Saham Adaro Andalan (AADI) Naik 65,96% Ytd ke ATH Rp 11.700, Masih Menarik Dikoleksi?
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Saham PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) berhasil menembus level penutupan tertinggi baru sepanjang masa (all time high/ATH) Rp 11.700 pada perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (8/9/2026). Keberhasilan ini menjadikan AADI sebagai saham emiten batu bara dengan pemulihan paling cepat dari badai pasar saham Indonesia tahun ini.
Berdasarkan data perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) kemarin, saham AADI ditutup menguat 4% ke level tertinggi baru Rp 11.700. Bahkan, saham AADI menempus level tertinggi baru intraday setelah bergerak dalam rentang Rp 11.250-11.850 per saham.
Baca Juga
Laba Adaro Andalan (AADI) Melonjak, Sahamnya Masih Berpeluang Naik 23,56%
Dengan torehan ATH penutupan Rp 11.700, saham AADI telah melesat lebih dari 122,7% terhitung sejak listing perdana pada 4 Desember 2024 di level Rp 5.500 hingga penutupan perdagangan kemarin. Data Tradingview juga mencatat, saham AADI telah menguat sebanyak 65,96% sepanjang year to date (ytd) 2026. Lalu, bagaimana peluang pergerakan harga saham emiten yang dikendalikan PT Adaro Strategic dan Garibaldi Thohir ini selanjutnya?
Analis KB Valbury Sekuritas Adolf RB Setiadi dalam riset terbarunya masih mempertahankan prospek positif terhadap kinerja keuangan dan saham Adaro Andalan (AADI) ke depan, meskipun harganya telah menyentuh level tertinggi baru sepanjang masa.
KB Valbury Sekuritas mempertahankan rekomendasi beli saham AADI dengan target harga Rp 12.800 per saham atau terbuka peluang penguatan sekitar 10%. Sebelumnya Mandiri Sekuritas dalam riset terbarunya juga tetap mempertahankan rekomendasi beli saham AADI dengan target harga Rp 13.500 per saham atau masih terbuka peluang kenaikan 15,38%.
Adolf RB Setiadi memperkirakan bahwa momentum operasional AADI akan terus terjaga pada semester II-2026, seiring kondisi cuaca yang lebih mendukung aktivitas pertambangan. Meski sepanjang semester I-2026, AADI telah mencatatkan lompatan kinerja keuangan kuat dengan kenaikan pendapatan sebesar 6,1% menjadi US$ 2,55 miliar dan pertumbuhan laba bersih sebanyak 10,5% menjadi US$ 473,8 juta.
“Kekeringan akibat El Niño dan penurunan level sungai di Kalimantan belum menghambat aktivitas pengangkutan batu bara melalui tongkang. Bahkan, AADI diperkirakan akan menjaga strip ratio yang baik berlanjut dan membantu menjaga biaya tetap relatif stabil dalam beberapa bulan ke depan. Hal ini tercermin dari volume barging yang meningkat 22,3% QoQ menjadi 20,4 juta ton pada 2Q26, sehingga semester I-2026, volume barging mencapai 37 juta ton atau naik 4,3%,” tulisnya.
Adolf menambahkan, Adaro Andalan (AADI) juga diuntungkan harga batu bara termal seaborne yang lebih kuat yang sudah menembus level di atas US$ 147 per ton dalam beberapa pekan terakhir. Pengetatan persediaan pembangkit listrik di India dan gangguan pasokan domestik di China berpotensi meningkatkan permintaan ekspor batu bara AADI. Kedua pasar tersebut masing-masing menyumbang 19% dan 9% terhadap penjualan AADI sepanjang semester I-2026.
Katalis Divestasi Kestrel
KB Valbury Sekuritas menyebutkan bahwa Adaro Andalan (AADI) secara bertahap mulai mendiversifikasi pendapatan di luar bisnis batu bara yang diharapkan menjadi penopang selanjutnya terhadap pertumbuhan kinerja keuangan. Pendapatan dari penyewaan aset listrik serta jasa operasi dan pemeliharaan telah mencapai US$ 44,2 juta pada semester I-2026. Kontribusi tersebut terdiri atas pendapatan sewa aset sebesar US$ 40,7 juta dan jasa pendukung sebesar US$3,5 juta.
“Meski kontribusinya masih relatif kecil atau baru mencapai 1,7% dari pendapatan konsolidasi, pendapatan berbasis aset tersebut dinilai dapat memberikan tambahan ketahanan laba dan kualitas margin bagi AADI dalam jangka panjang,” tulisnya.
Baca Juga
Divestasi Kestrel hingga Kenaikan Harga Batu Bara, Intip Target Harga Saham Adaro Andalan (AADI) Ini
Katalis yang lebih besar berasal dari perjanjian jual beli atau binding SPA dengan Yancoal terkait divestasi kepemilikan AADI sebanyak 47,99% saham Kestrel Coal Group (KCG). AADI dijadwalkan menerima sekitar US$ 888 juta dalam bentuk kas di muka setelah transaksi tersebut diperkirakan rampung pada kuartal III-2026.
Dana hasil divestasi ini bisa digunakan untuk pengurangan utang, pertumbuhan organik, maupun dividen bagi pemegang saham. KB Valbury Sekuritas memperkirakan setiap 10% pembayaran divestasi Kestrel berpotensi menambah sekitar 1,8% terhadap dividend yield tahun 2026. Kondisi tersebut dinilai menjadi katalis menarik dalam jangka pendek bagi investor yang menggenggam saham AADI.
Terkait kinerja keuangan, KB Valbury Sekuritas memperkirakan lompatan laba bersih AADI menjadi US$ 1,02 miliar tahun ini, dibandingkan raihan tahun lalu US$ 760 juta. Pendapatan juga diproyeksikan naik dari US$ 4,91 miliar menjadi US$ 5,45 miliar.
