Prospek Saham BBNI Makin Menarik Usai Pertumbuhan Laba Pesat hingga Agustus 2026
JAKARTA, investortrust.id – Saham PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) masih memiliki ruang penguatan, seiring kinerja keuangan delapan bulan 2026 yang solid. Kinerja tersebut ditopang pertumbuhan kredit yang kuat, pengendalian biaya operasional, serta biaya kredit yang lebih rendah dari panduan manajemen.
Hal ini mendorong Analis KB Valbury Sekuritas Akhmad Nurcahyadi mempertahankan rekomendasi beli saham BBNI dengan target harga berbasis sebesar Rp 4.720 per saham. Target harga ini mencerminkan valuasi 1,0 kali price to book value (P/B) FY2026F. Bandingkan dengan harga saham BBNI akhir pekan lalu level Rp 3.650.
Berdasarkan rilis laporan kinerja keuangan bulanan, laba bersih BBNI secara bank-only mencapai Rp 14,32 triliun hingga Agustus 2026. Capaian tersebut setara 67,4% dari proyeksi KB Valbury Sekuritas dan 66,4% dari konsensus untuk tahun buku 2026. Adapun saham BBNI saat ini baru diperdagangkan pada level 0,8 kali P/B perkiraan 2026 atau sedikit di atas -2 standar deviasi (SD) sebesar 0,7 kali P/B FY2026F.
Baca Juga
Pencapaian tersebut bisa menjadi katalis terhadap prospek saham BBNI hingga akhir tahun ini, seperti momentum pendapatan dari pertumbuhan kredit yang kuat dan yield repricing yang berpotensi meningkatkan pendapatan pada paruh kedua 2026. Selain itu, kualitas aset yang stabil dapat menjaga provisi pada paruh kedua 2026 tetap terkendali, sehingga mendukung laba bersih tahun ini.
Berdasarkan data kinerja keuangan hingga Agustus 2026, pertumbuhan kinerja BBNI ditopang pertumbuhan kredit yang kuat. Total kredit meningkat 27,1% secara tahunan (year on year/YoY) menjadi Rp977,17 triliun, melampaui panduan manajemen maupun proyeksi kredit analis untuk tahun 2026.
Dari sisi pendanaan, dana pihak ketiga (DPK) mencapai Rp1.124,71 triliun atau tumbuh 29,4% YoY. Pertumbuhan dana murah atau CASA juga solid mencapai 16,4% YoY. Pertumbuhan kredit dan DPK tersebut membuat rasio loan to deposit ratio (LDR) tetap stabil di 86,8%, dibandingkan 88,4% pada 8M25.
Baca Juga
IHSG Berpeluang Technical Rebound, Tiga Saham Dipimpin ANTM Layak Dilirik
BNI juga mencatatkan rasio kredit terhadap aset meningkat menjadi 68,1%, dibandingkan 66,5% pada Januari 2026. Kondisi tersebut mencerminkan penyaluran kredit yang aktif dibandingkan penempatan pada surat berharga.
Pertumbuhan kuat tersebut berdampak positif terhadap pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) BBNI meningkat 14,3% YoY, didorong pertumbuhan kredit. Sementara itu, pre-provision operating profit (PPoP) tumbuh 13,4% YoY menjadi Rp 23,65 triliun.
Pada Agustus 2026 saja, laba bersih BBNI mencapai Rp 1,80 triliun, tumbuh 17,4% YoY dan 11,1% secara bulanan (month on month/MoM). Capaian tersebut juga berada di atas proyeksi bulanan analis sebesar Rp 1,75 triliun. Pengendalian biaya operasional turut mendorong rasio cost to income ratio (CIR) turun 19 basis poin (bps) YoY dan 264 bps secara year to date (YTD).
Baca Juga
Lewat 2 Strategi Ini, BNI (BBNI) Optimistis Bisa Capai Target Pertumbuhan Kredit 10% di 2026
Faktor lainnya yang mendukung prospek profitabilitas BBNI adalah kualitas aset dan biaya kredit yang tetap terkendali. Cost of credit (CoC) berada di level 0,91%, lebih rendah dibandingkan panduan manajemen FY2026 sebesar 1%-1,2% dan proyeksi analis sebesar 0,81%.
Kenaikan provisi sebesar 22,7% YoY disebut lebih disebabkan oleh langkah front-loading yang konservatif untuk mengantisipasi ekspansi kredit yang kuat, bukan karena memburuknya kualitas kredit.
Di tengah kinerja positif tersebut, margin bunga bersih atau net interest margin (NIM) menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan. NIM BBNI turun 26 bps YoY menjadi 3,4%, terutama akibat tingginya biaya pendanaan (funding cost) dan sedikit lebih rendahnya imbal hasil kredit. Meski tertekan, NIM 3,4% masih berada dalam panduan BBNI untuk FY2026 sebesar 3,3%-3,5%.
