Saham Adaro Andalan (AADI) Kembali Cetak Rekor ATH Rp 12.250, Market Cap Tembus Rp 95 Triliun
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Harga saham PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) kembali mencetak rekor tertinggi baru (all time high/ATH) level Rp 12.250 pada perdagangan intraday sesi I Bursa Efek Indonesia (BEI), Rabu (9/9/2026). Rekor ini sempat membuat kapitalisasi pasar (market cap) saham AADI sentuh angka lebih dari Rp 95 triliun.
Rekor ATH harga bagian dari antisipasi investor terhadap penyelesaian divestasi 47,99% saham Kestrel Coal di Australia akhir bulan ini atau sesuai dengan target awal. Rekor juga didukung katalis peluang berlanjutnya kenaikan rata-rata harga jual (ASP) batu bara pada paruh II.
Berdasarkan data BEI hingga penutupan sesi I hari ini, saham AADI ditutup naik Rp 350 (2,98%) menjadi Rp 12.100 dengan nilai transaksi lebih dari Rp 149 miliar. Saham AADI bergerak dalam rentang Rp 11.750 hingga tertingginya Rp 12.250. Kenaikan harga tersebut menjadikan kapitalisasi pasar (market cap) AADI menembus level Rp 94,21 triliun dan tertinggi Rp 95,38 triliun saat harga Rp 12.250.
Baca Juga
Saham Adaro Andalan (AADI) Naik 65,96% Ytd ke ATH Rp 11.700, Masih Menarik Dikoleksi?
Analis BRI Danareksa Sekuritas Kafi Ananta dan Erindra Krisnawan mengatakan, kenaikan harga batu bara global diperkirakan dapat menopang rata-rata harga jual (ASP) ekspor AADI. Manajemen juga memperkirakan dapat mempertahankan porsi pelanggan industri yang relatif tinggi dalam penjualan domestik.
Tren kenaikan ASP telah terlihat dalam kinerja keuangan AADI pada kuartal II-2026. ASP AADI mencapai US$75,6 per ton, naik 15% secara kuartalan dan 13% secara tahunan. Sementara itu, biaya relatif stabil dengan kenaikan 1% secara kuartalan dan 4% secara tahunan.
Momentum kenaikan harga batu bara pada paruh kedua tahun ini terutama didorong oleh permintaan. China dan India disebut semakin aktif di pasar batu bara seaborne. Pasokan domestik China terdampak inspeksi keselamatan yang lebih ketat. Sementara itu, India mengalami peningkatan permintaan impor di tengah persediaan yang lebih ketat serta gangguan pasokan domestik akibat cuaca.
Permintaan dari pembeli Asia lainnya juga menguat karena pelanggan berupaya mengamankan persediaan di tengah tingginya harga minyak mentah. “Pembeli masih mencermati potensi gangguan pada musim kemarau di sejumlah tambang Indonesia serta keterlambatan revisi RKAB,” tulisnya.
Terkait tahun 2027, BRI Danareksa Sekuritas menyebutkan, pembahasan kontrak dengan pelanggan masih berlangsung. Kekhawatiran pembeli sebelumnya terkait rencana mekanisme ekspor DSI juga dinilai mulai mereda.
Penerimaan US$ 888 Juta
Katalis kedua saham ini datang dari penjualan Kestrel di Australia. BRI Danareksa Sekuritas menyebutkan bahwa penjualan Kestrel juga menjadi perhatian dalam prospek AADI. Hingga kini, manajemen AADI masih mempertahankan target penyelesaian transaksi pada akhir kuartal III-2026.
Baca Juga
Divestasi Kestrel hingga Kenaikan Harga Batu Bara, Intip Target Harga Saham Adaro Andalan (AADI) Ini
“Transaksi tersebut masih menunggu persetujuan regulator, termasuk dari otoritas China. Manajemen menyatakan sejauh ini belum terdapat kekhawatiran material dari Yancoal,” tulisnya.
Berdasarkan kepemilikan AADI sebesar 47,99% di KCG, estimasi penerimaan bruto awal dari transaksi tersebut sekitar US$ 888 juta. Potensi tambahan masih terbuka dari pembayaran kontinjensi yang terkait harga selama periode lima tahun. Dengan mempertimbangkan dua katalis tersebut, saham AADI dipertahankan rekomendasi beli dengan target harga Rp Rp 12.400.
