Haji Isam Bakal Akuisisi 30% Saham BYAN, Bagaimana Nasib RKAB Tiga Anak Usaha?
JAKARTA, investortrust.id -Masuknya PT Jhonlin Baratama sebagai calon pemegang saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN) dinilai menjadi perkembangan strategis yang berpotensi memengaruhi struktur kepemilikan sekaligus membuka ruang sinergi antara Bayan Resources dan Grup Jhonlin.
Senior Technical Analyst PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia Muhammad Nafan Aji mengatakan pengalaman Jhonlin di sektor pertambangan dapat membuka peluang sinergi dalam jangka menengah hingga panjang, baik dari sisi operasional, rantai pasok, infrastruktur, maupun pengembangan bisnis pertambangan dan energi.
Meski demikian, dampak terhadap fundamental BYAN masih bergantung pada realisasi transaksi, struktur pengendalian pascatransaksi, serta arah strategi yang diterapkan pemegang saham baru.
Baca Juga
IHSG Dibuka Melesat 50,14 Poin, Saham BYAN hingga Emiten Haji Isam Perkasa
“Aksi korporasi ini lebih tepat dilihat sebagai katalis strategis jangka menengah-panjang, sementara kinerja operasional dan produksi tetap menjadi faktor utama yang menentukan fundamental BYAN dalam jangka pendek,” kata Nafan saat dihubungi investortrust.id Jumat, (18/9/2026).
Sementara itu, terkait evaluasi dan persetujuan perubahan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) tiga anak usaha Bayan, Nafan menilai keterlibatan Jhonlin Baratama tidak otomatis berdampak terhadap proses tersebut.
Nafan menyebut proses evaluasi hingga persetujuan RKAB tetap berada dalam kewenangan regulator dan harus dilakukan sesuai ketentuan serta prosedur yang berlaku.
Baca Juga
“Oleh karena itu, meskipun nantinya transaksi pengambilalihan saham BYAN oleh Jhonlin Baratama telah efektif, proses persetujuan perubahan RKAB tetap berjalan berdasarkan aspek administratif, teknis, operasional, serta ketentuan regulasi yang berlaku,” katanya.
Nafan bilang investor perlu melihat kedua isu tersebut sebagai katalis yang berbeda. Masuknya Jhonlin Baratama berkaitan dengan perubahan struktur kepemilikan dan potensi sinergi strategis, sedangkan persetujuan perubahan RKAB memiliki dampak yang lebih langsung terhadap pemulihan serta peningkatan produksi tiga anak usaha Bayan.
“Selama proses RKAB masih berjalan, ketidakpastian terkait volume produksi dan pemenuhan kontrak masih menjadi perhatian pasar. Karena itu, perkembangan keputusan regulator terkait RKAB tetap menjadi salah satu faktor penting yang perlu dicermati untuk melihat prospek kinerja BYAN ke depan,” pungkasnya.
