Laba Alamtri Resources (ADRO) Melonjak 76,8% dan Saham Naik 6,37%, Smelter Aluminium Jadi Katalis Berikutnya
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Harga saham PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) melonjak 6,37% ke level Rp2.840 pada perdagangan Senin (31/08/2026). Pada harga tersebut, kapitalisasi pasar perseroan mencapai sekitar Rp81,79 triliun. Penguatan tajam itu terutama merupakan respons investor terhadap laporan keuangan semester I-2026 yang menunjukkan pertumbuhan laba jauh melampaui kenaikan pendapatan.
ADRO membukukan laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar US$309,37 juta, melonjak 76,8% dibandingkan US$174,94 juta pada semester I-2025. Pada saat bersamaan, pendapatan usaha meningkat 16,5%, dari US$857,69 juta menjadi US$999,24 juta. Bloomberg Technoz
Daya tarik utama laporan tersebut bukan hanya pertumbuhan pendapatan, melainkan peningkatan efisiensi dan profitabilitas. Beban pokok pendapatan hanya naik tipis, dari US$573,42 juta menjadi US$576,55 juta. Akibatnya, laba bruto melesat 48,7% menjadi US$422,68 juta. Beban usaha juga turun dari sekitar US$60,30 juta menjadi US$58,30 juta sehingga laba usaha melonjak 87,8%, dari US$203,33 juta menjadi US$381,76 juta.
Baca Juga
Angka tersebut menunjukkan kualitas pertumbuhan yang kuat. Margin laba bruto meningkat dari sekitar 33,2% menjadi 42,3%, sedangkan margin usaha melonjak dari 23,7% menjadi 38,2%. Margin laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik induk juga melebar dari sekitar 20,4% menjadi hampir 31%. Dengan demikian, setiap dolar pendapatan menghasilkan laba yang lebih besar dibandingkan tahun sebelumnya.
Momentum pertumbuhan juga berlanjut dari kuartal pertama. Pada Januari–Maret 2026, ADRO mencetak laba bersih US$128,14 juta. Dengan laba semester pertama sebesar US$309,37 juta, laba pada kuartal II-2026 dapat dihitung sekitar US$181,23 juta. Jumlah tersebut meningkat sekitar 41% dibandingkan kuartal pertama. Akselerasi laba secara kuartalan inilah yang kemungkinan besar memperkuat keyakinan investor bahwa perbaikan kinerja bukan sekadar akibat rendahnya basis pembanding tahun lalu.
Kenaikan saham ADRO juga perlu ditempatkan dalam konteks transformasi perusahaan setelah pemisahan bisnis batu bara termal melalui AADI. Pasar kini menilai ADRO berdasarkan kemampuan aset-aset yang masih dikonsolidasikan—terutama bisnis mineral dan batu bara metalurgi, pengolahan aluminium, serta energi terbarukan—untuk menggantikan sumber pendapatan dan laba dari struktur bisnis lama.
Transformasi tersebut membuat laporan semester I-2026 penting bagi investor. Pertumbuhan laba yang tinggi memberikan indikasi awal bahwa ADRO tetap mampu menciptakan profitabilitas setelah perubahan besar dalam struktur grup. Namun, untuk menilai keberlanjutannya, investor perlu mencermati sumber kenaikan laba secara lebih terperinci: berapa yang berasal dari operasi, pendapatan investasi atau dividen, keuntungan nonberulang, dan kontribusi masing-masing anak usaha.
Baca Juga
Smelter Aluminium Jadi Game Changer, Kinerja Keuangan dan Saham Alamtri (ADRO) bakal Melesat?
Dari sisi valuasi, harga Rp2.840 mencerminkan PER sekitar 9,3 kali. Rasio ini masih terlihat relatif moderat apabila pertumbuhan laba dapat dipertahankan. Namun, PER saja belum cukup untuk menilai ADRO karena perusahaan kini memiliki karakter sebagai grup investasi dan perusahaan induk dengan sejumlah aset berbeda. Pendekatan yang lebih tepat adalah sum-of-the-parts, yakni menghitung nilai setiap kepemilikan, bisnis mineral, proyek hilirisasi, dan energi terbarukan secara terpisah, kemudian menguranginya dengan kewajiban perusahaan induk.
Dengan demikian, pemicu utama lonjakan saham ADRO bukan kenaikan harga batu bara termal, melainkan kejutan positif laporan semester I-2026: pendapatan tumbuh 16,5%, laba bersih melesat 76,8%, margin meningkat tajam, dan laba kuartal kedua menunjukkan akselerasi. Pasar tampaknya mulai memberikan penghargaan terhadap kemampuan ADRO menjaga pertumbuhan setelah transformasi bisnisnya.
Lampaui Ekspektasi
Sementara itu, analis Mandiri Sekuritas Ariyanto Kurniawan dan Vanessa Taslim dalam riset terbarunya menyebutkan bahwa kinerja laba bersih ADRO pada semester I-2026 tersebut berada di atas ekspektasi. “Laba bersih ADRO sebesar US$309 berada di atas estimasi Mandiri Sekuritas dan konsensus analis,” tulis Ariyanto Kurniawan dan Vanessa Taslim dalam risetnya.
Mandiri Sekuritas menilai bahwa peluang ADRO melanjutkan pertumbuhan kinerja yang kuat terbuka, seiring dengan kenaikan harga aluminium ke level tertinggi sepanjang masa. Potensi tersebut juga didukung oleh rencana fasilitas peleburan aluminium ADRO yang ditargetkan mulai beroperasi akhir tahun ini.
Baca Juga
Anggaran ESDM 2027 Rp 27,37 Triliun, Bahlil: 82% untuk Program Kerakyatan
“ADRO akan mendapatkan manfaat dari harga aluminium yang berada pada level tertinggi sepanjang masa, seiring smelter aluminium miliknya yang akan mulai beroperasi secara komersial pada akhir tahun ini,” tulis Ariyanto dan Vanessa.
Kinerja keuangan melampaui target hingga rencana pengoperasian smelter aluminium akhir tahun ini mendorong Mandiri Sekuritas untuk mempertahankan rekomendasi beli saham ADRO dengan target harga Rp 3.000 per saham. Adapun harga saham ADRO berada di level Rp 2.670 per saham.
Dengan mempertimbangkan prospek tersebut, Mandiri Sekuritas tetap mempertahankan rekomendasi Buy atas saham ADRO dengan target harga Rp3.000 per saham.
