Penertiban Tambang Ilegal Jadi Katalis Positif untuk Timah (TINS)
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Penertiban tambang timah ilegal berpotensi menjadi katalis positif bagi PT Timah Tbk (TINS) untuk meningkatkan produksi dan memperkuat rantai pasok resmi setelah aktivitas pertambangan di luar sistem tersebut selama ini menekan kinerja produsen legal.
Pemerintah menargetkan penutupan sekitar 1.000 tambang timah ilegal di Bangka Belitung, sementara Presiden Prabowo Subianto menyebut sektor pertambangan timah di luar sistem resmi dapat mencapai sekitar 80% dari produksi di wilayah tersebut.
Reuters sebelumnya mencatat aktivitas tambang ilegal telah menjadi salah satu persoalan utama dalam industri timah Indonesia. Presiden Prabowo menyebut terdapat sekitar 1.000 tambang ilegal di Bangka Belitung dan pemerintah menjalankan operasi untuk menutup jalur penyelundupan hasil tambang tersebut.
Skala aktivitas tersebut juga terlihat dari estimasi Asosiasi Eksportir Timah Indonesia atau Indonesian Tin Exporters Association. Ketua asosiasi tersebut menyebut hingga 12.000 ton timah dapat keluar secara ilegal dari Indonesia setiap tahun. Reuters juga mencatat otoritas Malaysia dan China menemukan aliran bijih serta konsentrat timah asal Indonesia dalam data impor mereka.
Baca Juga
Laba Bersih TImah (TINS) Semester I-2026 Melonjak Jadi Rp 2,71 Triliun, Lampaui Target Tahunan 169%
Persoalan tersebut sebelumnya berdampak langsung terhadap kemampuan TINS meningkatkan produksi. Reuters mencatat produksi bijih timah TINS pada semester I 2025 turun 32% secara tahunan menjadi 6.997 ton akibat persaingan dengan sektor tambang informal. Sementara produksi bijih timah TINS semester I 2026 mencapai 12.232 ton Sn, naik sekitar 75% dibandingkan 6.997 ton Sn pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Kenaikan produksi bijih kemudian diikuti peningkatan produksi logam timah menjadi 10.865 metrik ton. Penjualan logam timah juga mencapai 10.984 metrik ton, melonjak sekitar 85% dibandingkan 5.933 metrik ton pada semester I 2025.
Pemulihan volume produksi dan penjualan tersebut memberikan dampak langsung terhadap kinerja keuangan TINS. Pendapatan perseroan mencapai Rp 10,42 triliun pada semester I 2026, meningkat 147% dari Rp 4,22 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Laba bersih TINS bahkan melonjak sekitar 805% menjadi Rp 2,71 triliun dari Rp 300 miliar pada semester I 2025. Realisasi tersebut sudah mencapai sekitar 169% dari target laba bersih perseroan sepanjang 2026 sebesar Rp 1,61 triliun.
Harga rata-rata timah di London Metal Exchange atau LME pada semester I 2026 mencapai US$ 50.319 per metrik ton, naik 56,7% dibandingkan US$ 32.116 per metrik ton pada semester I 2025.
Kapitalisasi Pasar TINS Melonjak
Kapitalisasi pasar TINS yang berada di kisaran Rp 7,6 triliun pada Agustus 2025 telah meningkat menjadi sekitar Rp 28,75 triliun pada Agustus 2026. Kenaikan tersebut mencerminkan perubahan ekspektasi investor terhadap prospek perusahaan, terutama setelah produksi kembali meningkat dan harga timah global berada pada level tinggi.
Co-Founder Pasar Dana Hans Kwee mengatakan prospek TINS masih menarik dengan mempertimbangkan pertumbuhan kinerja, harga timah global, serta komitmen pemerintah dalam menertibkan tambang ilegal.
Hans masih memberikan rekomendasi Buy untuk saham TINS dengan target harga Rp 4.700 hingga Rp 5.000 per saham. Menurut dia, prospek perseroan ditopang pemulihan produksi dan potensi normalisasi pasokan melalui penertiban tambang ilegal. "Prospek TINS saat ini ditopang oleh pemulihan produksi, dan potensi normalisasi pasokan melalui penertiban tambang ilegal," ujar Hans dikutip Senin (11/8/2206).
Baca Juga
Top! Investor Asing Borong Saham Rp 1,23 Triliun, Ada BBRI hingga TINS
Dari sisi valuasi, Hans menilai saham TINS masih memiliki ruang yang menarik. Price to earnings ratio (PER), rasio yang membandingkan harga saham dengan laba per saham, berada di sekitar 4,49 kali.
Menurut dia, valuasi tersebut masih relatif murah jika dibandingkan dengan pertumbuhan penjualan dan laba bersih perseroan. Net profit margin TINS berada di sekitar 26%, sedangkan return on equity (ROE), ukuran kemampuan perusahaan menghasilkan laba dari modal pemegang saham, mencapai sekitar 51%.
Dari sisi industri, prospek harga timah dunia juga mendapat dukungan dari pertumbuhan kebutuhan elektronik, semikonduktor, dan infrastruktur kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

