Asing Lepas Rp 1,61 Triliun Saham ‘Big Banks’, BI Rate Jadi Katalis yang Ditunggu Pasar
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Gelombang aksi jual oleh investor asing kembali menekan pasar modal Indonesia. Kelompok saham perbankan berkapitalisasi besar (big banks) menjadi sasaran utama pelepasan portofolio (net foreign sell) oleh investor asing.
BRI Danareksa Sekuritas menilai, hal itu terjadi seiring meningkatnya ketidakpastian pasar finansial global akibat tren kenaikan suku bunga acuan (global rate hike).
Dalam data yang dipublikasi BRI Danareksa Sekuritas hari ini, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) dan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mencatatkan nilai penjualan bersih terbesar oleh asing.
Saham BMRI memimpin daftar net foreign sell sebesar Rp 671,17 miliar dalam kurun 15 September-21 September, dengan harga saham terkoreksi 3,92 % ke level Rp 4.170 per saham.
Posisi kedua ditempati oleh BBCA yang mencatatkan net foreign sell sebesar Rp 611,23 miliar dengan penurunan harga 2,34 % ke posisi Rp 6.250.
Tekanan jual dana asing juga menyasar saham big banks pelat merah lainnya. PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) mencatatkan net foreign sell senilai Rp 208,01 miliar, mengalami penurunan harga cukup dalam sebesar 4,8 % ke level Rp 3.570.
Sementara itu, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) membukukan net foreign sell sebesar Rp 122,74 miliar dengan koreksi harga 3,31 % ke level Rp 3.210.
“Sehingga total net foreign sell empat big banks mencapai Rp 1,61 triliun,” tulis BRI Danareksa Sekuritas, Selasa (22/9/2026).
Baca Juga
Net Sell Capai Rp 131,72 Miliar, Tiga Saham Bank Besar Ini Dilego Pemodal Asing
Analis menyebut, gempuran aksi jual asing dipicu oleh kebijakan moneter global yang semakin ketat. Pasalnya Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed) dan Bank of Japan (BOJ), masing-masing menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps).
Kebijakan global rate hike pun memicu penguatan sentimen risk-off di pasar global, yang mendorong investor asing untuk mengurangi eksposur kepemilikan aset pada negara-negara berkembang (emerging markets), termasuk Indonesia.
Menunggu hasil RDG Bank Indonesia
Analis memperkirakan, perhatian para pelaku pasar kini tertuju pada katalis utama domestik berikutnya, yaitu Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) yang dijadwalkan berlangsung pada 22–23 September.
Keputusan mengenai BI Rate, yang saat ini berada di level 5,75 %, akan menjadi fokus perhatian utama pasar dalam mengantisipasi tekanan terhadap nilai tukar Rupiah, serta membendung laju aliran modal keluar (foreign outflow) lebih lanjut.
Di sisi lain, konsensus Bloomberg menunjukkan, 32 dari 35 ekonom memperkirakan BI mempertahankan BI Rate di 5,75%. Sementara itu, tiga ekonom memperkirakan BI akan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis points (bps) menjadi 6%.
Proyeksi kenaikan tersebut terutama dipengaruhi oleh tekanan terhadap nilai tukar Rupiah setelah The Fed dan BoJ menaikkan suku bunga.
“Meski demikian, mayoritas ekonom menilai stabilisasi Rupiah tidak harus ditempuh melalui kenaikan BI Rate,” ujar analis.
Mereka mengingatkan bahwa Bank Indonesia masih memiliki sejumlah instrumen untuk menjaga stabilitas nilai tukar, antara lain melalui intervensi valuta asing (valas), FX swap, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), serta pengelolaan likuiditas.
Ekspektasi BI Rate tetap juga didukung oleh sejumlah indikator makroekonomi yang dinilai masih cukup positif. Mengingat, Rupiah tercatat menguat sejak akhir Juli, sementara posisi cadangan devisa membaik, dan neraca perdagangan Indonesia masih mencatat surplus.
Selain itu, transmisi suku bunga di pasar uang dinilai mulai menunjukkan perbaikan. “Kondisi tersebut memberikan ruang bagi BI untuk menjaga suku bunga acuan tanpa harus kembali menaikkannya dalam jangka pendek,” simpul BRI Danareksa Sekuritas.
Namun mereka menyatakan, risiko kenaikan BI Rate masih terbuka hingga akhir 2026. Pasalnya, tekanan terhadap Rupiah yang berlanjut, terutama apabila terjadi perubahan arah kebijakan moneter global, dapat mendorong BI untuk kembali memperketat kebijakan.
Laporan BRI Danareksa mencatat, salah satu proyeksi bahkan memperkirakan terdapat ruang kenaikan BI Rate sebesar 25–50 bps hingga akhir 2026.
