Bukan Cuma Soal Harga, Syailendra Bongkar “Dapur” Emas di Balik ETF
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Investasi emas kini tidak hanya soal pergerakan harga maupun kepemilikan emas fisik. Di balik produk Exchange Traded Fund (ETF) emas, terdapat ekosistem yang memastikan emas fisik sebagai aset dasar tersedia, tersimpan, dan kepemilikannya dapat direkonsiliasi.
Hal tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam forum Gold 360°: One Asset, Four Perspectives yang digelar Syailendra Capital setelah meluncurkan Reksa Dana Syariah Syailendra ETF Sharia Gold (XSGO).
Dalam forum tersebut, Syailendra Capital mempertemukan perspektif dari Manajer Investasi, Dealer Participant, serta Gold Provider & Custody untuk membahas ekosistem investasi emas, mulai dari perkembangan pasar dan faktor yang memengaruhi harga, evolusi cara berinvestasi, hingga mekanisme dan infrastruktur yang menopang ETF emas.
Chief Executive Officer Syailendra Capital, Fajar R. Hidajat, mengatakan emas memiliki karakteristik unik dalam portofolio karena meski merupakan aset yang tidak memberikan imbal hasil berkala, emas dapat berfungsi sebagai diversifikasi portofolio karena memiliki korelasi yang berbeda dengan aset keuangan lainnya.
“Emas memiliki karakteristik yang unik dalam sebuah portofolio. Walaupun bersifat non-yielding asset, namun emas mampu menjadi portfolio diversifier karena korelasi yang bisa berbeda dengan aset keuangan lainnya. Oleh karenanya, kami harap masyarakat dapat semakin memahami fungsi dan karakteristik emas sebagai salah satu aset dalam portofolio investasi, sekaligus terus terbuka terhadap perkembangan instrumen investasi emas di pasar modal Indonesia,” kata Fajar dalam keterangan tertulisnya dikutip Selasa, (1/9/2026).
Seiring berkembangnya instrumen investasi, akses terhadap emas juga mengalami perubahan. Jika sebelumnya investor harus memiliki dan menyimpan emas secara fisik, ETF memberikan alternatif untuk memperoleh eksposur terhadap emas melalui mekanisme perdagangan di bursa.
Dalam struktur tersebut, emas fisik menjadi underlying yang didukung standar kualitas dan kemurnian tertentu serta tercatat dalam bentuk Electronic Gold Receipt (EGR). Infrastruktur tersebut menjadi bagian penting dalam memastikan aset fisik yang mendasari produk ETF benar-benar tersedia dan tercatat dalam sistem.
Baca Juga
“Perkembangan cara investasi emas melalui ETF membuat setiap investor bisa lebih mudah memperoleh eksposur terhadap emas melalui infrastruktur pasar modal yang fleksibel, transparan, dan terstruktur,” ungkap Fajar.
Selain emas fisik dan pencatatan kepemilikan, ekosistem ETF juga melibatkan Dealer Participant yang memungkinkan unit ETF dapat diperdagangkan di bursa melalui perusahaan efek atau broker. Dengan mekanisme tersebut, investor dapat melakukan transaksi selama jam perdagangan dengan harga yang terbentuk mengikuti mekanisme pasar.
Secara keseluruhan, Syailendra menilai terdapat tiga aspek penting dalam ekosistem ETF emas, yakni memastikan emas fisik benar-benar tersedia, tersimpan dan terlindungi dalam sistem yang terkontrol, serta memiliki catatan kepemilikan yang dapat direkonsiliasi.
Melalui forum tersebut, Syailendra Capital ingin mendorong pemahaman investor bahwa investasi emas tidak berhenti pada potensi kenaikan atau penurunan harga. Investor juga perlu memahami bagaimana emas diakses sebagai produk investasi serta mekanisme dan infrastruktur yang menopang aset fisik di balik produk tersebut.
“Bagi kami, edukasi merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari inovasi investasi. Kehadiran produk baru perlu diiringi dengan pemahaman yang lebih baik agar masyarakat dapat mengambil keputusan investasi secara lebih terinformasi. Ke depan, kami akan terus mengedukasi masyarakat untuk membuka perspektif yang lebih luas mengenai emas, mulai dari kondisi pasarnya hingga bagaimana ekosistem di balik instrumen investasi berbasis emas bekerja,” tutur Fajar.
