Force Majeure dan Haji Isam Rontokkan Saham Bayan (BYAN) hingga 40% dalam Sebulan
JAKARTA, investortrust.id – Harga saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN) anjlok lebih dari 40% menjadi Rp 10.075 dalam sebulan terakhir, bahkan penurunan harga saham BYAN dalam dua hari terakhir menjadi faktor utama penekan indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI).
Penurunan tajam harga saham BYAN tersebut berbanding terbalik dengan emiten batu bara lainnya, yaitu AADI, BUMI, PTBA, ITMG, hingga INDY, yang cenderung menguat dalam sebulan terakhir. Penguatan tertinggi dicatatkan PTBA dan AADI.
Baca Juga
Laba Bayan Resources (BYAN) Naik 16,8% di Semester I-2026 Terdorong Pendapatan
Tekanan terbesar terhadap saham Bayan (BYAN) datang dari pemberitahuan kejadian atau keadaan yang bersifat memaksa (force majeure) kepada para pelanggannya. Force majeure terjadi karena persetujuan atas perubahan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) Tahun 2026 belum diterbitkan kepada anak usahanya PT Tiwa Abadi (TA), PT Tanur Jaya (TJ), dan PT Fajar Sakti Prima (FSP).
Hal ini membuat penyediaan batu bara berdasarkan perjanjian penyediaan batu bara (coal supply agreement) kepada pelanggan kemungkinan tidak bisa dipenuhi. Persetujuan RKAB diperlukan agar anak-anak perusahaan BYAN tersebut dapat menjalankan kegiatan produksi batu bara secara sah.
Baca Juga
Bayan Resources (BYAN) Ditawar US$ 3 Miliar, IAW Ingatkan Hak Investor Publik
“Perseroan dan anak-anak perusahaannya memberitahukan keadaan tersebut di atas sebagai suatu peristiwa Keadaan Kahar/Force Majeure kepada para pelanggannya,” demikian disampaikan dalam pemberitahuan tersebut.
BYAN menyatakan belum diterbitkannya persetujuan perubahan RKAB menimbulkan dampak material terhadap kelangsungan usaha perseroan, yaitu kemampuan perseroan dan anak-anak perusahaan dalam menjalankan kegiatan produksi batu bara serta memenuhi kewajiban penyediaan batu bara kepada pelanggan berdasarkan perjanjian yang telah ada.
Selain faktor tersebut, rumor yang menyebutkan Haji Isam menawar akuisisi 62% saham BYAN dengan harga jauh di bawah harga pasar juga ikut memperburuk harga saham emiten ini dalam sebulan terakhir.
