USD 5.650-5.700 di tahun 2027. Sementara GDP Deflator (dengan asumsi Base Index 100 tahun 2010) di tahun 2025 sebesar 175,4 hanya naik menjadi 187,5 sampai dengan 189,0 di tahun 2026 atau naik sebesar 3,0% sampai 3,5% di tahun 2026 dari kenaikan tahun 2024 ke 2025 sebesar 2,3% sampai 2,5%. Demikian juga di tahun 2027 diperkirakan hanya naik sebesar 3% sampai 3,2%. Artinya harga barang kebutuhan pokok di pasar dapat dikontrol dengan baik dan dapat diserap oleh masyarakat.
Penyerapan oleh masyarakat ditunjukkan juga dengan perhitungan Purchasing Power Parity di mana GDP per kapita sebesar USD 16.200 - USD 17.000 di tahun 2025, sebesar USD 17.500-18.800 di tahun 2026, dan USD 19.500 - 20.190 di tahun 2027. Laju inflasi (CPI) sebesar 2,9% di tahun 2025, dapat dikontrol menjadi sebesar 2,5%- 3,5% di tahun 2026.
Unsur kedua pertumbuhan ekonomi adalah pertumbuhan investasi sebesar Rp 1.931,2 triliun di tahun 2025, dan diperkirakan menjadi Rp 2.041,3 triliun di tahun 2026, dan Rp 2.322 triliun di 2027. Pertumbuhan investasi tersebut diperkirakan berasal dari hilirisasi energi terbarukan, perkembangan infrastruktur dan manufaktur, serta perkembangan yang cepat dengan pembukaan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) di seluruh Indonesia.
Faktor ketiga adalah pertumbuhan belanja pemerintah di sektor infrastruktur, percepatan pertumbuhan agriculture base sejalan dengan pertumbuhan penguatan ketahanan pangan nasional.
Pertumbuhan perekonomian Indonesia yang cukup agresif tentunya diikuti dengan pertumbuhan inflasi. Ini adalah suatu kewajaran. Hal yang perlu dipahami oleh investor adalah bahwa inflasi terjadi akibat pertumbuhan GDP, bukan disebabkan oleh ketidakmampuan pasar memenuhi kebutuhan pokok yang dijadikan parameter perhitungan Consumer Price Index (CPI). Pertumbuhan Inflasi di Indonesia sebesar 2,9% di tahun 2025, 2,5%-3,5% di tahun 2026 dan diperkirakan 2,5% di tahun 2027 masih masuk akal dan tidak menyakiti investment return.
Jika diasumsikan Indonesia 10 Year Bonds Yield - pun sebesar 6,5%, maka real return 2025 sebesar 3,49%, tahun 2026 berkisar 2,89% sampai 3,9%, sangat bagus, dan di tahun 2027 diperkirakan sebesar 3,9%. Masih menarik untuk investasi yang tergolong non-risky assets. Cara penanganan pemerintah terhadap kestabilan ekonomi masih wajar karena mampu mengendalikan harga pasar termasuk harga kebutuhan pokok.
Kondisi inflasi yang masih dapat terkontrol tidak menyebabkan Bank Indonesia (BI) harus terburu-buru meningkatkan suku bunga. Berkaca pada GDP Growth, GDP Deflator, inflasi dan real return, tidak ada alasan yang kuat bagi BI menaikkan suku bunga, meskipun itu BI Rate yang didasarkan atas 7 Day Reverse REPO. 7 Day Reverse REPO hanya merupakan standar acuan dalam penetapan suku bunga acuan bank sentral, tidak ada hubungan matematis yang menyebabkan BI Rate harus mengikuti 7 Day Reverse REPO. Murni, BI Rate adalah keputusan bersama Gubernur BI dan Dewan Gubernur BI. Selain itu BI Rate belum tentu diikuti oleh perbankan komersial mengingat kebijakan bank komersial adalah menjaga Assets Liability Management (ALM) yang baik, mengontrol pemenuhan kewajiban bank kepada nasabah mengingat sifat perbankan adalah Negative Financing Gap, yang senantiasa setiap saat menjaga kestabilan assets dan liability serta cashflow.
Bank Indonesia seharusnya menurunkan suku bunga acuan hingga 5,5% mengingat yield spread masih cukup besar. Expected YTM untuk obligasi yang dibutuhkan oleh institusi asuransi dan dana pensiun juga tidak perlu di atas 6,5%, mengingat kualitas pelayanan dana pensiun dan asuransi adalah cashflow, bukan kenyamanan dengan return yang tinggi. Kinerja asuransi dan dana pensiun tidak semata-mata dengan Return on Investment yang setinggi-tingginya, tetapi cashflow.
Nilai tukar rupiah terhadap USD masih memungkinkan di kisaran Rp 16.500-17.500 jika pemerintah mampu menjaga ketabilan harga kebutuhan dalam negeri. Dalam hal nilai tukar rupiah, tidak ada hubungan langsung secara matematika antara pembelian saham di bursa efek dengan penguatan rupiah (semua angka dan rasio relatif). Jika itu terjadi maka perekonomian Indonesia tidak sehat dan tidak akan stabil, karena saham di bursa efek dijadikan alat spekulatif bukan komoditas. Lebih baik penguatan rupiah disebabkan oleh adanya Foreign Direct Investment (FDI) atau net export, sehingga pemerintah perlu meningkatkan hubungan dagang dan industri dengan negara-negara yang aktif seperti China, Taiwan, Rusia, Thailand, Singapura, serta negara-negara di Afrika.
Mengingat perhitungan GDP, GDP Deflator, inflasi, dan nilai tukar, maka perekonomian dapat dinyatakan siap mendukung pertumbuhan kinerja perusahaan sehingga akan mendukung peningkatan harga pasar saham di Indonesia. Perlu dipahami harga wajar saham adalah harga estimasi, akibat perhitungan present value nilai free cashflow perusahaan hingga beberapa tahun yang dipergunakan sebagai asumsi, sehingga masih mengandung unsur ketidakpastiaan dan bersifat spekulatif. Tidak ada valuation technique yang dapat menjamin berapa harga saham yang sebenarnya, semua relatif dan tergantung asumsi analis atau investor.
Valuasi harga wajar 10 saham berkapitalisasi terbesar di Indonesia masih menarik namun terhambat kondisi domestik. Simak tabel berikut.
BBRI masih banyak peluang naik mengingat BBRI menempatkan dananya pada kelas menengah ke bawah dengan jumlah yang lebih besar sehingga diasumsikan lebih mampu bertahan dari risiko dan lebih mudah mengelola risikonya dibandingkan dengan BMRI dan BBNI yang memiliki banyak debitor dari institusi. Kondisi yang sama terjadi pada saham BBCA, dengan memiliki nature yang hampir sama dengan BBRI dari jumlah debitor, walaupun BBRI masih merupakan perusahaan yang memiliki NIM yang terbesar di antara Bank BUMN.
Harga saham BYAN selama ini selalu volatil di atas harga wajar dengan persentasi yang sangat tinggi sehingga ada kemungkinan revaluasi aset, dan hasil operating income tidak sepadan dengan harga pasarnya. Tentunya harga saham tidak dapat dipaksakan di level harga wajar karena murni dihasilkan oleh perilaku investor, yaitu supply dan demand.
Kondisi terberat mencapai harga wajar adalah ASII karena faktor suplai dan demand yang dipengaruhi oleh perkembangan mobil listrik walaupun secara portofolio ASII tidak bergantung pada otomotif karena ada banyak perusahaan yang merupakan subsidiaries ASII dan memiliki pertumbuhan yang baik dan stabil seperti Astra Autopart, Astra Agro Lestari, Bank Permata, Asuransi, dan Pembiayaan.
Pada dasarnya ekonomi makro, mikro, harga saham, yield obligasi, ekspektasi keuntungan adalah hasil estimasi dan berdasarkan asumsi sehingga dapat berubah-rubah. Hanya saja investor perlu menerapkan manajemen risiko yang kuat, karena keuntungan adalah baik tetapi kestabilan nilai portofolio lebih baik.
Baca Juga
Saham Berkapitalisasi Kecil
Sementara itu, saham berkapitalisasi kecil sangat bergantung kepada seberapa besar jumlah saham yang murni beredar di tangan investor (non existing shareholder). Sebab, saham biasanya dipegang oleh investor yang lebih mengutamakan likuiditas dan informasi sesaat dan eksekusi sesaat. Tidak semua saham berkapitalisasi kecil berkinerja buruk, banyak yang bagus dan memiliki volatilitas yang tinggi baik.
Saat ini bisa dilihat AUTM, POWR, SPTO, SMSM SIDO, KBLI, NRCA, MBAP, EAST dan PUDP. SIDO, SMSM dan SPTO memiliki Return on Equity yang tinggi dengan dividend yield 5% sampai dengan 8%. POWR dan MBAP memiliki cashflow dari operasional yang baik serta P/E masih relatif rendah dibanding pasar. Sedangkan AUTM, KBLI dan NRCA memiliki beban utang yang sedikit dan masih dapat diatasi dengan operating cashflow.
Intinya, investor hanya perlu melihat timing dengan technical analysis.***
