IHSG Berpeluang Uji 6.600, 4 Saham Ini Layak Dicermati
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan masih bergerak terbatas pada perdagangan pekan depan di tengah sensitivitas pasar terhadap sentimen global dan arus dana asing. IHSG berpeluang menguji level 6.600. Setidaknya ada empat saham yang layak dicermati.
“IHSG diperkirakan bergerak pada rentang 6.350–6.600, dengan area 6.350–6.400 sebagai support penting dan 6.500–6.600 sebagai resistance,” kata analis pasar modal yang juga Founder Republik Investor, Hendra Wardana kepada media, Minggu (20/9/2026).
Hendra menjabarkan, IHSG masih memiliki peluang technical rebound selama mampu bertahan di atas level 6.350. Sementara itu, penembusan level 6.600 dapat menjadi sinyal yang lebih positif bagi perubahan momentum.
Sentimen global, menurut dia, masih menjadi salah satu faktor utama yang akan menentukan pergerakan pasar. Kenaikan suku bunga The Fed sebesar 25 basis poin membuat investor kembali mencermati arah kebijakan moneter Amerika Serikat (AS), terutama karena inflasi masih menjadi perhatian.
Baca Juga
IHSG Dibayangi Outflow Asing, Rupiah dan Yield SUN Jadi Alarm
“Kondisi ini membuat dolar AS dan imbal hasil obligasi AS berpotensi tetap menjadi tekanan bagi pasar negara berkembang, termasuk Indonesia. Di sisi lain, penurunan harga minyak Brent ke level US$102,68 per barel dan WTI sekitar US$100,08 per barel memberikan sedikit ruang bernapas bagi pasar karena kekhawatiran terhadap gangguan pasokan mulai mereda,” terang Hendra.
Dia menambahkan, penurunan harga minyak yang berlanjut dapat mengurangi tekanan inflasi global dan memperbaiki sentimen selera risiko (risk appetite). Namun, perang dan ketegangan geopolitik di Timur Tengah masih menjadi risiko bagi pasar karena harga minyak berada pada level yang tinggi.
Dari dalam negeri, kata Hendra Wardana, pergerakan rupiah di kisaran Rp17.758 per dolar AS, arus dana asing, perkembangan kebijakan suku bunga, serta isu MSCI juga akan menjadi faktor yang dicermati investor.
“Dengan kondisi tersebut, IHSG masih sangat sensitif terhadap perubahan sentimen global dan pergerakan saham-saham berkapitalisasi besar,” ujar dia.
Hendra mengungkapkan, dari sisi teknikal, IHSG perlu kembali berada di atas 6.500 untuk membuka ruang kenaikan yang lebih kuat. Area 6.400 menjadi support awal, sedangkan 6.350 merupakan support yang lebih penting.
Dia menjelaskan, jika tekanan jual meningkat dan IHSG kehilangan level 6.350, risiko pelemahan menuju 6.200–6.250 terbuka. Sebaliknya, apabila indeks mampu bertahan di atas 6.400 dan menembus 6.500, IHSG berpeluang menguji level 6.550–6.600.
“Artinya, perdagangan pekan depan masih akan menjadi pertarungan antara bargain hunting dengan tekanan jual asing,” ucap dia.
Rekomendasi Saham
Sejalan dengan kondisi tersebut, Hendra merekomendasikan investor mencermati sejumlah saham, salah satunya PT Vale Indonesia Tbk (INCO). Saham ini direkomendasikan speculative buy dengan target harga Rp5.200.
“Prospek komoditas nikel serta ekspektasi terhadap perkembangan hilirisasi menjadi katalis yang dapat menjaga minat investor terhadap saham ini. Namun, karena saham berbasis komoditas masih sangat sensitif terhadap pergerakan harga komoditas dan sentimen global, strategi pada INCO sebaiknya tetap disiplin terhadap risiko,” tutur Hendra.
Menurut Hendra, selain INCO, PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI) menarik diperhatikan dengan rekomendasi trading buy dan target harga Rp1.650. Eksposur MAPI terhadap bisnis ritel dan konsumsi dinilai dapat menjadi katalis apabila sentimen domestik dan ekspektasi terhadap daya beli masyarakat mulai membaik.
Hendra juga merekomendasikan PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) dengan status trading buy dan target harga Rp580, terutama apabila momentum saham-saham berbasis komoditas kembali mendapatkan perhatian investor.
Sementara itu, PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL) direkomendasikan trading buy dengan target harga Rp550. “Karakter bisnis menara telekomunikasi yang relatif defensif dinilai dapat menjadi penyeimbang ketika pasar masih menghadapi tekanan dari faktor makro global,” kata Hendra.
