Kinerja Lampaui Ekspektasi, Target Harga Saham Semen Indonesia (SMGR) Malah Dipangkas
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Target harga saham PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) dipangkas, seiring penggunaan multiple valuasi yang lebih rendah. Padahal kinerja perseroan pada semester I-2026 tercatat lebih kuat dari perkiraan.
Dalam riset terbaru, Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia Andreas Saragih merevisi estimasi kinerja SMGR untuk tahun buku 2026 dan 2027, setelah perusahaan membukukan hasil yang lebih kuat dari perkiraan.
Kinerja SMGR pada kuartal II-2026 tercatat melampaui ekspektasi. Pendapatan mencapai Rp 9,4 triliun, tumbuh 17,7% secara tahunan (YoY) dan 12,9% secara kuartalan (QoQ).
Sementara itu, laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk (PATMI) mencapai Rp 148 miliar, meningkat 84,1% QoQ dan berbalik dari kerugian pada kuartal II-2025 atau secara tahunan. Namun, EBITDA emiten pelat merah ini tercatat turun 0,5% (yoy) dan 2,2% (QoQ) menjadi Rp 1,1 triliun.
Secara kumulatif, pendapatan SMGR pada semester I-2026 mencapai Rp17,7 triliun, setara 49% dari estimasi analis dan 48% dari konsensus. Capaian ini, melampaui kisaran tingkat pencapaian rata-rata lima tahun sebesar 44%-46%.
Adapun EBITDA semester I-2026 SMGR tercatat sebesar Rp 2,2 triliun atau sekitar 48% dari estimasi analis dan 45% dari konsensus, masih berada dalam kisaran historis 41%-51%.
Di sisi lain, PATMI Semen Indonesia sepanjang Januari-Juni 2026 mencapai Rp 228 miliar atau 105% dari estimasi sebelumnya untuk tahun ini dan 49% dari konsensus.
Program Pemerintah dan Kenaikan Harga Topang Pendapatan
Pertumbuhan pendapatan SMGR ditopang oleh kenaikan volume penjualan, serta harga jual rata-rata (average selling price/ASP). Volume penjualan pada semester I-2026 meningkat 9,4% (yoy) menjadi 9,56 juta ton.
Pertumbuhan terutama berasal dari volume domestik dalam kemasan dan curah, yang masing-masing meningkat 11,4% (yoy) dan 19,7% (yoy). Di sisi lain, volume penjualan regional turun 4,7% (yoy).
Menurut Andreas, sejumlah program pemerintah seperti Sekolah Rakyat, Koperasi Desa/Koperasi Merah Putih (KDKMP), dan Kampung Nelayan turut mendukung permintaan domestik.
Sementara itu, ASP semen campuran juga meningkat 11,6% (yoy) menjadi Rp 883.000 per ton. Kenaikan ini sejalan dengan peningkatan porsi semen dalam kemasan yang mencapai 56,8% dari total volume semester pertama tahun ini, naik 2,9 poin persentase secara tahunan.
Selain itu, ASP semen dalam kemasan dan curah pada semester I-2026 masing-masing meningkat 7,8% (yoy) dan 4,1% (yoy), setelah perusahaan melakukan dua kali kenaikan harga.
“Manajemen juga berencana menaikkan harga lebih lanjut untuk meneruskan kenaikan biaya input kepada pasar,” sambung Andreas.
Beban Transportasi dan Promosi Tekan Margin EBITDA
Di sisi biaya, margin laba kotor (GPM) SMGR melebar 2,9 poin persentase secara tahunan menjadi 22,7% (yoy). Hal ini didorong biaya pokok penjualan (COGS) per ton yang hanya meningkat 3,6% (yoy) menjadi Rp 757.000.
Namun, margin EBITDA Semen Indonesia justru menyempit 2,1 poin persentase menjadi 11,6% (yoy), akibat kenaikan biaya penjualan, umum, dan administrasi (SG&A) per ton sebesar 28,3% (yoy) menjadi Rp 186.000.
Dalam enam bulan pertama tahun ini, biaya transportasi perseroan meningkat 41,9% (yoy) menjadi Rp 980 miliar. Sementara itu, pengeluaran promosi melonjak 130% (yoy) menjadi Rp 220 miliar.
Baca Juga
Semen Indonesia (SMGR) Optimistis Permintaan Semen Tumbuh, Katalisnya Ini
“Kedua pos tersebut menyumbang sekitar 70% dari kenaikan SG&A sebesar Rp 596 miliar,” catat Andreas.
Di bawah laba operasi, biaya keuangan semester I-2026 SMGR turun 21,2% (yoy) menjadi Rp 335 miliar. Selain itu, perseroan mencatat keuntungan selisih kurs Rp 64 miliar, berbalik dari kerugian Rp 10,7 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
“Kedua faktor tersebut turut menopang peningkatan PATMI (laba bersih),” jelas Andreas.
Perampingan, Jadi Agregator Bahan Bangunan
Selain kinerja keuangan, SMGR juga tengah menjalankan strategi transformasi bisnis melalui penggabungan delapan anak perusahaan.
Delapan anak usaha yang bergerak di bidang distribusi semen, teknologi informasi, dan manajemen properti tersebut akan digabungkan menjadi satu distributor nasional yang oleh manajemen disebut sebagai ‘distributor unggulan’.
Entitas baru tersebut tidak hanya mendistribusikan semen, tetapi juga akan mengagregasi berbagai bahan bangunan. Distributor tersebut akan menawarkan empat solusi, yakni struktural, perkerasan jalan, dinding, dan atap.
“Langkah ini akan membawa SMGR ke pasar yang dapat dijangkau atau addressable market yang diperkirakan manajemen mencapai Rp 250 triliun - Rp 300 triliun. Nilai tersebut jauh lebih besar dibandingkan pasar semen saja yang diperkirakan sekitar Rp 65 triliun,” papar Andreas.
Analis pun melihat pembentukan agregator bahan bangunan tersebut sebagai tahap berikutnya dari strategi transformasi SMGR, setelah perusahaan melakukan penataan ulang saluran ritel dan tata kelola harga.
Andreas menegaskan bahwa kinerja semester I-2026 yang melampaui ekspektasi, revisi estimasi menjadi salah satu pertimbangan dalam penilaian terhadap saham SMGR. Namun, penggunaan multiple valuasi yang lebih rendah membuat target harga saham diturunkan.
Mirae Asset Sekuritas Indonesia mempertahankan target multiple saham SMGR pada level 1,25 standar deviasi (SD), di bawah rata-rata lima tahun. Namun, level multiple tersebut kini turun menjadi 3,5 kali proyeksi EV/EBITDA 2026, dari sebelumnya 4,4 kali.
Penurunan multiple tersebut menghasilkan target harga baru SMGR sebesar Rp 2.460 per saham, dibandingkan target pada riset bulan lalu sebesar Rp 2.750.
Adapun sejumlah risiko yang dapat menekan kinerja SMGR menurut Andreas, antara lain volume penjualan dan ASP gabungan yang lebih rendah dari perkiraan, persaingan yang semakin ketat, serta biaya input yang lebih tinggi dari estimasi.
