Demutualisasi BEI: APEI Dorong Penyelesaian Hak Ekonomi Pemegang Saham Lama Secara Adil
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id –Penyelesaian hak ekonomi pemegang saham eksisting dinilai menjadi salah satu aspek penting dalam proses demutualisasi Bursa Efek Indonesia (BEI). Transisi menuju struktur kepemilikan yang lebih terbuka dinilai harus berlangsung adil, terutama bagi anggota bursa yang selama bertahun-tahun menjadi pemegang saham BEI.
Direktur Eksekutif Asosiasi Perusahaan Efek Indonesia (APEI) Lily Widjaja menegaskan, bagi perusahaan efek, demutualisasi pada dasarnya bukan lagi isu yang diperdebatkan. Berdasarkan survei APEI pada Juli 2026, sekitar 79% anggota memberikan respons dan lebih dari 90% responden mendukung demutualisasi.
Menurut Lily, esensi demutualisasi adalah membuka kepemilikan BEI kepada pihak di luar perusahaan efek sekaligus memisahkan ownership rights dengan trading rights. Setelah demutualisasi, sebuah perusahaan dapat menjadi anggota bursa tanpa harus menjadi pemegang saham, menjadi pemegang saham tanpa menjadi anggota bursa, atau memiliki keduanya.
Baca Juga
Indikator Kinerja Demutualisasi Bursa Harus Terukur dan Dievaluasi Berkala
Namun, menurut Lily, proses transisi tersebut harus berlangsung secara adil, khususnya bagi anggota bursa yang selama bertahun-tahun menjadi pemegang saham BEI. Salah satu persoalan penting dalam demutualisasi adalah valuasi saham eksisting. Lily mengusulkan penggunaan penilai independen atau Kantor Jasa Penilai Publik (KJPP).
Metode valuasi dapat mempertimbangkan price to book value (PBV), price earnings ratio (PER), maupun pendekatan valuasi lain yang lazim digunakan dalam transaksi korporasi. Selain valuasi, isu lain yang perlu diselesaikan adalah dividen. BEI selama bertahun-tahun membukukan keuntungan, tetapi tidak membagikan dividen.
Karena itu, Lily menilai, hak ekonomi pemegang saham lama perlu diselesaikan sebelum investor baru masuk. Dengan demikian, pemegang saham lama dan baru dapat memulai fase demutualisasi dari titik yang lebih setara.
Lily memahami tidak seluruh retained earnings dapat dibagikan dalam bentuk tunai karena BEI membutuhkan modal dan likuiditas operasional. Alternatifnya dapat berupa kombinasi dividen dan kapitalisasi laba ditahan sehingga tercermin dalam nilai saham pemegang saham lama.
Tak Boleh Diskriminasi
Lily juga menekankan bahwa demutualisasi tidak boleh menciptakan diskriminasi antara anggota bursa yang memiliki saham dan anggota bursa yang tidak menjadi pemegang saham. Kepemilikan saham, menurut dia, tidak boleh memberikan privilege dalam perdagangan, pengawasan maupun akses pasar.
Lebih jauh, Lily mengingatkan, filosofi dasar pasar modal sebagai instrumen pemerataan. Pasar modal memungkinkan masyarakat dengan modal kecil ikut memiliki perusahaan besar dan menikmati pertumbuhan serta dividennya. Oleh karena itu, demutualisasi harus menjadi momentum untuk mengembalikan pasar modal kepada fungsi dasarnya, yakni pasar modal untuk semua, bukan hanya untuk kelompok bermodal besar.
Baca Juga
Menuju Bursa Modern dan Agile, BEI Siap Laksanakan Demutualisasi
Sementara itu, Direktur Utama PT Panca Global Sekuritas Gregorius Cahyo Priono mengatakan, dari perspektif perusahaan efek, demutualisasi jangan sampai menghasilkan konsentrasi kekuasaan baru terhadap infrastruktur pasar modal.
Menurut Gregorius, orientasi bisnis dan dividen penting, tetapi bukan menjadi tujuan tunggal. Diingatkan bahwa perusahaan efek juga sedang menghadapi berbagai tantangan, mulai dari kebutuhan peningkatan modal hingga bertambahnya fungsi sebagai gatekeeper pasar modal. Karena itu, transformasi BEI idealnya ikut memperkuat perusahaan efek dan seluruh ekosistem.
Menurut Gregorius, tujuan besar demutualisasi harus ditempatkan pada kepentingan bangsa. Jika tujuan tersebut menjadi pegangan, kekhawatiran bahwa bursa akan menjadi instrumen kepentingan ekonomi-politik dapat ditekan melalui tata kelola yang benar.
Ia menganalogikan BEI saat ini seperti organisasi yang dimiliki anggota dan hendak membangun “mal besar”. Untuk berkembang, dibutuhkan investor, modal, manajemen profesional, transparansi, serta pengawasan publik. Hasil akhirnya harus memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi seluruh ekosistem. Demutualisasi diharapkan mampu mewujudkan bursa sebagai “rumah” investasi yang efisien bagi para pelaku pasar.
Harapan Dividen
Wakil Presiden Direktur Utama PT Samuel Sekuritas Suria Dharma mengatakan, idealnya sebelum investor baru, yang kemungkinan pertama masuk adalah Danantara, masuk ke BEI, dividen dibagikan terlebih dahulu kepada pemegang saham eksisting.
Menurut Suria, hal tersebut berkaitan dengan aspek keadilan karena pemegang saham baru tidak semestinya ikut menikmati akumulasi laba yang telah terkumpul selama bertahun-tahun.
Baca Juga
Dukung Demutualisasi BEI, Gema Minta Standar Global dan Batas Kepemilikan Asing
Sebagai perhitungan kasar, dengan ekuitas Rp9 triliun dan sekitar 94 anggota bursa, nilai buku per anggota berkisar Rp100 miliar. Dengan laba tahun lalu sekitar Rp1 triliun dan target tahun ini Rp1,5 triliun, jika menggunakan PE ratio 10 kali, valuasi bursa bisa mencapai sekitar Rp15 triliun.
Nilai tersebut sejalan dengan aset bursa saat ini yang sekitar Rp15 triliun, dengan liabilitas relatif kecil dibanding ekuitas karena bursa memang menguntungkan. Namun, Suria menilai pembagian seluruh dividen secara tunai tidak realistis karena kas yang tersedia hanya sekitar Rp1,25 triliun.
Oleh karena itu, alternatifnya adalah melakukan kapitalisasi, sehingga dapat menaikkan nilai saham anggota eksisting. Dengan demikian, penyelesaian hak ekonomi pemegang saham lama melalui kombinasi pembagian dividen dan kapitalisasi laba ditahan menjadi salah satu opsi yang dinilai dapat mendukung proses demutualisasi BEI secara lebih adil.
