IHSG Tertekan 1,87% Terseret Risk-Off Global, Waktunya Buy on Weakness?
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) tertekan cukup dalam hingga melemah 1,87% pada perdagangan intraday sesi I Jumat (11/9/2026). Penurunan tajam ini didorong oleh aksi risk-off pasar global menyusul lonjakan harga minyak mentah dan kenaikan imbal hasil (yield) US Treasury.
Meskipun tertekan hebat akibat sentimen eksternal, para pengamat dan analis pasar modal menilai koreksi IHSG saat ini masih wajar dan belum mengubah tren penguatan utama indeks. Terendah IHSG intraday sesi I level 6.462, namun memasuki pukul 10.00 WIB, tekanan IHSG berkurang hingga masuk level 6.513.
Pengamat Pasar Modal Elandry Pratama menjelaskan bahwa pelemahan IHSG yang mendekati 2% ini dipicu oleh kombinasi sentimen negatif global yang menekan risk appetite investor, memperkuat dolar AS, dan memicu aksi jual masif di pasar saham Asia, termasuk Indonesia.
Baca Juga
Demutualisasi BEI: APEI Dorong Penyelesaian Hak Ekonomi Pemegang Saham Lama Secara Adil
Beberapa pemicu utamanya, yaitu lonjakan harga minyak Brent mendekati US$ 110, sementara West Texas Intermediate (WTI) naik 8,20% ke level US$ 103,93 per barel akibat eskalasi konflik di Timur Tengah dan gangguan jalur pasokan. Kenaikan yield US Treasury 10 tahun naik 2,56% menjadi 4,961% (mendekati 5%), sedangkan yield 30 tahun naik 1,51% ke 5,366% yang merupakan level tertinggi dalam hampir dua dekade.
Tekananan indeks juga dipengaruhi ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed setelah inflasi produsen AS (PPI Agustus naik 0,4% MoM dan 5,4% YoY) meningkatkan perkiraan pasar akan kenaikan Fed Rate pada pertemuan 16 September menjadi 70%-72% (naik dari sebelumnya 60%). Investor kini menantikan data Consumer Price Index (CPI) AS pada 11 September 2026 sebagai konfirmasi lebih lanjut.
Elandry menegaskan bahwa koreksi IHSG belum menandakan berakhirnya tren penguatan. Penurunan ini merupakan fase profit taking sekaligus penyesuaian valuasi setelah reli sebelumnya.
Baca Juga
Capai 423,71 Juta Ton hingga Juli 2026, Produksi Batu Bara RI Melambat Jadi 60,5 Juta Ton per Bulan
"Tren baru dapat dikatakan melemah apabila indeks secara konsisten membentuk lower low dan gagal kembali ke atas area support yang ditembus selama ketegangan geopolitik, harga minyak, dan yield masih tinggi, volatility diperkirakan tetap besar sehingga investor sebaiknya tidak terburu-buru melakukan pembelian agresif," ungkap Elandry kepada investortrust.id, Jumat (11/9/2026).
Senada dengan hal tersebut, Senior Technical Analyst PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Muhammad Nafan Aji, menyatakan bahwa pergerakan IHSG secara teknikal masih berada dalam jalur uptrend. "Secara teknikal, meskipun mengalami koreksi wajar menuju 'wave (iv)', pergerakan IHSG sebenarnya masih dalam keadaan uptrend," ujar Nafan.
Untuk perdagangan Jumat (11/9/2026), Nafan memproyeksikan IHSG bergerak dalam kondisi bearish to-neutral dengan volatilitas tinggi, namun struktur bullish-nya masih dapat dipertahankan.
Tantangan Fiskal hingga Rupiah
Dari dalam negeri, investor juga menyoroti pergerakan nilai tukar rupiah yang terdepresiasi 0,21% menjadi Rp17.547 per US$. Kondisi ini membatasi ruang bagi Bank Indonesia (BI) untuk melonggarkan kebijakan moneter.
Sebagai net importer minyak, kenaikan harga minyak di atas US$100 per barel berpotensi meningkatkan beban fiskal terkait subsidi/kompensasi energi serta neraca perdagangan Indonesia. Kendati demikian, pasar masih mendapatkan penahan (cushion) dari beberapa factor.
Baca Juga
Harga Minyak Bergolak Dipicu Eskalasi Konflik AS-Iran, Brent Menuju US$ 120?
Di antaranya dampak positif bagi emiten energi dari kenaikan harga komoditas memberikan sentimen positif terbatas bagi eksportir energi dan emiten tambang. Konsumsi domestik terjaga setelah data BI mengungkap Indeks Penjualan Riil (IPR) Agustus 2026 tetap tumbuh 0,5% YoY (setelah tumbuh 1,1% YoY pada Juli), ditopang oleh kelompok suku cadang & aksesori serta makanan, minuman, & tembakau. Ini mengindikasikan konsumsi domestik masih terjaga dan belum mengalami kontraksi tajam.
Menghadapi volatilitas pasar yang tinggi, Elandry menyarankan investor untuk menerapkan strategi selective buy serta melakukan pembelian secara bertahap, sembari tetap disiplin menjaga porsi kas.
Berikut rekomendasi saham yang dapat dicermati PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) dan PT Elnusa Tbk (ELSA). Buy on Weakness (Fundamental Solid & Likuiditas Baik) saham PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM), PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP), dan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA).
Baca Juga
Asia Tetap Jadi Magnet Investasi, Indonesia Diminta Perkuat Daya Saing
"Hindari mengejar saham yang sudah melonjak tinggi serta tetap disiplin menjaga porsi kas karena arah pasar masih sangat bergantung pada perkembangan harga minyak dan kebijakan The Fed," tutup Elandry.
Menghadapi volatilitas pasar yang tinggi, Elandry menyarankan investor untuk menerapkan strategi selective buy serta melakukan pembelian secara bertahap, sembari tetap disiplin menjaga porsi kas.
Berikut rekomendasi saham yang dapat dicermati PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) dan PT Elnusa Tbk (ELSA). Buy on Weakness (Fundamental Solid & Likuiditas Baik) saham PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM), PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP), dan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA).
"Hindari mengejar saham yang sudah melonjak tinggi serta tetap disiplin menjaga porsi kas karena arah pasar masih sangat bergantung pada perkembangan harga minyak dan kebijakan The Fed," tutup Elandry.
