Harga Minyak Naik, Prospek Saham MEDC Makin Menarik?
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – BRI Danareksa Sekuritas mempertahankan rekomendasi buy (beli) untuk saham PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) dengan target harga Rp 2.200 per saham. Prospek kinerja MEDC dinilai masih positif, ditopang operasional minyak dan gas (migas) yang solid serta kondisi harga minyak yang masih tinggi.
Dalam risetnya, BRI Danareksa Sekuritas menyebut produksi migas MEDC pada semester I-2026 mencapai 170 ribu barel setara minyak per hari (mboepd), tumbuh 18,9% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Capaian tersebut berada di batas atas panduan produksi perseroan untuk 2026.
Pada kuartal II-2026, produksi migas MEDC mencapai 171 mboepd, naik 1,2% secara kuartalan. Peningkatan tersebut didorong oleh kenaikan produksi minyak dan gas.
Selain bisnis migas, penjualan listrik MEDC juga meningkat. Penjualan listrik pada semester I-2026 tercatat sebesar 2.323 GWh, tumbuh 16,5% secara tahunan. Pertumbuhan ini didukung ekspansi ELB, Ijen Geothermal, serta proyek East Bali Solar PV.
Dari pengembangan proyek, Senoro Phase-2A telah beroperasi penuh pada Juni 2026. Sementara itu, Bualuang Renewal Plan Phase-1 menambah sekitar 2.000 barel minyak per hari (bopd) produksi bruto pada kuartal II-2026.
BRI Danareksa Sekuritas memperkirakan kinerja keuangan MEDC akan semakin kuat pada kuartal II-2026. Pertumbuhan tersebut ditopang oleh kenaikan harga jual minyak dan gas, produksi yang tetap terjaga, serta meningkatnya kontribusi PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) seiring dengan peningkatan produksi smelter.
Pendapatan MEDC pada kuartal II-2026 diperkirakan mencapai US$804,5 juta, naik 20,4% secara kuartalan dan 39,2% secara tahunan. Dengan demikian, pendapatan semester I-2026 diperkirakan mencapai sekitar US$1,47 miliar atau tumbuh 29,4% secara tahunan.
Baca Juga
BRI Danareksa Sekuritas memperkirakan lifting minyak MEDC mencapai 48 ribu barel per hari, sedangkan lifting gas sebesar 633,6 juta standar kaki kubik per hari (mmscfd). Harga jual rata-rata minyak diperkirakan meningkat menjadi US$97 per barel, dengan harga gas sekitar US$5,68 per mcf.
Sejalan dengan itu, EBITDA MEDC pada kuartal II-2026 diperkirakan mencapai US$492 juta, tumbuh 41% secara kuartalan. Laba bersih diproyeksikan mencapai US$149 juta, melonjak 122,2% secara kuartalan dan 661,7% secara tahunan.
Kinerja tersebut diperkirakan turut mendapat kontribusi sekitar US$52,6 juta dari peningkatan produksi smelter AMMN. Dengan proyeksi tersebut, laba bersih MEDC pada semester I-2026 diperkirakan mencapai sekitar US$216 juta, tumbuh 148% secara tahunan atau setara 56% dari proyeksi laba bersih MEDC sepanjang 2026.
Ke depan, BRI Danareksa Sekuritas menilai prospek laba MEDC tetap positif. Selain ditopang kinerja operasional migas, prospek tersebut juga didukung oleh lingkungan harga minyak yang masih menguntungkan.
Harga minyak Brent tercatat bertahan di level tinggi dan mencapai sekitar US$100 per barel sejak Juli 2026. Di sisi lain, cadangan minyak strategis Amerika Serikat atau Strategic Petroleum Reserve (SPR) turun menjadi sekitar 286 juta barel, level terendah sejak November 1982. Kondisi tersebut berpotensi menjaga pasar minyak tetap ketat.
Untuk itu, BRI Danareksa Sekuritas mempertahankan rekomendasi Buy saham MEDC dengan target harga Rp2.200 per saham berdasarkan metode sum-of-the-parts (SOTP).
Meski demikian, sejumlah risiko tetap perlu diperhatikan, antara lain penurunan harga minyak yang lebih rendah dari perkiraan, produksi yang tidak mencapai target, keterlambatan proyek, kenaikan biaya tunai, serta proses peningkatan produksi smelter AMMN yang lebih lambat dari perkiraan.
