Rupiah Bergerak Menguat Terhadap Dolar AS, Sentuh Rp 17.607 per US$
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Rupiah bergerak menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Senin (14/9/2026). Rupiah menguat 0,02% menjadi Rp 17.607 per dolar AS.
Mata Uang Garuda menjadi salah satu mata uang yang bergerak menguat terhadap dolar AS. Selain rupiah, nilai tukar mata uang China, yuan bergerak menguat terhadap dolar AS sebesar 0,01%.
Sementara itu, yen Jepang terpantau melemah sebesar 0,12%. Ringgit Malaysia turut melemah 0,04%, won Korea Selatan melemah 0,24%, dolar Singapura melemah 0,09%, dan baht Tailan melemah 0,17%.
Kepala Ekonom Bank Mandiri, Andri Asmoro mengatakan bahwa indeks dolar AS atau DXY menguat 0,07% menjadi 99,12. DXY terpantau berada di sekitar 99,15, karena kenaikan imbal hasil US Treasury diimbangi oleh penguatan mata uang utama menjelang pertemuan sejumlah bank sentral penting.
Inflasi CPI utama AS meningkat menjadi 0,4% secara bulanan pada Agustus 2026 dan tetap berada di 3,4% secara tahunan. Sementara itu, core CPI naik 0,3% secara bulanan dan melandai menjadi 2,4% secara secara tahunan menunjukkan tekanan inflasi yang mendasari masih relatif kuat.
Dengan demikian, pasar memperkirakan bahwa The Fed akan menaikkan Fed Funds Rate untuk pertama kalinya sejak pertengahan 2023. Pasar juga melihat kemungkinan adanya kenaikan suku bunga tambahan pada akhir tahun ini.
Baca Juga
Rupiah Melemah Terhadap Dolar AS, Posisi ke Rp 17.612 per Dolar AS
Harga minyak mentah Brent turun 2,81% menjadi US$ 104,6 per barel pada Jumat. Tetapi pagi ini kembali naik sekitar 3% hingga menembus US$ 107 per barel setelah serangan baru terhadap infrastruktur energi Arab Saudi dan kapal-kapal di kawasan Teluk kembali meningkatkan kekhawatiran terhadap pasokan.
Penghentian operasi pipa East-West Arab Saudi serta penundaan pembicaraan mengenai pembukaan kembali Selat Hormuz meningkatkan risiko gangguan pasokan energi yang berkepanjangan dan kembali meningkatkan tekanan inflasi global.
Dari dalam negeri, IHSG turun 0,73% menjadi 6.541,4. IHSG melanjutkan pelemahannya di tengah tingginya harga minyak global, kenaikan imbal hasil obligasi, serta sentimen risk-off eksternal yang masih berlangsung.
Investor asing mencatatkan net outflow sebesar Rp690,2 miliar, sehingga posisi secara month-to-date (mtd) menjadi net outflow Rp 620,0 miliar. Dengan angka ini, net outflow mencapai Rp71,4 triliun secara keseluruhan.
Dari sisi pasar surat utang, imbal hasil obligasi pemerintah Indonesia tenor 10 tahun naik 4,2 bps menjadi 7,15%, sementara imbal hasil tenor 5 tahun meningkat 9,2 bps menjadi 7,03%.
Imbal hasil INDON tenor 10 tahun naik lebih tajam, sebesar 10,7 bps menjadi 5,93% (+104,9 bps ytd), mencerminkan aksi jual (sell-off) di pasar obligasi global dan imbal hasil US Treasury yang mendekati level 5%. Meski demikian, investor asing mencatatkan net inflow sebesar Rp 10,1 triliun ke obligasi pemerintah pada 10 September, sehingga total net inflow secara mtd dan ytd masing-masing mencapai Rp 11,7 triliun dan Rp 40,8 triliun.
