Pendapatan & Laba Alamtri Resources (ADRO) 2024 Turun, Ini Penjelasan Manajemen
JAKARTA, investortrust.id – PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) membukukan penurunan laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar 15,92%, dari US$ 1,64 miliar pada 2023 menjadi US$ 1,38 miliar pada 2024. Jumlah ini setara Rp 22,29 triliun, bila menggunakan kurs Jisdor per 31 Desember 2024.
Presiden Direktur dan Chief Executive Officer PT Alamtri Resources Indonesia Tbk Garibaldi ‘Boy’ Thohir mengungkapkan, manajemen terus mempertahankan fokus pada keunggulan operasional dan pengendalian biaya di tengah kondisi makro yang dinamis.
“Dedikasi terhadap kepemimpinan dalam hal biaya telah tertanam dalam, menjadi bagian yang tak terpisahkan dari seluruh aspek operasi dan tercermin pada margin EBITDA operasional kami,” jelas Boy Thohir dalam keterangan resminya, Selasa (4/3/2025).
Penurunan laba tersebut, sejalan dengan tergerusnya pendapatan usaha perseroan, sekitar 3% (yoy) dari US$ 2,13 miliar pada 2023 menjadi US$ 2,78 miliar tahun lalu.
Operasi batu bara metalurgi dari anak usaha yakni Adaro Minerals Indonesia (ADMR) mencapai kenaikan volume produksi dan penjualan, masing-masing sebesar 30% dan 26% atau 6,63 juta ton dan 5,62 juta ton.
Baca Juga
Alamtri Resources (ADRO) Cetak Laba Bersih Rp 22,29 Triliun pada 2024
Manajemen menjelaskan, kenaikan pencapaian operasional itu diopset dengan penurunan 16% pada harga jual rata-rata (average selling price/ASP), karena harga batu bara metalurgi terus melemah.
Kondisi itu didorong oleh melemahnya sektor properti dan infrastruktur di China yang mengakibatkan fluktuasi permintaan baja, dengan demikian juga permintaan terhadap batu bara metalurgi.
“Dengan organisasi yang ramping, kami ingin bertumbuh secara berkelanjutan dan menangkap peluang pada ekonomi hijau,” sambung Boy.
Sedangkan dilihat dari laba intinya, Alamtri hanya mencatatkan penurunan 2% (yoy) menjadi US$ 648 juta tahun lalu. Laba inti merupakan keuntungan periode tersebut namun tidak termasuk komponen non-operasional setelah pajak (amortisasi properti pertambangan, penilaian pajak tahun sebelumnya, pembalikan atau penambahan provisi biaya dekomisioning).
Senada, Head of Corporate Communication Adaro Energy Indonesia Febriati Nadira menjelaskan bahwa penurunan laba inti disebabkan fluktuasi harga batu bara metalurgi.
“Namun dengan adanya kenaikan pada volume penjualan batu bara metalurgi sebesar 26% menjadi 5,62 juta ton, serta fokus pada keunggulan operasional dan pengendalian biaya maka perseroan tetap bisa menghasilkan margin EBITDA operasional sebesar 47%,” tegas dia kepada investorturt.id.

