Rupiah Kembali Bergerak Menguat Terhadap Dolar AS
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Rupiah menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Jumat (12/6/2026). Rupiah menguat 0,3% menjadi Rp 17.935 per dolar AS pada pukul 09.06 WIB.
Rupiah menjadi beberapa di antara mata uang yang menguat terhadap dolar AS. Selain rupiah, terdapat won Korea Selatan, ringgit Malaysia, dan peso Filipina, serta yuan China hingga dolar Hong Kong yang menguat. Won menguat sebesar 0,7%, ringgit menguat 0,2%, peso menguat 0,36%, yuan menguat 0,12%, dan dolar Hong Kong menguat 0,01%.
Kepala Ekonom Bank Mandiri, Andry Asmoro mencatat indeks Dolar AS (DXY) naik menembus level 100. Angka tersebut mendekati level tertinggi dalam sepuluh pekan, seiring meningkatnya kekhawatiran investor bahwa eskalasi lebih lanjut konflik antara AS dan Iran dapat mendorong harga energi lebih tinggi dan menambah tekanan inflasi.
Baca Juga
Rupiah Sempat Rp 18.000 Per Dolar, Kontraktor Mulai Keluhkan Harga Material
Presiden AS Donald Trump memperingatkan bahwa negaranya akan menyerang Iran dengan “sangat keras” dan mengindikasikan bahwa Washington dapat mengambil alih Pulau Kharg dalam waktu dekat.
Sementara itu, data terbaru menunjukkan bahwa inflasi AS pada Mei meningkat dengan laju tercepat dalam lebih dari tiga tahun. Dampak konflik Iran turut berkontribusi terhadap meningkatnya tekanan harga.
Di Eropa, Bank Sentral Eropa (ECB) menaikkan suku bunga untuk pertama kalinya dalam hampir tiga tahun. Ini menandakan bahwa mereka tidak dapat lagi menunda pengetatan kebijakan di tengah meningkatnya risiko inflasi akibat ketidakpastian geopolitik yang masih berlangsung.
Jumlah warga AS yang mengajukan tunjangan pengangguran naik 4.000 orang menjadi 229.000 pada pekan pertama Juni, level tertinggi dalam tiga bulan terakhir dan jauh di atas ekspektasi pasar yang memperkirakan penurunan menjadi 219.000.
Baca Juga
Rupiah Terkoreksi ke Rp 17.952 Per Dolar Saat Inflasi AS Memanas dan Timur Tengah Bergejolak
Sementara itu, continuing claims atau jumlah penerima tunjangan pengangguran yang masih aktif, yang menjadi indikator tingkat pengangguran yang belum terserap kembali ke pasar kerja, naik 24.000 menjadi 1,795 juta, sedikit lebih tinggi dari ekspektasi sebesar 1,780 juta.
Harga produsen (Producer Price Index/PPI) untuk permintaan akhir di AS naik 1,1% secara bulanan pada Mei 2026, sama dengan kenaikan 1,1% pada April 2026.
Harga barang melonjak 2,8% secara bulanan, setelah naik 1,9% pada April 2026. Lebih dari setengah kenaikan tersebut disebabkan oleh lonjakan harga bensin sebesar 23,4%. Harga solar, bahan bakar jet, resin dan bahan plastik, bahan kimia industri, serta gas alam cair juga mengalami kenaikan.

