Rupiah Bergerak Menguat Terhadap Dolar AS
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Rupiah menorehkan catatan positif pada perdagangan Jumat pagi (5/6/2026). Rupiah menguat 0,11% menjadi Rp 18.029 per dolar Amerika Serikat (AS) berdasarkan data Bloomberg pukul 09.14 WIB.
Penguatan rupiah sejalan dengan pergerakan sejumlah mata uang di Asia. Selain rupiah, mata uang di Asia yang bergerak menguat yaitu yen Jepang (0,04%), dolar Hong Kong (0,02%), dan peso Filipina (0,11%).
Sementara itu, dolar Singapura, baht Tailan, ringgit Malaysia, dan rupee India, serta yuan China, terpantau melemah terhadap dolar AS.
Kepala Ekonom Bank Mandiri, Andry Asmoro menjelaskan imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun turun 2,17 bps menjadi 4,47%. Indeks Dolar AS (DXY) melemah ke level 99,2, mengakhiri tren penguatan selama tiga sesi berturut-turut.
Baca Juga
"Seiring turunnya harga minyak mentah setelah meningkatnya harapan bahwa kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan Lebanon dapat membuka jalan bagi kesepakatan diplomatik yang lebih luas dengan Iran," ujar Andry dalam keterangan resminya.
Andry mengatakan ketidakpastian yang masih tinggi dan situasi geopolitik tetap sangat rapuh. Sementara itu, harga minyak yang masih jauh di atas level sebelum konflik serta dolar AS yang masih diperdagangkan di dekat level tertinggi dalam dua bulan terakhir.
Investor mulai memperhitungkan kemungkinan kenaikan suku bunga The Fed sebelum akhir tahun, bahkan berpotensi terjadi pada Oktober, di tengah kekhawatiran bahwa tingginya biaya energi dapat memicu tekanan inflasi.
Pada saat yang sama, data pasar tenaga kerja terbaru menunjukkan ekonomi AS masih tangguh, dengan kondisi ketenagakerjaan yang menguat dalam dua bulan terakhir. Laporan ketenagakerjaan AS yang akan dirilis pada hari Jumat diperkirakan akan memberikan petunjuk lebih lanjut mengenai kondisi pasar tenaga kerja serta arah kebijakan moneter ke depan.
Jumlah warga AS yang mengajukan klaim tunjangan pengangguran naik 13.000 menjadi 225.000 pada pekan terakhir Mei 2026, lebih tinggi dari ekspektasi pasar sebesar 212.000. Angka tersebut merupakan jumlah klaim awal tertinggi sejak pekan pertama Februari.
Meski demikian, jumlah klaim pengangguran berkelanjutan, yang sering digunakan sebagai indikator tingkat pengangguran yang masih berlangsung di AS, turun 8.000 menjadi 1.777.000 pada pekan sebelumnya.

