Rupiah Bergerak Melemah, Sentuh Rp 17.846 per Dolar AS
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Rupiah bergerak melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa (18/8/2026). Rupiah melemah 0,27% ke posisi Rp 17.846 per dolar AS.
Sejumlah mata uang di kawasan Asia bergerak melemah pada perdagangan ini. Yen Jepang terpantau melemah 0,03%, yuan China melemah 0,04%, dan baht Tailan melemah 0,05%.
Sementara itu, won Korea Selatan menguat 0,42% dan ringgit Malaysia menguat 0,24%.
Kepala Ekonom Bank Mandiri, Andry Asmoro menjelaskan bahwa data ekonomi AS yang lebih lemah diimbangi oleh kembali meningkatnya tekanan harga minyak serta kekhawatiran terhadap prospek fiskal AS dan tingginya penerbitan utang korporasi terkait AI.
Indeks dolar AS atau DXY turun tipis 0,03% menjadi 99,64, seiring data AS yang lebih lemah. Ini mendorong investor mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed dalam waktu dekat.
Data konsumsi AS semakin memperkuat indikasi perlambatan momentum ekonomi. Penjualan ritel Juli secara tak terduga turun 0,6% secara bulanan, penurunan pertama dalam sembilan bulan.
Penjualan ritel inti juga turun 0,4%, berlawanan dengan ekspektasi yang memperkirakan kenaikan. Sementara itu, indeks sentimen konsumen awal University of Michigan turun menjadi 51,0 pada Agustus, di bawah konsensus 54,5.
Ekspektasi pengetatan kebijakan The Fed terus mereda setelah data ketenagakerjaan, inflasi, dan konsumsi menunjukkan pelemahan. Pasar kini memperkirakan probabilitas kenaikan suku bunga pada September sekitar 35%, turun dari sekitar 55% sepekan sebelumnya.
Baca Juga
Survei Reuters juga menunjukkan mayoritas kuat ekonom memperkirakan The Fed mempertahankan suku bunga kebijakan di 3,50–3,75% hingga akhir 2026.
Katalis berikutnya dari AS adalah data produksi industri Juli dan laporan kinerja Home Depot hari ini, kemudian risalah rapat kebijakan The Fed Juli pada Rabu dan laporan kinerja Walmart pada Kamis. Investor akan mencermati risalah FOMC untuk mencari indikasi lebih lanjut mengenai perbedaan pandangan di dalam The Fed, setelah tiga anggota sebelumnya mendukung kenaikan suku bunga sebesar 25 bps pada rapat terakhir.
Dalam catatan Andry, harga minyak naik tajam di tengah masih tingginya ketegangan AS–Iran dan terhentinya kemajuan menuju solusi diplomatik. Harga minyak Brent naik 2,59% menjadi US$ 90,81/barel, sementara WTI menguat 2,74% menjadi US$ 84,66/barel.
Kondisi ini kembali memicu kekhawatiran terhadap pasokan energi global dan inflasi, seiring aktivitas pelayaran melalui Selat Hormuz masih mengalami keterbatasan.
Harga emas menguat karena pelemahan dolar AS dan menurunnya ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed mendorong permintaan aset safe haven. Harga emas spot naik sekitar 1,0% menjadi US$ 4.420/troy ounce. Sementara itu, imbal hasil US Treasury 30 tahun AS naik ke sekitar 5,31%, level tertinggi sejak 2007, mencerminkan kekhawatiran yang terus berlanjut terkait kebutuhan pembiayaan fiskal dan tingginya pasokan obligasi tenor panjang.

