Prospek Perdamaian Iran-AS Makin Suram, Harga Minyak Terus Merangkak Naik
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id - Harga minyak naik tipis pada Selasa dan mencatat penguatan selama tiga hari berturut-turut setelah harapan tercapainya kesepakatan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran semakin memudar.
Harga minyak mentah Brent berjangka naik 15 sen menjadi US$91,02 per barel. Sementara minyak mentah AS West Texas Intermediate (WTI) naik 44 sen menjadi US$84,94 per barel. Kedua kontrak tersebut sempat menyentuh level tertinggi dalam tiga pekan pada perdagangan Selasa (18/8/2026).
Baca Juga
Minyak Brent Tembus US$ 90, Iran Tolak Perpanjangan Kesepakatan dengan AS
Tekanan terhadap pasar minyak meningkat setelah Iran menyatakan akan mengambil sikap yang lebih ofensif dan tetap menutup Selat Hormuz. Pada saat yang sama, Washington menutup kemungkinan memperpanjang gencatan senjata dengan Teheran.
Kemajuan dalam perundingan perdamaian dan pemulihan lalu lintas kapal tanker melalui Selat Hormuz juga tampak terhenti. Kondisi tersebut meningkatkan risiko konflik yang dimulai setelah AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari berlangsung lebih lama.
Negosiator utama Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, mengatakan Iran akan mempertahankan penutupan Selat Hormuz sampai AS memenuhi sejumlah persyaratan dalam kesepakatan sementara yang ditandatangani pada Juni.
Sementara itu, Presiden AS Donald Trump mengatakan pada Selasa bahwa pembicaraan antara Washington dan Teheran tidak sedang berlangsung dan tidak ada jadwal perundingan. Namun, Trump menyatakan Selat Hormuz terbuka.
Pernyataan tersebut hanya mendapat respons terbatas dari pasar. “Apa yang Anda lihat hari ini adalah kelelahan terhadap pemberitaan,” kata Tracy Shuchart, ekonom senior di NinjaTrader, dikutip CNBC. Menurut dia, pernyataan Trump bahwa tidak ada pembicaraan tidak mengubah kondisi fisik di lapangan karena pada dasarnya tidak ada perundingan nyata sebelumnya dan situasi operasional juga tidak banyak berubah dalam dua pekan terakhir.
Pernyataan Qalibaf muncul sehari setelah seorang pejabat senior Iran mengatakan kepada Reuters bahwa Teheran akan beralih ke postur militer “sepenuhnya ofensif” setelah upaya mengakhiri perang secara permanen mengalami kebuntuan.
Mohit Kumar, ekonom di Jefferies, menilai AS dan Iran belum menghadapi tekanan yang cukup besar untuk mendorong salah satu pihak mencapai kesepakatan.
“Karena itu, kami melihat tekanan lebih lanjut dalam jangka pendek dan tekanan kenaikan terhadap harga minyak,” ujar Kumar.
Aktivitas di Hormuz
Meski Selat Hormuz secara efektif mengalami gangguan, sebagian minyak masih berhasil keluar melalui jalur tersebut. Aktivitas penyeberangan kapal masih berada dalam jumlah satu digit.
Saudi Aramco juga telah kembali melakukan pemuatan minyak dari kawasan di dalam Selat Hormuz dan menawarkan kargo melalui mekanisme transfer antarkapal di lepas pantai Fujairah, Uni Emirat Arab.
Menurut Bjarne Schieldrop, analis SEB, Iran pada dasarnya memiliki kemampuan untuk menghentikan sepenuhnya arus minyak keluar dari Selat Hormuz kapan pun negara tersebut menganggap perlu.
Iran juga tengah berunding dengan Oman mengenai kesepakatan untuk mengelola Selat Hormuz dan menyatakan kedua pihak hampir mencapai kesepakatan.
Namun, upaya tersebut kembali menghadapi tekanan setelah Trump mengancam akan menyerang Oman apabila negara tersebut menghalangi upaya AS bernegosiasi dengan Iran. Oman selama ini merupakan salah satu mitra keamanan penting AS di kawasan.
Baca Juga
Ketegangan juga meluas ke kawasan Laut Merah. Kelompok Houthi di Yaman meluncurkan rudal ke arah kapal-kapal yang mereka klaim sebagai kapal militer Saudi beserta empat kapal pengawalnya, menurut juru bicara militer Houthi Yahya Saree.
Uni Emirat Arab kemudian mengeluarkan peringatan bahwa sistem pertahanan udaranya mendeteksi ancaman rudal. Namun, beberapa waktu kemudian pemerintah menginformasikan melalui peringatan telepon bahwa situasi telah aman dan aktivitas normal dapat dilanjutkan.
Sementara itu, di Rusia, empat sumber mengatakan kepada Reuters bahwa Moskow mengalihkan ekspor minyak mentah Kazakhstan dari pelabuhan Ust-Luga di Laut Baltik menuju pelabuhan Novorossiysk di Laut Hitam.
Langkah tersebut membuka kapasitas di Ust-Luga bagi tambahan ekspor minyak Rusia. Pada saat yang sama, serangan drone Ukraina membuat eksportir Rusia semakin sulit mendapatkan kapal tanker untuk pemuatan di kawasan Laut Hitam.
Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa konflik AS-Iran tidak hanya meningkatkan risiko terhadap harga minyak, tetapi juga mulai memengaruhi pola perdagangan dan jalur pengiriman energi global.

