Reliance Sekuritas Ungkap Buy On Weakness 4 Saham Pagi Ini, Ada BRPT hingga BUVA
JAKARTA, investortrust.id – Indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI), Kamis (5/3/2026), diprediksi bergerak cenderung melemah dalam kisaran 7.862-7.988. Sebaliknya empat saham ini, BRPT, BUVA, PTRO, PWON, direkomendasikan buy on weakness.
Reliance Sekuritas dalam riset pagi ini menyebutkan bahwa secara teknikal, candle terakhir IHSG berbentuk bearish belt hold, di bawah MA5 dan MA20 serta indikator Stochastic dead cross. “Pola teknikal ini buka peluang berlanjutnya pelemahan IHSG dengan saham pilihan BRPT, BUVA, PTRO, PWON,” tulisnya.
Baca Juga
Laba Bakal Bertumbuh Pesat, Saham Merdeka Battery (MBMA) Direvisi Naik!
Pergerakan indeks juga akan dipengaruhi laju saham Wall Street ditutup mayoritas menguat. Sentimen positif disebabkan oleh kabar Iran yang memberi sinyal keterbukaan untuk berunding dan janji Presiden AS Donald Trump untuk menstabilkan pasar minyak. Hal ini berhasil meredakan kecemasan investor atas konflik di Timur Tengah.
Pergerakan indeks juga akan dipengaruhi lompatan indeks saham Asia, mengikuti kenaikan mayoritas pasar saham dunia, seperti Nikkei, Hang Seng, dan Strait Times.
Terkait saham pilihan, Reliance Sekuritas merekomendasikan buy on weakness saham BRPT dengan target harga Rp 1.900, BUVA dengan target harga Rp 1.240, PTRO dengan target harga Rp 6.100, dan PWON dengan target harga Rp 388.
Baca Juga
Jelan Rights Issue, BUVA Tambah Saham di Perusahaan Restoran dan Bar Ini
Kemarin, IHSG anjlok parah 362,71 poin (4,57%) menjadi 7.577 dengan pemodal asing hanya membukukan penjualan bersih (net sell) saham senilai Rp 117,92 miliar. Net sell terbanyak melanda saham BBCA senilai Rp 557,69 miliar dan BBNI senilai Rp 178,57 miliar.
Seluruh sektor saham mengalami guncangan hebat sepanjang hari ini, terdalam melanda saham sektor material dasar melemah 7,42%, sektor trasnportasi 7,23%, sektor consumer primer 6,69%, dan sektor industry 5,38%. Penurunan lebih dari 4% melanda saham sektor energi, consumer non primer, teknologi, dan infrastruktur. Kejatuhan lebih dari 3% melanda saham sektor property dan keuangan.

